View Full Version
Selasa, 12 Mar 2019

Ketika Orangtua Galau Anaknya Tak Kunjung Punya Pacar

Oleh : Sri Rahmawati

 

Alkisah, seorang ibu merasa galau, cemas, takut, malu, karena anak laki-lakinya yang sudah sekolah di bangku SMA belum memiliki pacar. Padahal rupa dan penampilannya di atas rata-rata, alias ganteng abis, keren, dan rada bule. Ibunya merasa aneh kenapa anak seganteng ini tidak punya pacar. Suatu waktu konsultasilah sang ibu kepada seorang wanita yang berprofesi sebagai psikiater. Dibuatlah jadwal pertemuan antara psikiater dengan anaknya.

Bertemulah mereka, sang ibu meninggalkan psikiater untuk ngobrol dengan anaknya. Psikiater bertanya pada si anak perkara menjomblonya, lalu si anak menjawab, "Ibu punya anak cewek, kan? Sini bu, kenalin ke aku. Nanti ta' pacarin, nanti aku peluk, aku pegang, aku cium, sehabis itu aku tinggalin."

Psikiater itu membelalak.

"Kamu nggak boleh begitu sama anak saya, enak aja".

"Lha, memang begitulah Bu yang namanya pacaran. Banyak cewek yang dicampakkan, sedangkan orangtuanya dengan sadar membiarkan anaknya jalan kencan dengan cowok yang bukan mahromnya solah berduaan itu halal. Apa Ibu nggak tahu kencan berduaan walau di tempat umum itu haram? Berpandangan bisa masuk zina mata, lama-lama zina hati, sekedar ngobrol di hp, chatting pun dosa, masuknya kategori mendekati zina, Bu. Nanti, kedua orangtuanya pun kena imbas dosanya. Gimana kalau pacarannya tiap hari? Bisa maksiyat terus tiap hari, dosanya ngalir juga buat orangtuanya. Saya takut dosa bu. Saya takut sama Alloh."

Si anak laki-laki ini terdiam saat melihat bulir airmata menetes di pipi sang psikiater. Speechless, tidak mampu lagi ibu ini berkata-kata, hanya ucapan terimakasih kepada si anak ganteng nan sholeh ini. Kemudian, ibu psikiater segera keluar ruangan menemui ibunya anak tadi.

"Ibu, maasyaa Alloh Bu, anak ibu nggak kenapa-napa, sehat, sholeh, normal, ngga bermasalah. Justru yang bermasalah itu orangtuanya. "

Begitulah sepenggal kisah nyata ini saya sampaikan diilhami dari tausiyyah M. Fatih Karim.

Lantas, harus bagaimanakah agar naluri berkasih sayang ananda bisa disalurkan tapi tetap pada koridor yang Allah ridhoi? Apakah pernikahan usia dini harus dilaksanakan? Tentu muncul kekhawatiran orangtua dengan sifat kekanakan anaknya. Apakah dengan memperlambat pernikahannya? Tapi takut terjerumus dalam dosa.

Tampaknya orangtua sekarang lebih mencemaskan bahaya pernikahan dini daripada bahaya perzinahan massal. Bagi mereka, bahaya pernikahan dini akan menimbulkan dampak sosial yang sangat kompleks, sedangkan bahaya perilaku seks bebas dapat diatasi cukup dengan sekotak kondom.

Jadi, yang perlu kita lakukan bukanlah upaya untuk mempercepat dan memperlambat usia awal pernikahan. Namun kembali mensinkronisasi antara aqil dengan baligh.

Ajari anak pemahaman ilmu agama sejak dini, agar mereka memiliki pondasi keimanan yang kuat. Bagaimana ketika mereka berinteraksi dengan lawan jenis, mana batasan yang diperbolehkan dan dilarang menurut syariat islam. Ajarkan ini dari kecil.

Orangtua pun memberi contoh keteladanan di hadapan anak, dan menunjukan keseriusan menyikapi perubahan perilaku anak menjelang dewasa. Mengontrol penggunaan hp, dengan siapa saja dia bermain, jalan-jalan, apa saja kegiatannya selepas pulang sekolah dan hari libur. Jangan sekali-kali menghalalkan jadwal untuk anak berkencan.

Arahkan kegiatan anak pada hal yang bernilai di mata Alloh, ajaklah ke pengajian rutin, konsultasi dengan ustadz/ustadzah. Memang menjadi PR besar dan berat bagi orangtua di akhir zaman ini, dengan sarana menuju maksiat itu ada dimana-mana. Sebetulnya negara memiliki peran penting untuk melindungi generasi muda agar tidak terjerumus dalam lembah maksiyat, namun sekarang malah sebaliknya, akses pornografi semakin bebas dan mudah, negara malah memfasilitasi kebutuhan ini dengan dibangun taman-kota yang nyaman untuk muda mudi berpacaran  seperti pojok Dilan dan taman jomblo yang ada di Bandung.

Jangan menyerah pada keadaan dan membiarkan anak berpacaran. Jangan lelah memberi nasihat /tausiyyah kepada mereka. Ajarilah mereka untuk senantiasa menutup auratnya dengan pakaian syar'i, menjaga pandangannya, sabar melindungi perhiasan dirinya hingga masanya tiba nanti setelah halal menjadi suami istri.

Ada yang menarik dalam Islam tentang hal ini yang bisa dijadikan rujukan dalam menyikapi masalah ini. Segala  sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, demikian juga tergesa-gesa. Berbeda halnya dengan bersegera, ini justru disunnahkan sebagaimana keterangan hadits yang diriwayatkan oleh Hatim al-Asham yang dikutip dalam Hilyatul Auliya.

“Tergesa-gesa bagian dari kelakuan syaitan kecuali dalam lima hal: pertama memberi makan tamu, kedua mengubur jenazah, ketiga menikahkan anak perawan keempat membayar hutang dan kelima bertaubat dari segala dosa.”

Para orangtua, jangan pernah letih dan kehilangan cara dalam berikhtiar melindungi buah hatinya dari adzab api neraka jahannam. Jagalah amanah dari Alloh ini, buah hati kita, sebelum terlambat.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. At Tahrim ayat 6)

Wallahu'alam bish shawab.


latestnews

View Full Version