View Full Version
Sabtu, 16 Sep 2017

Saudaraku di Rohingya

Sahabat VOA-Islam...

Lagi, untuk kesekian kali. Umat Islam kembali dibuat menangis darah akibat kebrutalan dan kebiadaban.

Lagi, untuk kesekian kali. Foto penyiksaan hingga pembunuhan beredar luas seperti rangkaian episode yang menunggu bagaimana kisah selanjutnya.

Dan lagi, untuk kesekian kali. Umat muslim di negeri lain tidak bisa berkutik, bahkan ketika mereka berstatuskan mayoritas. Sebatas kecaman, doa dan bantuan yang mampu tersalurkan sebagai wujud nyata kepedulian terhadap saudara.

Sungguh, eksistensi umat Islam kini bak buih di lautan. Melimpah ruah namun tak mengerti arah. Tanpa kekuatan, tanpa kekuasaan di tangan. Jauh berbeda dengan generasi sahabat ketika mati pun mereka berani demi abadinya iman dan tegaknya Islam. Jauh berbeda dengan pahlawan tempo dulu yang semangat mengobarkan jihad demi mengusir antek penjajah.

Lebih mirisnya, ternyata tidak sedikit masyarakat yang juga beridentitaskan muslim justru bersikap nyinyir. Mengatakan pembantaian di negeri seberang itu bukan karena konflik antar agama.

Entah dimana nalarnya, kalaupun memang bukan atasnama agama, apakah lantas menjadikan tindakan brutal mereka itu bisa dibenarkan? Padahal kita ini bicara NYAWA!! Alias HAK HIDUP manusia. Yang mana kita tau bahwa tidak satu manusia pun memiliki mandat untuk merampas hak itu.

Lebih dari itu, belakangan viral di media sosial tulisan 'jangan impor konflik Myanmar ke Indonesia' yang katanya ditulis oleh si antah berantah.

Ini. Inilah sebenarnya yang menyebabkan Islam enggan bangkit sebagaimana awal hijrahnya dulu. Ketika nasionalisme jauh lebih diagungkan daripada ikatan keimanan. Tanpa sadar, mereka telah dikotak-kotakkan berdasarkan wilayah hingga menyebabkan lunturnya rasa peduli. Pembantaian, separah apapun tidak akan mengusik nurani karena korban bukan bagian dari negerinya.

Jika tulisan semacam itu gencar didengungkan ditengah masyarakat, atau dikurikulum pendidikan, maka tidak menutup kemungkinan umat dan generasi penerus akan semakin sulit untuk disatukan.

Belum lagi ungkapan seorang petinggi negeri bahwa isu Rohingya sengaja digoreng untuk menjatuhkan pemerintahan.

Astaga! Bahkan dalam keadaan darurat seperti ini masih ada saja pihak yang lebih sibuk memfokuskan diri pada aspek mempertahankan eksistensi, citra baik dan kekuasaan ketimbang sisi kemanusiaan.

Tidakkah hati mereka turut teriris? Tidakkah air mata mereka turut mengucur deras menyaksikan bagaimana saudara seiman mengalami penyiksaan yang demikian hebat?

Sungguh, krisis kemanusiaan ini tidak akan menemui titik terang sebelum umat bersedia bersinergi menumpukan kekuatan. Bersinergi dalam ketaatan dan penegakan hukum Al Mudabbir. Sebagaimana perang Badar yang Allah menangkan kaum muslimin dari kaum musyrikin, sebagaimana Sultan Muhammad Al Fatih beserta pasukan yang Allah taklukkan untuknya Konstantinopel -kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa 11 abad, maka bukan perkara mustahil jika Allah akan memenangkan pula kaum muslimin di akhir zaman ini.

Bukankah 'baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur' adalah balasan yang Allah janjikan jika syariat diterapkan secara menyeluruh oleh hamba Nya? [syahid/voa-islam.com]

Kiriman Maya A, Kedamean, Gresik


latestnews

View Full Version