View Full Version
Senin, 08 Sep 2014

Kisah Mualaf (2 - Habis) : Indahnya Berislam Ini, Aku Genggam Selamanya

Sahabat Voa-Islam yang Dirahmati Allah SWT...

Aku mulai berteman dengan para muslimah di komunitas. Dalam waktu singkat aku merasa akrab dengan mereka. Membayangkan bahwa ada banyak muslimah di luar sana yang bahkan tak mengenalku tapi menghormati dan mencintaiku sebagaimana saudaranya sendiri. “Wow...aku punya keluarga sekarang, satu keluarga besar.” Rasanya begitu membuncah bahagia ketika mengetahui ada saudara yang peduli dengan kita dan ingin yang terbaik untuk kita. Kapan pun aku butuh penjelasan tentang Islam, mereka selalu ada. Begitu juga ketika aku butuh seseorang untuk teman bicara, selalu ada teman untuk berbagi dan siap memotivasi agar imanku semakin naik. Masya Allah, betapa beruntungnya aku bertemu dengan iman dan Islam ini.

Sejak hari pertama mengikrarkan syahadat, aku pun langsung memakai hijab di hari itu juga. Aku merasa merdeka! Aku tak perlu lagi pusing tentang fashion model baju terbaru. Aku juga tak perlu memikirkan pendapat orang tentangku. Aku benar-benar merasa merdeka, bebas dan lepas. Hijab mengubahku. Hijab membuatku tahu dan memiliki rasa malu, sekaligus mengingatkanku bahwa ada tanggung jawab yang harus kuemban seiring hijab ini kukenakan. Alhamdulillah, Allahu Akbar!

Satu hari aku berjalan melewati kerumunan remaja. Ternyata mereka semua memilih minggir untuk memberiku kesempatan lewat dengan leluasa. Yang awalnya mengobrol langsung berhenti, yang sedang asyik merokok memilih menyembunyikan rokoknya ketika melihatku lewat. Kulanjutkan langkah menuju pemberhentian bis dan ada laki-laki yang membukakan pintu bis untukku dengan tersenyum ramah. Orang-orang begitu menghormatiku. Setelah semua perjuanganku dalam berislam, syukurlah aku bisa menjadi sosok yang lebih baik. Beberapa bulan kemudian aku bisa berdoa dalam bahasa Arab. Di saat inilah aku merasa bahwa hubunganku dengan Allah begitu dekat. Seluruh kesedihan, kecemasan dan rasa terluka sejak masa kecil seolah hilang begitu saja. Hatiku sembuh dengan tiba-tiba. Semua ini terjadi karena cinta dan rasa memaaafkan yang terus aku upayakan.

Sering aku teringat pada keluargaku. Betapa inginnya aku mereka juga merasakan kebahagiaan seperti yang kurasakan agar tak ada lagi kesedihan dan rasa amarah seperti sebelumnya. Tapi sungguh, Allah tak akan mengubah nasib satu kaum kecuali kaum itu mengubah nasibnya sendiri. Ini adalah salah satu dari ayat Al-Quran yang begitu pas untuk kondisiku dan keluargaku. Ya...aku harus mulai menyampaikan indahnya Islam ini pada keluargaku. Aku ingin mereka pun merasakan kedamaian dan keindahan Islam seperti yang kurasakan. Memang tidak mudah tapi aku harus memulainya.

Awalnya aku memberikan buku keislaman pada saudara-saudaraku dan ibuku. Kusampaikan ajaran Islam dengan cara yang makruf dan penuh kelembutan serta tentu saja dengan perbuatan nyata dari sikapku sehari-hari. Alhamdulillah, ibuku mulai memberi respon positif dengan bertanya tentang beberapa hal dan meminta nasehatku. Satu hari, adikku yang paling kecil memintaku untuk memakaikan hijab untuknya. Wah...tentu saja dengan senang hati aku melakukannya tanpa ragu. Setelah memakai hijab, dia pun berdiri di depan kaca sambil berujar, “Kira-kira bisa nggak aku seperti kamu?” Saat itu juga airmata bahagia langsung berderai. Rasa dan kalimat yang sama itu juga pernah kulontarkan ketika aku membandingkan diri dengan mereka yang terlahir sebagai muslim. Saat itu, rasanya aku tak mungkin bisa seperti mereka. Dan ternyata itu semua tidak benar. Sekarang aku menjadi bagian dari saudara-saudaraku yang seiman itu.

Dengan penuh senyuman, kuyakinkan adik kecilku ini. “Insya Allah, dengan izin Allah engkau bisa sepertiku asal kamu mau serius dengan keputusanmu ini.” Dia pun melihatku dengan mata berbinar-binar. Aku yakin sebelumnya dia belum pernah menerima kata-kata yang begitu memotivasi seperti yang kukatakan padanya saat itu. Alhamdulillah keluargaku semakin berubah menjadi lebih baik dan aku pun terus melakukan dakwah pada mereka. Keberadaanku membawa perubahan positif dalam kehidupan mereka. Mereka mulai tertarik pada Islam meskipun belum sepenuhnya yakin untuk memeluk Islam. Doakan semoga keluargaku segera mendapat hidayah ya.

Keimananku juga semakin kokoh pada Dien Islam dan pada Allah. Memang sih ada kalanya imanku naik dan turun karena itu semua merupakan proses yang harus dilalui. Tapi intinya aku sudah menemukan jalanku dan tak akan pernah menyerah untuk menapaki jalan Islam ini.

Aku berharap semua mualaf di luar sana yang menbaca kisahku ini memunyai harapan dan keyakinan yang sama. Kita tidak pernah sendiri karena selalu ada Allah yang menemani. Bahkan dalam kondisi keterpurukan yang sangat, selalu ada harapan untuk bangkit. Bukan tidak mungkin orang terbaik itu muncul dari satu tempat yang sangat kelam sebagaimana diriku ini. Kita semua memunyai kesempatan untuk meraih kesuksesan. Tak peduli siapa pun diri kita, dari mana kita berasal, selama ada iman dalam diri Allah pasti akan menunjukkan jalan itu. Mungkin perjuangan mualaf untuk mempertahankan keimanannya jauh lebih berat daripada mereka yang terlahir sebagai muslim. Tapi yakinlah, Allah tidak akan menyia-nyiakan perjuangan hambaNya. Semakin berat perjuangan ini, semakin besar pula pahalanya insya Allah.

Tak ada yang tak mungkin bagi Allah. Yang penting adalah keteguhan dan kesungguhan kita untuk meraih cita-cita tersebut. Allah bisa mengubah kondisi kita dengan begitu luar biasa. Dan tak ada satu detik pun yang kulalui tanpa rasa syukur padaNya. Di titik ini, aku bersyukur atas seluruh rasa sakit, kecewa, terluka dan sedih yang pernah kualami sebelumnya karena tanpa itu semua aku tak akan menjadi diriku yang sekarang ini. Alhamdulillah.

Sumber: thedeenshow.com

[Diterjemahkan oleh riafariana/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version