View Full Version
Senin, 23 Dec 2013

Jika Anak Tak Patuh Pada Orang Tua, Mungkin Kesalahannya Pada Mereka

Oleh: Ummu Mahira

“Mengapa anak saya sering membantah dan tidak mau melakukan apa yang saya perintahkan?” Pertanyaan ini sering diajukan orang tua. Setidaknya 1 dari 3 masalah yang ditampilkan oleh anak adalah masalah ketidakpatuhan anak pada orang tua.  

Allah berfirman dalam surat Al Israa ayat 23 : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” 

Dalam ayat tersebut dengan jelas Allah memerintahkan bahwa anak tidak boleh mengucapkan ‘ah’ pada orang tua, apalagi mengucapkan kata-kata kasar. Jadi sebagai anak harus patuh dan berkata-kata baik terhadap orang tua. Apakah anak serta merta bisa berkata-kata baik dan patuh kepada orang tua? Tentunya tidak, orang tua lah yang harus mendidik anak menjadi seperti itu. 

Mengapa anak menjadi tidak patuh? Disiplin merupakan kunci utama apakah anak akan patuh terhadap orang tua atau tidak. Terlalu longgar dalam menetapkan disiplin, dimana orang tua tidak bisa mengatakan “tidak” pada anak atau terlalu keras dalam menetapkan disiplin, dimana orang tua menuntut anak untuk “patuh secara instant” merupakan penyebab munculnya ketidakpatuhan pada diri anak. Selain itu penerapan disiplin yang tidak konsisten juga bisa membuat anak menampilkan perilaku tidak patuh, di satu waktu orang tua menetapkan aturan, di waktu lain aturan itu dilanggar, hal seperti ini membuat anak bingung mengenai apa yang sebetulnya harus dia ikuti, mana yang benar dan mana yang salah. Yang seharusnya dilakukan orang tua adalah menetapkan disiplin/kontrol yang seimbang dengan kasih sayang, penjelasan, pujian dan perhatian terhadap kebutuhan anak. Ketika anak merasakan batasan yang dibarengi dengan kasih sayang dari orang tua, kemungkinan anak untuk membantah berkurang.  

Selain disiplin, apalagi yang harus orang tua lakukan, agar anak bisa diajarkan untuk patuh?

Selain disiplin, apalagi yang harus orang tua lakukan, agar anak bisa diajarkan untuk patuh?

Orang tua harus membentuk hubungan yang dekat dengan anak, semakin dekat hubungan antara orang tua dengan anak, semakin mudah anak mengikuti arahan orang tua. Ibaratnya, ketika berteman dekat dengan seseorang, tentunya kita ingin membuat teman kita senang. Mungkin karena kesibukan orang tua, waktu untuk membangun hubungan yang dekat dengan anak menjadi berkurang. Namun ini bisa disiasati, misalnya pada waktu malam mau tidur, orang tua bisa menyempatkan waktu untuk mendengarkan cerita anak mengenai apa saja yang ia alami pada hari itu.  

Responsif terhadap kebutuhan anak. Semakin peka orang tua terhadap kebutuhan anak, semakin besar kemungkinan anak akan patuh terhadap orang tua. Ini dikenal dengan istilah “Hukum Reciprocity”. Jika orang tua tidak peka terhadap kebutuhan anak, semakin kecil juga kemungkinan anak mau mengikuti perintah orang tua.  

Buatlah perintah yang jelas dan spesifik. Anak harus tahu apa saja yang harus ia lakukan dan kapan itu harus dilakukan. Kadang-kadang orang tua memberi perintah yang tidak jelas seperti “Bereskan kamarmu”, anak tentu bingung yang dimaksud membereskan kamar itu seperti apa, apakah yang dimaksud orang tua ‘beres’ itu sama dengan pengertian ‘beres’ menurut anak? Kan belum tentu sama, akhirnya ketika hasil pekerjaan anak tidak sesuai harapan orang tua, orang tua mengkritik anak dan mengatakan anak sulit diatur. Tapi kalau orang tua mengatakan dengan jelas seperti “Rapikan tempat tidur dan simpan mainan pada tempatnya”. Tentunya dengan perintah yang lebih spesifik, anak tahu dengan jelas apa-apa saja yang harus ia lakukan.  

