View Full Version
Rabu, 24 May 2017

The Big Lie (Kebohongan Besar)

Oleh: Tengku M. Laksamana*
 
Saya melihat bahwa sejak dimulanya rezim ini, terjadi kebohongan-kebohongan di Indonesia secara massif, terstruktur, dan terus menerus. Teknik kebohongan ini persis dengan yang direncanakan dan dilakukan oleh NAZI Jerman dan kemudian digunakan oleh partai-partai penguasa di negeri-negeri komunis seperti di Republik Rakyat Cina, Korea Utara dan juga oleh Partai Komunis Indonesia. Teknik ini disebut "Big Lie"(kebohongan besar).
 
 
Big Lie (Kebohongan Besar) dan Kekuasaan
 
Big Lie adalah teknik propaganda yang dirancang oleh Hitler sebelum perang dunia 2. Teknik ini disebut dalam bukunya "mein kampf"(perjuanganku). Caranya adalah melepas kebohongan begitu kolosal sehingga orang-orang mengira tidak mungkin ada orang yang begitu "berani' untuk berbohong sedemikian rupa. Bahasa sederhananya adalah: "buat kebohongan yang besar, jadikan itu sederhana, terus diulang-ulang, suatu saat mereka akan percaya".
 
Kebohongan yang terus menerus tidak akan pernah bisa membuat semua orang percaya karena akan selalu ada orang-orang yang menggunakan akal pikiran dan nurani, tetapi yang jelas kebohongan terus menerus hanya akan membuat si pelaku menjadi pembohong patologis yang mendarah daging.
 
Bahkan Hitler membuat "aturan kerja" sebagai berikut, "jangan pernah membiarkan publik tenang; jangan pernah mengaku salah; jangan pernah mengaku bahwa mungkin ada kebaikan di pihak musuh; jangan pernah menerima cara lain atau alternatif lain; jangan pernah mengakui apa yang dituduh; konsentrasi pada satu musuh dalam satu waktu dan tuduh semua kesalahan yang terjadi dikarenakan dia; orang akan lebih cepat mempercayai kebohongan besar daripada kebohongan kecil; jika kamu ulangi terus menerus, cepat atau lambat orang-orang akan percaya". 
 
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Big_lie
 
 
 
Sekarang mari kita lihat keadaan di Indonesia, Big Lie diterapkan di rezim ini dengan bahasa yang lebih halus yaitu pencitraan. Tekniknya sama yaitu:
 
1. Bohong: bahwa dirinya bersumpah akan menyelesaikan jabatan gubernur, dirinya adalah sederhana, merakyat, pilihan mereka terbaik dari yang terbaik tanpa unsur politis, kelompoknya di jalan kebenaran, Indonesia menjadi negara besar, dirinya anti korupsi, koruptor pada takut sama dia, tidak ada kongkalikong, tidak akan bagi-bagi jabatan, tidak akan ikut partai yang sarang koruptor, bikin mobil nasional, buat tol laut, menciptakan 10 juta lapangan kerja, Islam dan muslimin identik dengan radikal, teroris, sumber masalah dan seterusnya...
 
2. Jangan mengaku salah: tidak mengaku salah walau terbukti menista agama, atau mobil nasional cuma bohong-bohongan, atau melanggar sumpah untuk menyelesaikan jabatan, dan seterusnya
 
3. Lempar kesalahan kepihak lain: memeriksa seorang ulama karena ada lambang palu arit di kertas uang, bahwa ketidak majuan Indonesia adalah karena agama, melempar tanggung jawab atas kenaikan harga-harga barang dan seterusnya
 
4. Jangan mengakui ada kebaikan di pihak lawan: pokoknya mereka itu radikal, intoleran, anti pancasila, anti kebhinekaan walau terbukti 7 juta orang turun demo dengan damai bahkan tidak menyisakan sampah.
 
5. Konsentrasi pada satu musuh: FPI, FPI, FPI, FPI...
 
6. Jangan membiarkan publik tenang: demo bayaran pasukan nasi kotak hokben, aksi 1000 lilin, karangan bunga, gerilya medsos, walau sang pujaan hati sudah jelas-jelas salah dan masuk penjara, dan seterusnya.
 
Isabella Blagden, seorang novelist pada tahun 1869 yang kemungkinan karyanya menginspirasi Hitler, menulis di bukunya yang berjudul The Crown of a Life, "kebohongan jika dicetak rutin maka akan menjadi kebenaran palsu(quasi truth) dan jika kebenaran model ini diulangi terus menerus maka akan menjadi bagian dari keyakinan, dogma, dan orang akan rela mati deminya".
 
Hingga akhirnya orang rela mati demi kebohongan yang dia kira adalah kebenaran. Bukankah itu sudah benar-benar terjadi sekarang?
 
Solusinya adalah membuka mata dan hati, membandingkan apa yang dikatakan seseorang dengan apa yang dikerjakan, membandingkan prinsip dan budi pekerti dari dua golongan yang bertikai, maka dari situ kita bisa melihat mana yang di atas kebenaran. [syahid/voa-islam.com]
 
 
*pelajar ilmu syar'i di kota Mukalla, Yaman

latestnews

View Full Version