View Full Version
Senin, 06 Jun 2011

Tahun ke 8 Qahira Sa’di Menulis Surat dari Dalam Penjara

 

Jenin – PIP: Tawanan perempuan Qahira Sa’di asal Kamp Janin mengirimkan surat atas nama para tawanan perempuan Palestina di penjara Zionis. Ia mengetuk siapapun yang punya nurani, terutama para pemuda reformasi dan gerakan Arab-Palestina, untuk mengintensivkan upayanya demi menghilangkan belenggu kezaliman dan penangkapan sekaligus penyiksaan yang dialami para tawanan Palestina di dalam penjara Zionis. Sebanyak 6000 tawanan laki-laki dan perempuan saat ini mendekam dalam penjara Zionis ditengah sikap diam para pegiat HAM yang mengusung semangat demokrasi, keadilan dan kebebasan. Namun ternyata mereka absen dari perhatianya terhadap penderitaan kemanusiaan yang dialami bangsa Palestina.

Dalam suratanya yang dilansir forum tawanan Palestina, Sabtu (4/6) tawanan Sa’di yang sudah memasuki tahun ke delapan di dalam penjara Zionis mengatakan, “Dari penjara Hasharon aku mengirimkan surat ini untuk mengungkapkan kepedihan dan tersayat-sayatnya luka beberapa tahun dalam penjara dengan penuh kesabaran, jauh dari orang-orang yang dicintai, terutama anak-anak penyejuk hati. Aku kirimkan surat ini melalui mimbar kebebasan kalian kepada setiap jiwa yang bebas dan bagi siapa saja yang masih memiliki nurani.

Ini adalah surat kebebasan dan kemuliaan sekaligus harapan pertolongan dari para pemimpin yang memegang keputusan, juga kepada mereka yang mengubah peta perpolitikan dunia, para pemuda yang lantang menentang kezaliman, menuntut kebebasan dan kepada mereka yang komit dalam perlawanan.

Surat SOS

Qahira Sa’di divonis pengadilan Israel dengan penjara 3 kali seumur hidup. Pemerintah Israel juga mengeluarkan larangan kunjungan bagi dua anaknya setelah mereka berumur 16 tahun. Ia menulis surat ini, ditengah hari-hari sulit namun ada secercah kebahagiaan dengan munculnya angin perubahan dari sejumlah wilayah Arab." Tidakkah kami berhak untuk mengecup harapan kebebasan, pulang kepada keluarga dan orang-orang terkasih kami, setelah angin perubahan yang menerpa sejumlah wilayah Arab ?. tentu harapan ini bukan sesuatu yang mustahil, setelah sejumlah rezim tumbang oleh tangan-tangan revolusioner", ungkapnya.

Hancurkan Gerbang dan Belenggu

Tawanan Sa’di adalah seorang yang namanya ditolak pemerintah Israel untuk dimasukan ke dalam daftar tawanan yang akan dijadikan tebusan untuk membebaskan Giladh Shalit dalam transaksi pertukaran tawanan dengan faksi perlawanan. “Dengan surat ini, kami mengirimkan surat permohonan kepada para tentara revolusioner untuk menghancurkan pagar-pagar tahanan. Kami mohon semua pintu tawanan dan dindingnya dihancurkan. Kami membutuhkan para tentara yang dapat menyingkirkan para pendukung kezaliman, penindasan dan penghalang kebebasan. Kami memohon pertolongan kepada penguasa yang mempunyai Izzah, seperti izzahnya Mu’tashim (Nabi Muhammad SAW) saat mendengar teriakan seorang perempuan muslimah yang diganggu oleh seorang yahudi, beliau menyiapkan balatentaranya untuk menghancurkan musuh yang berani mengganggu kaum muslimahnya. Kami membutuhkan bala tentara untuk menghancurkan dinding kezaliman dan kepahitan yang mengelilingi kami.

Surat Bagi Masyarakat Internasional

Pada saat dimana para tawanan wanita Palestina mengalami situasi sulit akibat absennya sejumlah lembaga internasional atau yayasan HAM, mereka tidak lupa untuk mengetuk semua orang yang masih mempunyai nurani atas penderitaan dan kepedihan yang mereka alami akibat sikap diam dunia. “Aku menghimbau lembaga-lembaga internasional terutama yang ada kaitanya dengan masalah kemanusiaan, dimana mereka telah pura-pura lupa dengan provokasi yang dialami para tawanan wanita Palestina di dalam penjara selama beberapa decade. Mereka ibu-ibu dan wanita yang tak mendapatkan hak minimalnya sebagai tawanan. seperti hak mengasuh bayinya di dalam penjara. Kami memohon atas nama Allah, apakah penantian kami akan terus berlangsung, apakah malam-malam kami harus terus dilalui dengan penuh penyiksaan dan luka ditengah pekatnya malam gelap gulita ?.

Sakit Tanpa Akhir

Dari rincian kisah kepedihan dan penderitaan yang diselingi semangat perlawanan para tawanan Sa’di menulis, "Dari sini aku menulis huruf SOS tanda bahaya yang aku kirimkan bersamaan dengan do’a pada Allah, semoga tulisan ini bisa menyentuh setiap insan yang masih punya nurani. Saya adalah ibu dari empat anakku, saya mati ribuan kali setiap hari karena kepedihan yang aku alami saat haru berpisah dengan mereka. Lebih-lebih saat aku mendekap mereka ketika mereka bertanya, yang aku sendiri tiba bisa menjawabnya, kapan engkau pulang ibu ? kami membutuhkanmu sekali, setiap hari kami kehilanganmu, kapan engkau kembali ?..

Aku menjawab, “insya Allah besok ibu akan kembali nak !. besok ibu akan bebas dan ibu akan bersama kalian tiap hari”. Namun ternyata dinding ini masih tetap memisahkan kami. Aku menggantungkan harapanku bahwa besok akan pulang, walau sesungguhnya mereka juga tidak percaya aku akan pulang . Apakah ummat Islam sebagai sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk manusia, masih mempunyai nurani yang bisa menjawab pertanyaan anak-anaku dengan kata-kata dan realita ?

Inilah surat SOS ku yang sangat berat bagi siapa yang akan memikul amanah dan menjawabnya. Mudah-mudahan Allah menyegerakan kita kebebasan insya Allah. (asy) www.infopalestina.com


latestnews

View Full Version