View Full Version
Kamis, 19 Mar 2015

Perdana Menteri Turki Dovutoglu : Al-Assad Seorang Hitler dan Ancaman Perang Syi'ah

ANKARA (voa-islam.com) - Di antara  pernyataan Menteri Luar Negeri AS John Kerry, yang mengatakan konflik di Suriah harus di selesaikan dengan jalan politik, justru Perdana Menteri Turki, Ahmed Dovutoglu, menyebut Bashar  al-Assad sebagai : HITLER.

Rezim Syi'ah Alawiyyin  Suriah dibawah Bashal al-Assad kejahatannya melebihi HITLER. Akibat kekejamannya itu, sudah lebih 300.000 penduduk sipil tewas di tangah al-Assad. Assad tidak segan-segan menggunakan senjata kimia membunuhi rakyatnya. Separuh penduduk Suriah menjadi pengungsi di Turki,Jordan, dan Lebanon.

Tak layak pemimpin yang memiliki  hati nurani dan moral melakukan dialog dan negosiasi  dengan pembunuh paling biadab di muka. Tindakan yang oleh Bashar al-Assad, tak dapat lagi digambarkan kekejiannya. Bukan hanya menghancurkan rakyatnya dengan senjata kimian, tapi puluhan ribu tahanan yang berada di penjara, disiksa, dan di biarkan mati satu demi, tanpa makanan.

Maka, Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu mengatakan melakukan negosiasi dengan Presiden Bashar al-Assad akan seperti berjabat tangan dengan Adolf Hitler, menaggapi pernyataan Menteri Luar Negeri AS John Kerry yang ingin melakukan penyelsaian dengan Suriah melalui solusi politik dan diplomasi.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan AS akan bernegosiasi dengan Assad, Minggu, 15/3/2015. Meskipun Departemen Luar Negeri kemudian mengatakan Kerry tidak secara khusus menunjuk pada pemimpin Suriah dan bahwa Washington tidak akan tawar-menawar dengan al-Assad.

Berbicara pada pertemuan AK Party di Ankara, Davutoglu mengatakan suara di Barat yang mengatakan ada kebutuhan untuk bernegosiasi dengan Assad "membuat kita mempertanyakan nilai-nilai kemanusiaan di negara Barat", tegasnya.

"Semua pembantaian dan kekejian di Suriah menggunakan senjata kimia yang melanggar garis merah. Jika Anda masih berjabat tangan dengan Assad, jabatan tangan Anda akan diingat sepanjang sejarah," kata Dovutoglu dalam pidato yang disiarkan langsung melalui telivisi negara.

"Tidak ada perbedaan antara berjabat tangan dengan Assad, atau dengan Hitler, Saddam, Karadzic, Milosevic", tambahnya.

Sekarang, kebijakan Amerika Serikat telah bergeser dari mendukung oposisi Suriah, bergeser fokusnya untuk memerangi ISIS.  Karena ISIS menguasai sejumlah wilayah Suriah dan Irak, serta dinilai menjadi ancaman keamanan keamanan global.

Amerika dan Iran melakukan perundingan rahasia, dan pemimpin tetinggi Ayatullah Ali Khamenei mengirim surat rahasia kepada Presiden Barack Obama, yang isinya Iran akan mendukung Amerika memerangi ISIS, jika Amerika mendukung program nuklir Iran. Kesepakatan antara Amerika dan Iran telah tercapai, dan diakui oleh Presiden Roouhani, secara teknis 90 persen perundingan sudah selesai. 

Turki telah menjadi mitra koalisi pimpinan AS terhadap Negara Islam, namun menolak untuk meningkatkan kerjasama militer memerangi ISIS,  tanpa rencana komprehensif untuk menurunkan al-Assad.  Inilah yang menjadi titik tolak perbedaan  antara Ankara dengan Washington.

Amerika dan Iran bersekutu dengan melakukan 'barter' yaitu Amerika mendukung program nuklir Iran. Sementara itu, Iran mendukung Amerika menghancurkan ISIS. Sekarang sejumlah jenderal Iran berada di Irak, dan melakukan perencanaan strategis dibidang militer, yang bertujuan menghancurkan Irak.

Kekuasaan Syi'ah akan membentang mulai dari Lebanon, Suriah, Irak,  Iran, Bahrain, dan Yaman. Semua itu dicapai oleh kelompok  Syi'ah dengang menggunakan strategi ganda, yaitu politik dan militer.

Di setiap negara,  Syi'ah didukung dengan kekuatan milisi (pasukan para militer) yang menjadi pendukung dan pelindung kelompok Syi'ah. Inilah ancaman bagi masa depan Dunia Islam. Kekacauan akan terjadi di mana-mana. Pengkhianatan Syi'ah sudah berlangsung sepanjang sejarah. Sekarang berkerjasama dengan Yahudi dan Nasrani menghancurkan dunia Islam. Wallahu'alam. 

*mashadi


latestnews

View Full Version