Jika anak melanggar aturan yang telah ditetapkan, ingatkan secara impersonal. Misalnya aturan yang ditetapkan adalah dilarang bermain bola di dalam rumah, kemudian anak melakukannya. Lebih baik orang tua mengatakan “aturannya adalah tidak boleh main bola di dalam rumah” daripada mengatakan “saya tidak ingin kamu bermain bola di dalam rumah”. Jadi yang anak ingat bukan ketidaksenangan orang tua dengan apa yang ia lakukan tapi ia ingat akan aturan yang telah ditetapkan. 

Orang tua juga harus memberikan perintah dengan perkataan positif, misalnya ketika anak berteriak-teriak di dalam rumah, dari pada mengatakan “jangan berteriak” lebih bagus mengatakan “bicaralah dengan suara pelan, nak”.  

Orang tua juga harus memberikan perintah dengan perkataan positif, misalnya ketika anak berteriak-teriak di dalam rumah, dari pada mengatakan “jangan berteriak” lebih bagus mengatakan “bicaralah dengan suara pelan, nak”.  

Ketika mengingatkan anak, orang tua juga harus memperhatikan kata-kata yang diucapkan. Jangan berkata kasar dan menyakiti anak. Hindari kata-kata seperti : “mengapa kamu begitu malas, bersihkan kamarmu segera” atau “Masa begini saja tidak bisa? Apa sih yang kamu bisa lakukan dengan benar?”. Kata-kata seperti itu, justru akan membuat anak menampilkan sikap oposisi dan tidak mau mengikuti yang dikatakan orang tua. Ucapkanlah perintah secara tenang (tidak dengan suara keras) dan gunakan kata-kata yang baik, tidak ada satu orang pun yang senang mendengar kata-kata yang menyakitkan, apalagi anak-anak. Dengan berkata baik dan tidak kasar, orang tua sedang memberikan contoh pada anak, sehingga anak pun belajar untuk selalu berkata baik.  

Berikanlah kesempatan pada anak untuk memilih. Orang tua bisa menetapkan dua pilihan seperti: “kamu ingin tidur setelah selesai menonton TV atau kamu mau masuk kamar tidur sekarang sehingga ibu bisa membacakan cerita untukmu nak?”. Dengan cara seperti ini, anak tidak punya kesempatan untuk mengatakan “Ya” atau “Tidak”, tapi anak harus memilih salah satu dengan sukarela.  

Untuk anak usia sekolah, pakailah sistem “reinforcement positif”. Kebanyakan orang tua ketika menghadapi anak yang tidak patuh adalah terus menerus mengeluhkan perilaku tidak patuh yang ditampilkan anak, hasilnya adalah anak semakin menunjukan perilaku tidak patuh terhadap orang tua. Menurut sistem “reinforcement positif” ini, dari pada orang tua terpokus pada perilaku tidak patuh yang ditampilkan anak, lebih baik orang tua fokus pada perilaku patuh yang ditampilkan anak. Jadi setiap kali anak menampilkan perilaku patuh, orang tua memberikan “reward” berupa pujian, atau pengumpulan point. Buatlah daftar aturan yang harus diikuti anak setiap hari, misalnya: anak harus bangun pada pukul 04.30, kemudian shalat shubuh, anak menghabiskan sarapan dalam waktu maksimal 30 menit, mengerjakan PR sepulang sekolah, dll. Untuk setiap aturan yang dipatuhi, anak mendapatkan satu point. Jumlahkan point yang didapat anak perhari, kemudian hitung total point dalam 1 minggu. Jika anak mengumpulkan sekian point dalam satu minggu, anak akan mendapatkan hadiah, misalnya anak dapat tambahan uang untuk ditabung atau diajak pergi ke suatu tempat. Dengan cara seperti ini, anak lebih ingin mengulang perilaku patuhnya, karena ia merasakan imbalan yang menyenangkan dari kepatuhannya.  

Untuk anak yang sudah menginjak remaja, kemungkinan sistem perhitungan point tidak akan berjalan efektif. Buatlah kontrak secara tertulis yang berisi kesepakatan antara anak dan orang tua, anak menuliskan bahwa ia akan mengurangi perilaku tidak patuh, orang tua menuliskan, jika anak bisa patuh, hal apa yang akan diberikan kepada anak. Jika perlu, kontrak tertulis ini ditandatangai orang tua dan anak.  

Ummi dan Abi, memang tidak mudah menjalankan peran sebagai orang tua, apalagi kita tidak pernah mendapatkan sekolah formal mengenai bagaimana cara mendidik anak. Mudah-mudahan dengan menerapkan cara-cara tersebut, tugas kita untuk mendidik anak, terutama anak yang hormat kepada orang tua menjadi lebih mudah. Amin.  


latestnews

View Full Version