View Full Version
Sabtu, 21 Oct 2017

Emansipasi, Haruskah Dituruti?

Oleh: Puji Astutik*

Dalam perjalanan sejarah peradaban manusia, wanita memiliki masa kelam dan tersudutkan. Kehidupan wanita Eropa pada masa kegelapan mendapatkan perlukuan layaknya budak pemenuh nafsu laki-laki hingga menjadi tumbal bagi sang dewa. Demikian pula wanita-wanita Arab di masa Jahiliyah diperlakukan layaknya makhluk menjijikkan yang kehadirannya harus dicegah. Sehingga banyak wanita waktu itu yang hanya berkesempatan menghirup udara dunia dalam hitungan sesaat. Adapun di negeri ini, dengan adat ketimuran yang kental, wanita diidentikkan dengan sumur, kasur dan dapur yang nihil dari pendidikan.

Ketika kebangkitan pemikiran tumbuh di Eropa, wanita bak mendapatkan angin kebebasan. Kelompok feminisme mengusung ide emansipasi perempuan dengan kesetaraan gender di seluruh ranah publik. Wanita harus keluar dari perbudakan, perlakuan tidak adil dan berkiprah di panggung ekonomi, sosial, politik, hukum dan lainnya. Dengan penghasilan yang diraihnya wanita akan berdaya dan tidak dipandang sebelah mata.

Akhirnya, kemuliaan seorang wanita diukur dari kemandirian ekonominya. Inilah pandangan materialis sesuai ideologi yang menelurkannya; sekulerisme-kapitalisme. Sama juga dengan teori dasar Marxisme yang memandang kedudukan manusia tergantung kemandiriannya dalam menafkahi dirinya sendiri.

Berbeda halnya ketika cahaya Islam menyinari bumi Arab. Wanita yang awalnya tidak diharapkan kelahirannya dan diperlakukan dengan semena mena, berubah 180 derajat. Wanita menjadi sosok yang mulia dan dihormati. Islam memberikan hak dan kewajiban sesuai dengan fitrah kewanitaannya. Islam pun memberikan beban nafkah kepada laki-laki dan mubah wanita bekerja. Pandangan Islam ini menjadikan ukuran kemuliaan seorang wanita dilihat dari ketakwaannya bukan kemandirian finansialnya.

Perempuan Antara Eksploitasi, Aktualisasi dan Tuntutan Ekonomi

Wanita di era ini dalam satu arus pemikiran emansipasi dan kesetaraan gender. Wanita terseret dalam ranah publik yang sedemikian jauh. Telah kita jumpai presiden wanita, menteri luar negeri wanita, gubernur wanita, guru wanita, dosen wanita, dokter wanita, tentara wanita, polisi wanita, pilot wanita, kondektur wanita, tukang becak wanita, kuli batu wanita, ojek wanita, sepak bola wanita, petinju wanita, hingga wanita pekerja seksual. Semua pekerjaan ini berkompensasi uang.  

...Kemuliaan wanita dilihat dari ketakwaannya. Wanita yang bertakwa bukan berarti wanita yang berdiam diri di rumah di atas sajadah, atau menjauhi berhubungan dengan manusia...

Ada pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya itu adalah bentuk eksploitasi fisik, harga diri dan juga kehormatan wanita, seperti menjadi pekerja seksual, foto model, ataupun artis blue film. Namun pekerjaan itu dipilih dengan sengaja oleh sebagian wanita. Tuntutan ekonomi, enggan bekerja keras dan gaya hidup glamor sering menjadi alasan. Akhirnya konsekuensi berat karena melanggar agama diabaikan, merasa senang ketika keindahan tubuhnya dinikmati para laki-laki walaupun itu sebenarnya menjatuhkan kehormatan dan harga dirinya.

Di sisi lain ada pekerjaan halal yang menguras tenaga wanita jika itu dipilih seperti; menjadi kondektur, kuli batu, kuli bangunan, penarik becak, TKW dan lain-lain. Pekerjaan-pekerjaan berat ini tidak seharusnya dilakukan wanita.  Namun himpitan ekonomi dan asa untuk membantu ekonomi keluarga mendorong mereka untuk melakukannya walau berkonsekuensi tugas utama sebagai ibu dan pengurus rumah tangga terabaikan.

Sedangkan para wanita yang memiliki kecerdasan akal mengaktualisasikan potensinya dalam berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan, ekonomi, hingga terjun ke dunia politik. Mereka adalah wanita karier yang lalu lalang di dunia publik. Kehadiran mereka memberikan kontribusi pemikiran dalam perkembangan dan kemajuan umat. 

Menjadi Wanita yang Mulia

Kemuliaan wanita dilihat dari ketakwaannya. Wanita yang bertakwa bukan berarti wanita yang berdiam diri di rumah di atas sajadah, atau menjauhi berhubungan dengan manusia. Muslimah salihah adalah ia yang mendedikasikan dirinya untuk ilmu, amal, ibadah dan berkontribusi untuk umat.

Banyak sekali teladan muslimah dimasa Nabi SAW. Mulai dari para istri Nabi SAW hingga para sahabiyah. Ada sahabiyah Asy Syifa binti Abdullah bin Abdu Syams Al Qurasyiyah al Adawiyah yang memiliki kccerdasan dalam bidang kedokteran dan menguasai ruqyah. Pengobatan yang ia lakukan telah mendapatkan pengakuan dari Nabi SAW. Sehingga ia pun dikenal banyak kalangan sebagai tabibah, sekaligus hamba Allah SWT yang taat.

Keberadaan Asy-Syifa binti Abdullah ini menjadi bukti bahwa Islam tidak mengurung perempuan dalam rumahnya tetapi bukan berarti pula membebaskannya. Islam menyupport para muslimah untuk berkontribusi pada umat dengan tidak meninggalkan kewajiban utamanya sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Kiprahnya di ranah publik harus memperhatikan hukum syara’ yang harus ditaatinya. Sehingga pekerjaan yang ia pilih bisa menjadi ladang pahala sekaligus berkontribusi memanjukan negeri dan umat ini. Wallahua’lam bi ash showab. (riafariana/voa-islam.com)

*Guru Madrasah Diniyah al Muslimun Pogalan Trenggalek

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version