View Full Version
Rabu, 04 Oct 2017

Utopia

Oleh: Evi Rakhmawati Wardhani (Anggota Komunitas Ideowriter)

“Duh, masalah politik lagi. Aku ga mau ikut-ikutan ah, politik itu kotor”
“Ngapain ngurusin masalah politik? Buat makan besok aja puyeng”

Kalimat-kalimat ini tentunya tak asing di telinga kita. Sering kali kalimat-kalimat tersebut terlontar begitu saja oleh teman dan orangtua ketika menonton atau membaca berita yang berhubungan dengan politik. Munculnya komentar seperti ini tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Faktanya, memang politik yang kita saksikan sekarang itu kotor, penuh dengan tipuan, trik, uang, dsb. Hal ini muncul justru karena Islam telah dipisahkan dari pengaturan politik itu sendiri.

“Ah, kalau lagi bahas politik, jangan bawa-bawa agama. Agama itu suci, politik itu kotor...tidak pantas bersanding”

“Kalau agama dibawa ke ranah politik, pastilah yang terjadi perpecahan”

“Ini kan bukan negara Islam, kalau Islam yang dipakai dalam politik nanti jadi otoriter”

Kalimat-kalimat ini lebih sering dipakai oleh para tokoh yang pro dengan pemisahan Islam dari politik. Sama sekali tidak terbersit dalam benak mereka bahwa Islam pernah dipakai mengatur sebuah negara super power. Bukan hanya oleh bani Umayyah, bukan juga bani Utsmaniyyah yang mereka jabarkan di buku-buku sejarah sebagai rezim cinta perang, tetapi oleh Rasulullah sendiri dan para shahabat mulia yang telah mendapat jaminan surga dari Allah. Kesuksesan Rasulullah dan para sahabat –meski bukan berarti tanpa cacat-mengatur sebuah negara berlandaskan ajaran Islam seakan hanya mimpi yang tak akan pernah bisa berulang, sebuah utopia.

Namun sungguh aneh, utopia ini menjadi hal yang menakutkan bagi mereka. Harusnya, ketika hal tersebut adalah utopia, biarkan saja orang-orang yang memperjuangkannya. Toh hanya sebuah utopia, mustahil menjadi kenyataan. Mengapa tidak membiarkan orang-orang yang menyuarakan utopia ini memeluk mimpinya erat-erat. Selama tidak mengganggu, selama tidak dengan kekerasan mengapa harus pusing dengan utopia?

Sungguh mengherankan ketika para politikus yang melabeli sistem politik Islam dengan label utopia berusaha sekuat mungkin menghancurkan kelompok-kelompok pemimpi itu. Bukankah itu berarti mereka adalah orang yang paling percaya bahwa itu bukan sekedar mimpi di siang bolong, tetapi mimpi itu sangat mungkin menjadi kenyataan.

Teringat kisah kaum Quraisy yang sibuk melabeli Rasulullah dengan label-label buruk agar tidak seorang pun mempercayai ucapan Rasulullah. Namun mereka kebingungan label apa yang paling tepat disematkan pada pengacau Makkah ini. Label penyihir tak tepat karena ucapan-ucapan Muhammad tidak sama seperti mantra-mantra tukang sihir. Label penyair pun tidak bisa karena yang diucapkan Rasulullah bukanlah syair. Bagaimana dengan pembohong atau gila? Semua kabilah di Makkah tahu bahwa Muhammad tidak gila dan bukan pembohong.

Lalu apa? Mereka kebingungan. Kenapa sejatinya mereka bingung bila apa yang disampaikan oleh Muhammad adalah sebuah khayalan? Tentu banyak orang yang tak akan percaya dengan bualan itu. Tetapi mereka makin khawatir karena apa yang disampaikan Rasulullah adalah sebuah kebenaran. Kebenaran itu tak sampai menyentuh hati petinggi-petinggi kaum Quraisy karena kesombongan mereka.

Tidakkah para politikus ini belajar dari kesalahan kaum Quraisy? Setidaknya belajar sebagai seorang muslim, sudah sewajarnyalah mereka menerapkan aturan-aturan Islam dalam kehidupan bernegara. Sangat wajar bila mereka mengakui keberadaan Allah dalam sistem politik di negeri ini. Kita tentunya percaya betul, apa yang diturunkan Allah baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah merupakan petunjuk hidup di dunia yang tidak hanya perlu dibaca dan diresapi tetapi juga perlu diterapkan. Tentu kita percaya betul bahwa aturan-aturan yang Allah turunkan tidak mungkin menzhalimi pemeluk agama lain.

Sebagai sebuah sistem agung yang diturunkan langsung oleh Sang Pencipta manusia, sistem politik Islam pasti akan menyelesaikan problematika negeri ini. Yang jadi masalah, kita mau percaya atau tidak? [syahid/voa-islam.com]

Share this post..

latestnews

View Full Version