View Full Version
Kamis, 07 Dec 2017

Hijabmu Bukti Keimananmu

SAAT berjalan di supermarket tiba-tiba seorang SPG menawariku sambil menujukkan sekotak susu, “Bu, ini dengan varian rasa terbaru, lebih bersahabat untuk ibu hamil.” Aku hanya mengucapkan terima terima kasih menolak tawarannya. Kejadian satu dekade lalu membuatku senyum-senyum sendiri kala mengingatinya. Itu bukan pertama kali aku mengalaminya. Saat ada pameran, seorang penjaga stand pun menyeletuk, “mbak sedang hamil ya?” Dan aku pun hanya bisa nyengir kuda. Panggilan Ibu, bumil, dan sejenisnya kerap ditujukan padaku, padahal saat itu aku masih mahasiswi tingkat dua.

Aku tak heran satu dekade yang lalu muslimah berhijab rapi masih merupakan pemandangan yang masih asing. Apalagi muslimah dengan gamis terhulur dan kerudung menjulur menjadi hal yang lucu. Berbeda dengan hari ini, hijab syari menjadi musim. Komunitas-komunitas hijaber bermunculan bak jamur di musim penghujan. Alhamdulillah patut disyukuri busana syari menjadi trend saat ini.

Di tengah riuhnya muslimah berhijab syari, wanita yang memakai rok mini masih dijumpai. Ada banyak tantangan yang menghadang. Maka, semangat saja tak cukup sebagai modal berbusana menutup aurat. Apalagi hanya ikut-ikutan kawan agar tak ketinggalan jaman. Selain niat ikhlas, ilmu mesti dimiliki dalam beramal ihsan.

Shahabat, bukalah ayat-ayat cinta Allah yang disampaikan pada Rasulullah berikut

Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka!” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [TQS. Al-Ahzab/33:59]

Betapa cintanya Allah kepada kita para muslimah, perintah menggunakan jilbab salah satu bentuk penjagaan kehormatan wanita. Ini pun menjadi sebuah identitas seorang muslimah.

Lewat lisan Rasulullah sampailah kepada kita seberapa batasan aurat yang mesti ditutup sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al-Baihaqi

Wahai Asma! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan).

Shahabat, cobalah kita merenungkan sebuah ayat lain dari firman Allah Tuhan Pencipta manusia termasuk kita para wanita.

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (khimar) ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [TQS An-Nur/24:31]

Shahabat, sekarang mari kita menapaki sejarah empat belas abad silam bagaimana sikap para shahabiyah menjawab seruan Allah tersebut.

Imam Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, dari Shafiyah – yang berkata – : “Aku menyebut-nyebut perempuan Quraisy dan kelebihan mereka di sisi ‘Aisyah. Lalu ‘Aisyah berkata: Sungguh perempuan Quraisy memeliki kelebihan. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah melihat kaum perempuan yang lebih membenarkan dan mengimani Kitab Allah melebihi kaum perempuan Anshar”. Sungguh telah diturunkan (ayat) dalam surat An-Nur: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (khimar) ke dadanya. (TQS. An-Nur [24]:31). Lalu kaum laki-laki itu (para shahabat) langsung pulang ke rumah mereka masing-masing dan membacakan ayat itu kepada keluarga mereka apa yang telah diturunkan oleh Allah. Tak satupun dari kaum perempuan itu kecuali segera mengambil kain sarungnya (dan menggunakannya sebagai kerudung). Sehingga, pada saat shalat shubuh mereka semua telah mengenakan penutup kepala, seakan di atas kepala mereka terdapat seekor burung gagak. (HR. Abu Hatim)

Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Aisyah, dia berkata: Semoga Allah merahmati kaum perempuan Muhajirin yang pertama. Ketika Allah menurunkan firman-Nya (Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya), mereka segera menyobek kain muruth (semacam sarung) dan mereka gunakan sebagai kerudung.

Dalam satu riwayat, dikatakan, Mereka mengambil kain sarung mereka, lalu mereka sobek dari arah pinggirnya, dan mereka gunakan sebagai kerudung. (HR. al-Bukhari).

Sahabat, maa syaa Allah luar biasa respon para Shahabiyah kala itu hingga Ummul Mukminin ‘Aisyah, memberikan pujiannya. Lantas bagaimana kita wanita muslimah hari ini? Semoga kata “nanti, besok kalau saya sudah siap, besok kalau kalau kalau” dan seribu alasan lain untuk menunda diri tak terucapkan dari lisan dan qalbu kita. Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk bersegera menutupkan kain kerudung (khimar) dan jilbab dengan sempurna sebagai bukti keimanan kita pada Allah Dzat Yang Menggenggam jiwa-jiwa kita. Aamiin yaa Rabbal ‘Alamiin.

 

Esti Bunda Taqiy, S.ST

Seorang ibu dan anggota Komunitas Belajar Menulis Revowriter

Share this post..

latestnews

View Full Version