View Full Version
Sabtu, 19 Aug 2017

Inilah Kemuliaan Muslim jika Memimpin Negeri dengan Al-Qur'an: Umat Lain Dijaga dan Dilindungi

JAKARTA (voa-islam.com)- Di dalam sejarah, tokoh atau pemimpin umat Islam senantiasa memperlakukan kebajikan terhadap siapapun: suku, agama, dan golongan dalam menjalankan fungsi Negara. Hal ini misalkan saja dapat dilihat dari kekuasaan yang saat itu dipegang oleh Sultan Salim dari Turki.

“Persatuan dalam al-Qur’an yang dicontohkan oleh para sahabat nabi. Lanjut ke tabiit tabiin. Lalu kita lanjutkan. Di Turki ada Sultan Salim. Pada saat itu sebelumnya umat Islam diusir semuanya atas kekuasaan Raja Philips yang ada di Spanyol. Bahkan diberi pilihan: diusir atau masuk Kristen.

Ini wawancara saya dengan tokoh sejarah di sana, bahkan rumah Islam di sana digantungi babi di setiap rumahnya. Sebelum keluar rumah umat Islam dipaksa menjilat itu binatang.

Namun saat Sultan Salim berkuasa di hari, bulan, dan tahun yang sama, ia mengeluarkan instruksi bahwa melindungi umat nasrani yang tinggal di Turki. Bahkan dia keluarkan dekrit, siapa saja umat nasrani yang ragu akan keselamatannya untuk tinggal di dalam istana,” kata Haikal Hasan, (17/08/2017), di Bandung, Jawa Barat.

Atas sejarah yang indah itu, Haikal pun merasa tidak adanya salah apabila umat Islam mulai menghidupkan al-Qur’an di HUT RI yang ke-72 ini. Dengan adanya hal tersebut, ia meyakini bahwa umat Islam dan Indonesia akan (kembali) Berjaya.

“Yang menjaga persatuan adalah al-Qur’an. Maka tahun ini kita mesti mengisi kemerdekaan dengan al-Qur’an. Dengan itulah kita akan kembali Berjaya, tambahnya.

Kisah di atas menurut Haikal juga pernah terjadi di daerah Indonesia, yakni di Ambon. “Kita lihat Ambon waktu itu. Kita diserang. Tentu kita balas menyeranf. Umat Islam mengerti bahwa apabila diserang, kita menyerangnya kembali atau membalasnya.

Nah, saat itu saya sedang di pualau Gebe, dekat Palu. Di sana muslim ada 92 persen. Sisanya umat lain 8 persen. Tapi umat Islam di sana  justru menjaga dan melindungi umat non Islam. Itulah persatuan dengan al-Qur’an. Titik, suka tidak suka kita harus isi kemerdekaan dengan al-Qur’an.

Yang tidak mengerti dengan Islam, jangan banyak bac**. Menuduh bahwa dengan al-Qur’an umat lain diminta shalat. Tidak benar. Itu VIKiran koTOR. Gak ngerti Islam tapi banyak bac**. Jangan sebut nama. Cukup kita tahu bahwa itu VIkiran koTOR,” tutupnya menjelaskan. (Robi/voa-islam.com)


latestnews

View Full Version