View Full Version
Sabtu, 30 Aug 2014

Gejolak Cemburu di Bilik Cinta Rosululloh

Sahabat Muslimah Voa Islam...

Rosululloh Sholallohu Alaihi Wasallam telah bersabda: "Sesungguhnya Allah cemburu, orang beriman cemburu, dan cemburuNya Allah jika seorang Mu'min melakukan apa yang Allah haramkan atasnya" (HR. Imam Ahmad, al-Bukhari dan Muslim).

Cemburu merupakan suatu rasa atau ekspresi yang akan selalu hadir mengiringi rasa cinta yang ada. Karena cinta hukumnya wajib bagi seorang muslim, maka secara otomatis rasa cemburu pun hukumnya mengikuti rasa cinta tersebut.

Adakah rasa cemburu pada istri Rosululloh?

Perlu kita fahami bersama bahwa para istri Rosululloh juga manusia biasa, namun karena mereka semua selalu berada di samping Rosululloh maka mereka semua amat sangat terjaga dari segala aib dan kesalahan. Sifat manusiawi para istri Rosululloh dalam memendam rasa cemburu diantara mereka tercermin dari beberapa hadits di bawah ini.

Aisyah berkata: “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita kecuali Khadijah?”. Nabi menjawab, “Dia beriman kepadaku ketika semua manusia mengkufuriku, dia membenarkan aku ketika semua manusia mendustakanku, dia mendukungku dengan hartanya ketika manusia menahannya dariku, dan Allah memberi rezeki kepadaku berupa anak darinya ketika aku tidak mendapatkan anak dari istri-istriku yang lain” (HR Ahmad).

Ketika Nabi berada di rumah seorang istrinya, istri beliau yang lain mengirimkan sepiring makanan untuknya. Istrinyatersebut segera memukul tangan pelayan yang membawa piring makanan hingga terjatuh. Nabi pun mengumpulkan pecahan piring dan makanan yang berserakan seraya berkata, “Ibu kalian sedang cemburu”. Beliau lalu mengganti dengan piring yang masih utuh milik istri yang memecahkannya, sementara piring yang pecah disimpan. (HR Al Bukhari).

Dari dua hadits di atas sangatlah jelas bagaimana para istri Rosululloh mengekspresikan rasa cemburu diantara mereka. Rasa cemburu tetap ada di dada, rasa cemburu terbaca dalam perilaku, namun rasa cemburu tidak menjadi hiasan bibir ataupun terwujud dalam fisik. Kita tidak akan menemukan riwayat para istri Rosululloh saling mencemooh karena saling cemburu. Kita tidak akan menemukan riwayat para istri Rosululloh saling adu jotos karena berebutan pelukan Rosululloh.

Subhanalloh...


Islam memposisikan cemburu termasuk salah satu fitrah manusiawi. Namun Islam mengkondisikan rasa cemburu yang muncul supaya tetap bacakan dengan ilmu yang jelas dan dilandasi akhlaqul karimah.

Bagaimana Rosululloh menanggapi rasa cemburu para istrinya?

Nabi sebagai seorang suami memaklumi rasa cemburu para istrinya serta tidak menghukumnya selama dalam batas kewajaran. “Ibu kalian sedang cemburu”. Kalimat yang pendek namun jelas sebagai ekspresi serta respon Rosululloh disaat istrinya cemburu. Dengan kalimat yang sederhana itu cukuplah sebagai bukti bahwa Rosululloh memahami apa yang melatarbelakangi atas ekspresi yang dilakukan istrinya. Dengan kalimat yang sederhana itu pun memperjelas sebagai instruksi kepada istri yang lain supaya tidak memperpanjang masalah tersebut.

Namun apabila rasa cemburu tersebut sudah sudah melampaui batas atau menimbulkan dosa, mungkin karena mengarah pada saling menjelekkan ataupun menjadi saling menggunjing atau menggibah, maka Rosululloh pun mengambil posisi tegas namun lembut tanpa menjelekkan istrinya ataupun tanpa condong pada salah satunya.

Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, cukup bagimu Shafiyyah, dia itu begini dan begitu (pendek)”. Rasulullah berkata: “Sungguh engkau telah mengucapkan satu kata, yang seandainya dicampur dengan air laut, niscaya akan dapat mencemarinya” (HR Abu Dawud).

Ketika mendapatkan Shafiyyah menangis Nabi bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?." Shafiyyah menjawab, “Hafshah mencelaku dengan mengatakan aku putri Yahudi”. Nabi berkata menghiburnya, “Sesungguhnya engkau adalah putri seorang nabi, pamanmu adalah seorang nabi, dan engkau adalah istri seorang nabi. Lalu bagaimana dia membanggakan dirinya terhadapmu?”. Kemudian beliau menasihati, “Bertakwalah kepada Allah, wahai Hafshah” (HR An Nasa’i).

Subhanalloh...

Disinilah peran terpenting bagi suami dikala para istri saling cemburu. Mampu memposisikan diri pada posisi yang tepat. Mampu merekam serta memberikan respon terbaik, sehingga diantara istri tidak berlebihan dalam mengekspresikan rasa cemburu yang ada. Namun yang terpenting yaitu sikap yang meneduhkan hati serta membimbing istri berfikir positif atas segala kejadian yang ada.

Sebenarnya apa sih penyebab rasa cemburu itu?

Dikala rasa cemburu itu tetap pada koredor syar'i yang ada serta berjalan seiring dengan ilmu yang benar, sesungguhnya itu dimaklumi dalam tinjauan syar'i. Namun jika sudah menjadi cemburu buta, ini disebabkan karena lemahnya iman yang kalahnya syari'at dari nafsu yang ada. Dengan lemahnya iman dan kalahnya syari'at, maka syaitan pun mulai bermain dengan memberikan profokasi yang akan menjadikan hati tidak tenang dan menanamkan benih amarah.

Sahabat Muslimah Voa Islam...

Semoga kita bisa belajar dari kehidupan para istri Rosululloh dalam menyikapi rasa cemburu yang ada.

[ukhwatuna/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version