View Full Version
Rabu, 22 Jul 2009

Ciri-ciri Remaja Berpotensi Kesurupan

Ada remaja yang rentan mengalami kesurupan, ada yang tidak, baik itu kesurupan massal atau personal. Sebab dan gejalanya cukup jelas dan masuk akal. Berikut testimoni korban-korbannya.

Menurut pengalaman beberapa remaja, kesurupan itu tidak terjadi begitu saja. Ada proses yang mendahuluinya, seperti dialami Nurhayati (19 tahun) dari Bekasi. Saat itu, ia mengikuti acara perpisahan sekolah di Villa Sukani Galih, Cisarua, Jawa Barat. Di areal Villa itu ada beberapa bangunan. Antara kamar tidur dan aula terpisah. Sedang kegiatannya dilaksanakan di aula yang jaraknya agak jauh dari kamar tidur.

Dalam acara itu, setiap siswa wajib memakai jas. Nah, karena jasnya ketinggalan di kamar, terpaksalah Nurhayati kembali ke kamar mengambil jas. Dari aula ke kamar tidur itu ia harus melewati satu pohon besar yang berada di tengah lapangan. Kondisinya waktu itu sedang capek sekali. Entah kenapa, tiba-tiba ia terjatuh di bawah pohon besar, dan setelah tidak sadarkan diri.

“Ketika saya terbangun, saya melihat kereta kuda yang dikendarai seorang Ratu. Ratu itu mengajak saya pergi bersamanya. Menurut teman saya, panitia acara sampai memanggil lima orang kuncen (paranormal) untuk menyadarkan saya. Tapi mereka tidak sanggup mengatasinya. Katanya, saya dirasuki jin bisu dan tuli. Namun entah kenapa, saya sadar sendiri ketika azan subuh berkumandang. Saya segera menyebut nama Allah,” cerita Nurhayati.

Rizky (17 tahun), dari Jakarta Selatan, juga pernah mengalami kesurupan di sekolah. ”Waktu itu, saya sedang bengong memandangi sebuah pohon. Seketika itu saya terkesima dengan seekor bajing. Setelah itu saya seperti tak sadarkan diri. Saya tidak bisa berbicara apa-apa, tetapi dalam kondisi itu, saya masih kenal teman saya. Pokoknya saya jadi malas sekali ngomong. Hanya diam dan bengong sampai saya tiba di rumah,” kenangnya.

Sesampai di rumah, ibunya bingung dengan perilaku Rizky dan mengiranya masuk angin. Setelah dikerok tidak ada perubahan, ibunya mulai sadar kalau Rizky kesurupan. Ibunya langsung memencet jempol kaki Rizky sampai berteriak kesakitan. Setelah itu sadarlah ia. Kata ibunya, orang yang ketumpangan setan harus dipencet jempol kakinya.

Kejadian serupa juga pernah dialami Fifi (17 tahun) dari Ciledug, Tangerang. Kata seorang ustadz yang ia tanya, faktor penyebabnya adalah bengong, pikiran kosong, dan waktu itu sedang haid. Awal kejadiannya, ia sedang bengong di halaman sekolahnya. Tiba-tiba ia mengaku melihat seekor monyet besar dan genderuwo di bekas pohon yang telah ditebang.

Seminggu setelah kejadian, ia sering merasakan hal-hal aneh. ”Saya sering merasa kepanasan jika mendengar suara azan. Biasanya, setelah mendengar azan, saya langsung teriak-teriak tidak sadarkan diri dan mencakar semua orang yang ada di sekitar saya. Termasuk orang tua saya,” katanya.

Pernah Fifi ke dokter untuk berobat. Tapi kata sang dokter, penyakitnya cuma panas biasa. Setelah itu baru ia pergi ke orang pintar. Itu pun tak langsung bisa disembuhkan. Kata orang pintar itu, setan yang memasuki raganya terlalu berat untuk dikeluarkan. ”Tetapi akhirnya setelah beberapa minggu menjalani peristiwa yang seperti itu, penyakit saya bisa sembuh juga,” tambahnya.

Dari pengalaman di atas bisa kita katakan bahwa bengong, terlalu capek, atau pikiran kosong adalah keadaan yang mengawali terjadinya kesurupan. Hasil kajian Tim Edukasia, baik terhadap literatur, pengalaman, dan wawancara, menyimpulkan kesurupan itu bisa dikatakan (sebagian besarnya) sebagai akibat, bukan sebab. Akibat dalam arti, efek dari keadaan pikiran atau fisik yang terlalu berlebihan (ekstrem). Berlebihan ini dilarang dalam agama. Kata “setan” sendiri, salah satu artinya, adalah berlebihan (ekstrem, terlalu di pinggir).

Kalau kita sedih, stress, gundah, menolak realitas, capek beraktivitas, bengong, dan lain-lain, semua itu biasa. Yang berbahaya adalah ketika sudah berlebihan (ekstrem) sampai membuat kita kehilangan kontrol-diri. Jika keadaan pikiran dan fisik yang terlalu berlebihan itu dialami oleh orang yang jiwanya masih labil, maka sangat mungkin reaksinya adalah disosiasi (kehilangan kesadaran), histeria, kesurupan atau masuknya energi negatif ke dalam dirinya.

Orang yang di sekitarnya pun rentan apabila pertahanan jiwanya lemah atau memiliki kondisi kejiwaan yang sama. Seperti kata Prof. Dr. Dadang Hawari, reaksi disosiasi bisa menimpa mereka yang jiwanya labil ditambah dengan kondisi jiwa yang tertekan. Reaksi ini akan menjadi massal karena sugesti, seperti orang yang sedang menyimak pidato seorang pembicara ulung yang dapat membuat kita bertepuk tangan bareng, tertawa, sedih, dan seterusnya.

Beberapa gejala yang bisa dijelaskan sebelum kesurupan terjadi, antara lain: kepala terasa berat, badan dan kedua kaki lemas, penglihatan kabur, badan terasa ringan, dan ngantuk. Perubahan ini biasanya masih disadari oleh subyek, tapi setelah itu tak mampu mengendalikan dirinya. Mereka biasanya melakukan sesuatu di luar kendali dirinya dan beberapa di antaranya merasakan seperti ada kekuatan di luar yang mengendalikan.

**AN. Ubaedy dan Abdul Kohar

Kutipan :

Ciri Remaja Berpotensi Kesurupan

1.        Orang yang merasa terlalu tertekan atau terlalu kosong jiwanya. Terlalu tertekan itu sama bahayanya dengan terlalu kosong (bengong) bagi pikiran manusia

2.       Terlalu tertekan fisiknya dan mentalnya sehingga terlalu capek

3.       Mereka yang pemalas dan kurang kreatif dalam menghadapi kenyataan hidup atau konflik sehingga mudah merasa menemui jalan buntu atau mudah merasa terkendala

4.       Mereka yang semangat hidupnya lemah, terlalu bergantung pada kekuatan eksternal di luar dirinya sehingga mudah dikontrol oleh kekuatan lain

5.        Mereka yang terlalu mudah cemas, khawatir, atau takut (pesimis) atau yang susah mengendalikan dan mengelola emosi negatif menjadi positif (reaktif)

6.       Mereka yang kurang latihan berpikir rasional dalam hidup (kurang berlandasan iman dan amal saleh) atau juga suka bid’ah

(Sumber : Edukasia.com)

*) Dari berbagai sumber


latestnews

View Full Version