View Full Version
Selasa, 18 Aug 2015

70 Tahun Merdeka : Kembali Dijajah Oleh Asing, A Seng, dan Rakyat Makan Raskin

JAKARTA (voa-islam.com) - Mungkin rakyat bisa melupakan penderitaan dan kesengsaraannya sejenak. Dengan kemeriahan perayaan 70 Tahun Kemerdekaan. Berbagai acara diselenggarakan di seluruh Indonesia. Bahkan, peringatan kemerdekaan sampai keluarga negeri.

Media elektronik, media cetak, dan media sosial membuat liputan (covered) sangat luas. Terutama kegiatan kegiatan Presiden Jokowi di Istana. Ini bagian dari proyek pencintraan Presiden Jokowi.

Rakyat benar-benar lupa aras penderitaan, akibat 10 bulan dibawah pemerintahan Jokowi. Jokowi dengan menggunakan media massa berhasil mengalihkan 'peluru' yang ditembakkan kepada pemerintahannya.

Kegagalan Jokowi memimpin yang berakibat kekacauan ekonomi dan politik, bisa ditutupi dan disulap dengan berbagai 'isu' yang terus dilansir dari Istana yang di kemas oleh berbagai media massa yang sudah menjadi corong Jokowi.

Kegagalan Jokowi di bidang ekonomi yang berdampak buruk bagi nasib rakyat Indonesia, dan bertambahnya angka kemiskinan, kemelaratan, pengangguran, kenaikan 9 bahan kebutuhan pokok, inflasi yang mengakibatkan rupiah tak berguna lagi sebagai alat tukar, masih ditambah dengan nilai rupiah yang terus anjlok atas dollar, berakibat  semakin menyerngsarakan nasib rakyat.

Pengangguran berjuta-juta, dan terus bertambah. Karena rezim Jokowi gagal mencapai target pertumbuhan ekonomi yang hanya bisa 4,7 persen. Para pegawai pemerintahan Jokowi juga melakukan gerakan 'slowdown', sehingga APBN hanya terserap 35 persen.

70 tahun merdeka, kehidupan rakyat semakin tersperosok ke dalam jurang kesengsaraan yang semakin dalam. Lagi-lagi yang disalahkan karena faktor eksternal atau kondisi global. Tidak melakukan koreksi ke dalam masing-masing diri para pemimpin. Menutupi kelamahanya, yang sejatinya mereka tidak becus mengelola negara. Lalu menyalahkan orang lain. Betapa naifnya sikap yang tidak jujur ini. Selalu menyalahkan orang lain, tidak berani melakukan otokritik secara terbuka, di mana letak kesalahan dan kegagalannya.

Sesudah mengalami kegagalan ekonomi, dan kritik begitu dahsyat terhadap pemerintahan Jokowi, kemudian lahir 'exit plan' dengan cara melakukan reshufle (pergantian kabinet). Tidak ada sesautu yang bisa dianggap 'surprise' dengan pergantian menteri. Kecuali hanya menaqmbah 'pundi-pundi' PDIP, seperti naiknya Pramono Anung yang menjadi orang dekatnya Mega.

Tentu reshufle hanya semakin meneguhkan para pemangku alias 'stake holder' , seperti naiknya Thomas Lembong yang merupakan koneksi dan bagian jaringan 'Chinese Oversease' (China perantuan) yang ingin menjadi perantara para 'taipan' Cina atau Cina daratan yang berambisi melakukan pengusaan atas ekonomi Indonesia, dan Indonesia akan menjadi tempat pembuangan 'limbah' produk-produk Cina yag tidak laku di jual di Eropa dan Amerika.

Thomas Lembong tidak lebih mirip Mari Pangestu, mantan salah satu Direktur CSIS, yang diangkat oleh SBY menjadi menteri perdagangan, dan kemudian Indonensia dibanjiri barang-barang Cina. Thomas Lembon dan Mari Pangestu hanya bagian dari 'Cina Connection'. Sementara itu, Rahmat Gobel yang berjuang bagi  kepentingan kaum pribumi dibuang oleh Jokowi.

70 tahun merdeka, ibaratnya Indonesia seperti kakek-kakek renta, yang terseok-seok jalannya, hidupnya menjadi jembel, dan hanya memiliki kekayaan baju yang menempel ditubuhnya. Hartanya,  berupa  rumah, barang-barang yang berharga habis, digarong oleh 'perampok', yang tidak menyisakan apapun bagi dirinya.

Bahkan, kakek itu terusir dari rumahnya, menggelandang, tak tentu arah. Dia yang dahulunya gagah, kaya, dan nampak berwibawa, sekarang hina-dina, dan sangat lusuh, tak lagi berarti apa-apa. Itulah Indonesia sesudah  70 tahun merdeka.

Sesudah Indonesia merdeka penjajah asing masuk kembali ke Indonesia dengan 'kedok' melakukan investasi (penanaman modal). Di semua bidang. Oleh rezim yang berkuasa diberi keleluasaan yang luar biasa, dan kemudian asing secara de facto dan de jure menguasai kekayaan alam dan seluruh asset Indonesia.

Puncaknya di era reformasi dengan produk undang-undang yang difasilitasi oleh IMF dan World Bank, lahilah produk undang-undang yang memungkinkan 'Asing dan A Seng” menguasai seluruh sumber daya alam Indonesia.

Jadi 70 tahun merdeka, Indnonesia kembali dijajajah dan diperbudak. Adanya presiden dan para pejabat itu, hanyalah perpanjangan tangan dan alat bagi asing menguasai tanah air Indonesia, tanpa harus mengleluarkan sebutir pelurupuon.

Begitu pula, A Seng (golongan Cna) secara total menguasai sektor ekonomi dan finansial. Bidang ekonomi sudah mereka kuasai. Ini menggambarkan bahwa Indonesia hanya menjadi provinsi dari Beijing dan Washington.

Bangsa Indonesia hanya akan menjadi kuli dan budak 'Asing dan A Seng'. Karena urat nadi kehidupan mereka sudah dikuasai para penjajah. Tidak ada lagi yang dimijliki oleh bangsa Indonesia. Karena asset dan sumber daya alam Indonesia sudah diserahkan oleh para pejajah 'Asing dan A Seng'.

Bahkan, tanah di DKI Jakarta sudah 80 persen dikausai golongan Cina, yang dahulunya bagian dari para penjajah, sekarang mereka sudah menguasai pusat-pusat ekonomi dan pemerintahan di Indonesia. Golongan Cina penguasa Indoenesia yang sejati, sedangkan para pejbabat dan rakyat hanyalah 'kuli' dari para penjajah Cina.

Apalagi dengan adanya pilkada langsung sekarang ini, kekuatan 'Asing dan A Seng', semakin leluasa mengcengkeram Indonesia. Hanya dengan membagi-bagi uang 'recehan' kepada para calon, yang kemudian mereka membagikan kepada rakyat, dan rakyat memilih para kaki tangan 'Asing dan A Seng'.

Semakin dalam penjajahan 'Asing an A Seng', dan rakyat hanya bisa menikmati 'raskin' atau 'nasi aking', tapi roti burger dan kemewahan lainnya, hanya milik 'Asing dan A Seng'.

Semua itu hanya karena kebodohan  kaum pribumi, terutama para penguasanya  yang sudah kehilanngan nasionalisme. Rakyat dinina-bobokan dengan perayaan 70 tahun kemerdekaan, yang sesungguhnya hanya memperingati penjajahan baru dan penyerahan republik ini kepada 'Asing dan A Seng'.. Wallahu'alam.

dita.

 


latestnews

View Full Version