View Full Version
Jum'at, 09 Mar 2018

Muslimah Pasca Menikah, Antara Dakwah dan Keluarga


Oleh: Asma Ridha  (Member Revowriter Aceh)

Mengemban amanah dalam melakukan dakwah islam adalah tugas mulia. Baik bagi setiap muslim dan muslimah, karena Allah swt telah mewajibkan tugas mulia ini.  Sebaagimana Allah swt berfirman :

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

:Artinya
"Kamu adalah umat yag terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik lagi bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik". (Q.S : Al-Imran : 110)

Dakwah adalah aktivitas amar ma'ruf nahi mungkar (Menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar). Sepatutnya, seorang muslim menjalankan aktivitas ini.  Dan untuk dapat mengamalkannya maka ada tuntutan untuk memahami ilmu agama. Maka Allah swt memerintahkan umat muslim untuk menuntut ilmu sebagaimana dalam firman- Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

"Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis, "maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Q.S : Al-Mujadalah : 11)

Kewajiban menuntut ilmu dan berdakwah menjadi dua hal yang sangat dilema bagi sebagian muslimah yang sudah menikah. Tak jarang banyak para muslimah setelah menikah keinginan untuk menuntut ilmu dan apa lagi berdakwah menjadi kendur, menipis semangatnya.  Dan bahkan tak jarang dengan alasan sibuk, hari keluarga dan alasan-alasan lainnya tidak lagi menjalankan aktivitas mulia ini.

Bagaimana tidak,  kondisi yang sebelumnya hanya mengurus diri setelah menjadi istri harus mengurus banyak hal dalam rumah tangganya. Konon lagi menjadi Ibu, yang amanah semakin terasa berat dirasa.  Dan tak jarang,  pada akhirnya menuntut ilmu agama menjadi terkendala apatah lagi mengemban amanah sebagai pengemban dakwah.

Berikut beberapa treatmen yang dapat dilakukan agar keharmonisan antara keluarga dan dakwah tidak terabaikan.

1. Komunikasikan dengan ma'ruf kepada keluarga.

Ini adalah perkara yang penting yang harus dilakukan oleh muslimah ketika telah berkeluarga. Terutama izin kepada suami dalam menjalankan aktivitas keseharianya yang menuntut waktu sedikit lama katika keluar rumah.

Semisal menuntut ilmu dengan menghadiri forum majlis ta'lim.  Atau sebagai pengemban dakwah yang menuntut harus mengisi forum majlis ta'lim yang ada. Karena menuntut ilmu dan menyampaikan Islam perkara ibadah yang telah Allah swt wajibkan.  Namun tetap kewajiban istri untuk meminta izin dan mengkomunilasikan kepada suami.

Sehingga dengan komunikasi yang baik, tidak ada pelarangan dari suami dalam memjalankan aktivitas sebagai hamba Allah.  Dan tentunya suami yang bijak dan sholeh justru seharusnya memotivasi isteri mereka untuk menghadirinya dan bukan melarangnya.

2. Fahamkan keluarga akan wajibnya menuntut ilmu dan berdakwah.

Tak jarang,  konflik antar suami dan isteri terjadi hanya karena faktor mengaji dan berdakwah. Belum lagi jika suami dan isteri tidak pada pemahaman yang sama.  Suami bukan aktivis, sementara isteri dari sebelum menikah sudah menjadi aktivis dan aktif mengisi forum-forum pengajian. 

Maka disinilah peran isteri untuk mendakwahkan keluarga dan memahamkan urgensinya menuntut ilmu dan berdalwah di hadapan Allah swt.  Termasuk memahamkan kepada anak, sekaligus mendidik mereka untuk memahami pentingnya menuntut ilmu agama (tafaquh fiddin).

3. Memahami kaidah aulawiyat (skala prioritas).

Kaidah aulawiyat adalah suatu ilmu dan keahlian yang dengannya seseorang bisa meletakkan segala sesuatu pada posisinya sesuai urutan secara proporsional, baik berupa hukum, norma maupun amal perbuatan dan lain-lain, berdasarkan timbangan-timbangan syar’i yang benar. Sehingga tidak mengakhirkan yang seharusnya didahulukan ataupun mendahulukan yang seharusnya diakhirkan, dan tidak mengecilkan perkara yang besar ataupun membesarkan perkara yang kecil. 

