View Full Version
Selasa, 17 Feb 2015

Thailand-Jepang Contek Konsep Ekonomi Syariah

JAKARTA (voa-islam.com) - Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar dunia, dinilai belum memaksimalkan potensi ini untuk mengembangkan ekonomi syariah.

Sistem ekonomi syariah justru diduplikat serta dimodifikasi Thailand dan Jepang disesuaikan dengan kondisi di negara masing-masing. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad menuturkan, kedua negara tersebut mulai sistem dalam ekonomi syariah dari segi wisata. “Thailand serius mendorong industri makanan halal.

Masyarakat Jepang juga mendorong pariwisata syariah, saat ini mudah dijumpai tempat ibadah di sana,” kata Muliaman di Jakarta, Selasa (17/2). Seharusnya Indonesia bisa menggenjot perekonomian nasional dengan memaksimalkan konsep ekonomi syariah.

Potensi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dunia, seharusnya bisa membantu mempercepat implementasi sistem ekonomi syariah.

“Seharusnya kita bisa melakukan lebih banyak lagi,” ungkapnya. Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) ini yakin, suatu saat sistem ekonomi syariah bisa menjadi penggerak dan pendorong sektor riil. Termasuk membiayai infrastruktur.

“Berkembangnya keuangan syariah bisa tumbuh bareng sektor riilnya,” katanya.

OJK Sayangkan Minimnya Masyarakat Tentang Keuangan Syariah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyayangkan minimnya pengetahuan masyarakat terhadap industri keuangan syariah.

Pasalnya, sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim, keuangan syariah diklaim sangat menguntungkan Indonesia.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad, mengatakan masyarakat saat ini dinilai hanya mengetahui mengenai perbankan syariah. Namun, tidak pada pasar modal maupun instrumen investasi syariah lainnya. Muliaman menambahkan peluang bisnis syariah sangat bermanfaat pada perekonomian kecil.

Dia mencontohkan mulai dari segi pariwisata, infrastruktur, manufaktur dan lainnya. “Ekonomi syariah, paling menonjol keuangan syariah, tetapi tidak bisa meninggalkan sektor riilnya,” kata Muliaman di Jakarta, Selasa (17/2).

Besarnya peluang ekonomi syariah membuat Muliaman mendorong masyarakat untuk lebih mengenal sektor ini. “Dengan demikian kita berharap tumbuh dan berkembang sektor riil sejalan dengan ekonomi syariah. Saya kira itu yang dicari ekonomi syariah,” ujarnya.

Sebelumnya, Mantan Wakil Presiden Boediono menilai perekonomian berbasis syariah Islam semakin tidak terpisahkan dari percaturan ekonomi global. Paling tidak, ada tujuh sektor bisnis yang kini menjadi andalan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Sektor-sektor usaha itu adalah bisnis kuliner, keuangan dan asuransi syariah, busana muslim, kosmetik, farmasi, hiburan, serta pariwisata.

Secara global, industri berbasis nilai-nilai Islam itu telah menjadi industri paling dinamis dibandingkan industri yang lebih mapan seperti perbankan, otomotif, dan lain-lain. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mengingatkan koleganya agar serius menggenjot bisnis-bisnis syariah unggulan.

Khusus untuk pariwisata saja, negara anggota OKI sepanjang periode 2007-2012 mencatat kenaikan jumlah turis 5,5 persen. Dampaknya terhadap perekonomian negara Islam mencapai USD 8 triliun, alias setara 9 persen Produk Domestik Bruto global.

Belum lagi potensi konsumen yang memilih produk syariah, dalam survei Economic Intelligence Unit 2013, mencapai 10 persen dari total populasi dunia. “Sehingga bisa kita saksikan, produk gaya hidup, pariwisata, makanan halal, busana muslim, dan seluruh bisnis lain yang berbasis nilai-nilai Islam akan terus tumbuh di masa mendatang,” kata Mari Elka. [sharia/merdeka]


latestnews

View Full Version