View Full Version
Senin, 25 Dec 2017

Dari Toko Roti Hingga Toleransi yang Disalahpahami

Oleh: Vicky Pratica Evita Sari, Spd

Viral Toko Roti Chocolicious dianggap radikal. Toko Roti asal Makassar ini berpegang pada prinsipnya untuk tidak menulis ucapan Selamat Natal di kue yang dipesan oleh customernya. Akan tetapi, keteguhannya memegang prinsip ini dinilai radikal oleh customer dan menjadi viral di media sosial. Bahkan ada yang mengaku kesal karena Toko Roti ini menyebar isu SARA di tengah masyarakat.

Memang benar, toko Chocolicious telah melakukan klarifikasi dan menyatakan permohonan maaf kepada customer. “Dengan segala hormat pada seluruh konsumen, Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena tidak bisa menyediakan kue natal bertuliskan selamat hari natal dan sejenisnya. Bukan kami tidak menghargai anda sama sekali , Tapi ada prinsip keagamaan yang harus kami tunaikan.” Postingan resmi di Akun Instagram Toko Kue Chocolicious.

Benarkah apa yang dilakukan oleh pemilik Toko Roti Makassar ini radikal? Benarkah apa yang dilakukannya mengundang isu SARA?

TOLERANSI adalah kata sakti yang kini dijunjung tinggi untuk mendorong seluruh umat beragama untuk saling menghormati dengan cara ikut merayakan atau memberikan selamat kepada umat beragama lain yang sedang merayakan hari rayanya.

Di Indonesia biasanya isu toleransi ini muncul saat dekat dengan perayaan umat beragama selain Islam. Seperti misalnya saat dekat dengan Hari Natal maka Umat Islam baik di perkantoran, Mall, Pusat Perbelanjaan, dsb akan melihat dekorasi perayaan Natal dengan segala pernak perniknya. Bahkan tak jarang karyawan yang sebenarnya beragama Islam diwajibkan juga untuk memakai atribut khas Natal.

...atas nama demokrasi toleransi harus dijunjung tinggi meski kadang itu merugikan suatu kaum, dan anehnya toleransi ini harus dilakukan oleh setiap muslim baik saat muslim menjadi mayoritas maupun saat menjadi minoritas...

Jika di Indonesia kaum muslim yang mayoritas harus mentoleransi kaum minoritas, sebaliknya di negeri Eropa kaum muslim yang minoritas tak mudah untuk menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim. Isu Islamofobia, radikalisme, ekstrimisme, teroris sudah menjadi stigma negatif bagi muslim. Meski begitu kaum muslim tetap harus mentolerir keadaan mereka.

Sungguh disayangkan, atas nama demokrasi toleransi harus dijunjung tinggi meski kadang itu merugikan suatu kaum, dan anehnya toleransi ini harus dilakukan oleh setiap muslim baik saat muslim menjadi mayoritas maupun saat menjadi minoritas. Ya, toleransi kini dimahkotai dan disalahpahami, dianggap penting, dan dijadikan tolok ukur siapa yang radikal dengan siapa yang tidak.

Jadi bagaimana sebenarnya kedudukan toleransi di dalam Islam? Bagaimana pandangan Islam terhadap kaum nonmuslim?

Toleransi merupakan kosakata baru di dalam Islam. Sepanjang sejarah Islam, Islam tak mengenal kata toleransi. Meskipun pandangan Islam terhadap kaum nonmuslim jelas dan adil.

Sejak masa Rasulullah saw. Kaum muslimin sudah biasa hidup bersama dengan kaum nonmuslim, baik itu Nasrani, Yahudi, Majusi, dsb. Selama itu pula kaum muslim hidup berdampingan dengan damai meski tidak mengenal kata toleransi.

Sepanjang sejarah, banyak kisah yang menyatakan bagaimana Rasulullah tidak membenci tetangga Yahudinya yang selalu meludahi Rasululullah saw.

- Kisah pengemis buta yang selalu disuapi oleh Rasulullah saw hingga kemudian pengemis itu masuk Islam.

- Kisah Khalifah Umar bin Khattab yang mengutus seorang pelayan untuk melayani seorang pengemis nonmuslim.

- Kisah Khalifah Ali bin Abi Thalib yang sama kedudukannya dengan seorang prajurit Yahudi di mata hukum Islam saat memecahkan pengaduan kasus baju besi Ali yang dicuri. MaasyaAllah.

Akan tetapi dalam pergaulan antara muslim dan nonmuslim terdapat hukum-hukum yang menjadi prinsip bagi kaum muslim, diantaranya yaitu:

1. Haram bagi kaum muslim untuk mendukung kaum nonmuslim dalam ranah keagamaan/ kepercayaan. Seperti misalnya ikut dalam perayaan agama lain, mengucapkan selamat, dsb. Allah SWT berfirman:

لَـكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

lakum diinukum wa liya diin

"Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." (TQS. Al-Kafirun 109: 6)

2. Boleh saling tolong menolong antar masyarakat meski itu dengan nonmuslim terkait masalah mu'amallah, sosial, kesehatan, pendidikan (ilmu keduniaan), dsb.

Sehingga apa yang dilakukan oleh Toko Roti Chocolicious bukanlah sesuatu yang radikal, karena apa yang dilakukannya adalah berpegang teguh pada prinsip Islam. Apa yang dilakukannya seharusnya juga dilakukan oleh kaum muslim yang lain untuk tegas dalam mengambil sikap.

Jadi, sebenarnya toleransi adalah membiarkan agama lain untuk merayakan agamanya. Ingat, membiarkan saja bukan ikut merayakannya. Wallahu'alam bi ash showab. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google

 


latestnews

View Full Version