Maka sebagai isteri ketika hendak keluar rumah dalam rangka menjalankan aktivitas menuntut ilmu agama ataupun berdakwah dipastikan rumah dalam keadaan sudah bersih,  rapi. Demikian pula terhadap anak-anaknya. Jika anak memungkinkan untuk dibawa dan tidak mengganggu konsentrasi si Ibu, tidak salahnya untuk dibawa.  Namun apabila tidak memungkinkan,  titipkan pada orang-orang yang dapat dipercaya.

Demikian pula untuk hidangan suami dan anak-anak. Dipastikan sudah terhidang. Sehingga suami serta anak yang ditinggalkan tidak dalam keadaan susah ataupun lapar karena menuggu isteri yang lama pulang.

4. Manajemen waktu seoptimal mungkin.

Menjadi istri dan Ibu ideologis harus mampu mengatur waktu sebaik mungkin.  Sehingga di tengah-tengah keluarga dia mampu menjalankan pekerjaan rumah dengan baik.  Dan di tengah-tengah masyarakat mampu berkiprah dengan mengoptimalkan diri dalam majelis-majelis ilmu dan menyampaikan dakwah.

5. Memuliakan suami dan menghormati perintahnya.

Selama tidak berbenturan aktivitas keluarga dan aktivitas menuntut ilmu dan dakwah.  Maka senangilah hati suami dan keluarga dengan aktivitas yang membahagiakan mereka.  Tidak salahnya memasak makanan kesukaan mereka.  Atau mendengarkan apapun yang diperintahkan oleh suami.

6.  Menjalankan fungsi Ibu dengan optimal

Mendidik anak adalah kewajiban utama dari seorang istri.  Maka tidak ada alasan apapun untuk mengabaikan peran ini.  Sesibuk apapun aktivitas seorang istri baik di dalam rumah maupun di luar rumah. 

Ketika mengabaikan tanggung jawabnya sebagai ibu maka ini adalah perkara dosa besar.  Karena tugas utama seorang isteri dan wajib hukumnya adalah mendidik anak-anaknya dengan pendidikan islam.  Karena hal ini adalah tanggung jawab utamanya.

Ketika hal itu semua sudah dijalankan,  maka keharmonisan antara keluarga dan dakwah akan mampu kita atasi.  Tanpa ada yang harus diabaikan dari salah satunya.  Sehingga ibu rumah tangga tetap dapat menjalankan aktivitasnya sebagai isteri sekaligus ibu sholehah bagi anak-anaknya.  Dan di hadapan Allah swt mendapat gelar sebaik-baik bidadari yang dicemburui bidadari syurga. 

Dan inipun sudah dilakukan oleh sahabiyah-sahabiyah ketika Islam pada permulaan.  Sebut saja kisah ummu umarah. Abu Nu’aim menyebut Ummu Umarah sebagai, “Shahabiyah yang ikut dalam peristiwa baiat Aqabah dan tidak takut melawan pasukan musuh di medan perang. Dia adalah wanita yang sungguh memiliki pendirian yang kokoh dan ahli dalam beribadah.”

Ummu Umarah adalah istri dari Zaid bin Ashim. Mereka dikaruniai dua anak yaitu Abdullah dan Habib. Setelah Zaid meninggal, dia menikah dengan Ghazyah bin Amru. Kemudian dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Khaulah.

Para sejarawan telah menuliskan bahwa Ummu Umarah telah ikut bersama Rasulullah pada peristiwa besar seperti; Baiat Aqabah, perang Uhud, perjanjian Hudaibiyah, perang Khaibar, peristiwa Umrah Qadhiyah, penaklukan kota Makkah, dan perang Hunain.

Dialah sosok mujahidah yang pertama ikut berperang dalam sejarah Islam. Dia telah berbaiat (bersumpah setia) akan melindungi Rasulullah. Hal itu dibuktikannya pada Perang Uhud. Ummu Umarah bertugas di bagian logistik dan medis. Akan tetapi, kondisi pasukan Islam yang terdesak menjadikan dirinya ikut mengangkat senjata.

Dan ini patutnya menjadi teladan bagi para Isteri dan Ibu. Bahwa keluarga tidak menjadi kendala dalam melakukan amar maruf nahi mungkar. Wallahu 'alam bisshawab. [syahid/voa-islam.com]

Share this post..

latestnews

View Full Version