View Full Version
Ahad, 25 Feb 2018

[VIDEO ILMIAH] Prof Tono: Indonesia Sholat Subuh Terlalu Cepat 26 Menit

BEKASI (Voa-islam.com) - Dalam wawancara Eksklusif Voa-Islam.com di kediaman Prof.Dr. Tono Saksono, ilmuwan asal Cirebon, lulusan UGM, dan beberapa kampus mancanegara seperti di Amerika Serikat dan Inggris ini membuka tabir akan waktu shalat subuh dan isya di Indonesia yang terlalu cepat 26 menit dan secara ilmiah bisa ia buktikan dengan bantuan teknologi terbaru.

Pada hari Kamis pagi, (18/01/2018), pendiri voa-islam.com menyempatkan bersilaturahim dan melakukan wawancara eksklusif dan diterima dengan ramah oleh Prof Dr Tono Saksono, penulis yang juga ilmuwan dari Muhammadiyah ini.

Siapa Prof Tono Saksono?

Ia adalah ahli falak dan remote sensing dan Ketua Himpunan Ilmuwan Muhammadiyah dan dosen di UHAMKA Jakarta.

Prof Tono Saksono menegaskan bahwa waktu masuknya awal Shalat Subuh yang digunakan di Indonesia selama ini terlalu dini 20 hingga 30 menit dari seharusnya sehingga perlu dikoreksi. "Ini hasil riset kami dengan alat Sky Quality Meter (SQM), pengukur kecerlangan benda langit," kata Ketua Islamic Science Research Network (ISRN) Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) itu dalam Seminar Evaluasi Awal Waktu Shalat Subuh Menurut Sains dan Fikih di Jakarta, Selasa beberapa bulan silam, (9/5/2017). 

SIMAK VIDEO SELENGKAPNYA, HANYA di VOA-ISLAM.com:

Prof. Tono menyatakan bahwa selama ini fajar dianggap telah terbit saat matahari pada posisi sudut depresi 20 derajat di bawah ufuk yang setara dengan 80 menit sebelum matahari terbit.

Padahal, dikemukakannya, dari hasil observasi sementara, maka fajar dimulainya Shalat Subuh bagi umat Islam Indonesia baru terjadi saat sudut depresi matahari pada kisaran 11 hingga 15 derajat di bawah ufuk atau bila dikonversi dalam domain waktu setara dengan 44 sampai dengan 60 menit sebelum matahari terbit.

"Tidak ada satupun indikasi yang menunjukkan bahwa sinar fajar sebagai tanda awal subuh telah muncul saat matahari berada pada sudut depresi 20 derajat," katanya. Menurut dia, penentuan 20 derajat di bawah ufuk merupakan keputusan ulama Melayu di masa lalu untuk menentukan awal masuknya waktu Shalat Subuh dan dimulainya puasa, termasuk digunakan pula oleh ulama Malaysia.

"Tapi, zaman dulu memang belum ada peralatan secanggih saat ini, dan masih mengandalkan pengamatan dengan mata telanjang, jadi wajar jika tidak akurat," katanya. Diterbitkan ole The Islamic Science Research Network (ISRN) UHAMKA The Islamic Science Research Network (ISRN) UHAMKA yang baru berdiri kurang dari dua tahun sangat bahagia dapat menyelesaikan tahap pertama tugas penelitian yang sangat penting ini.

Kami menggunakan dua sensor pendeteksi fajar generasi terakhir, mengkoleksi ratusan hari-pengamatan data Kami menggunakan dua sensor pendeteksi fajar generasi terakhir, mengkoleksi ratusan hari-pengamatan data, membangun beberapa algoritma pemrosesan data, melakukan pengujian statistik secara robust, dan menerima testimoni dari beberapa pihak independen dalam penelitian ini.

Kesemuanya menyimpulkan bahwa sudah banyak cukup fakta saintifik yang membuktikan bahwa Muslim di Indonesia melakukan sholat subuhnya terlalu awal sekitar 26 menit,

Kesemuanya menyimpulkan bahwa sudah banyak cukup fakta saintifik yang membuktikan bahwa Muslim di Indonesia melakukan sholat subuhnya terlalu awal sekitar 26 menit, dan sholat isyanya terlalu lambat juga sekitar 26 menit. banyak cukup fakta saintifik yang membuktikan bahwa Muslim di Indonesia melakukan sholat subuhnya terlalu awal sekitar 26 menit, dan sholat isyanya terlalu lambat juga sekitar 26 menit.

Akibat yang terakhir ini, orang mungkin masih mengira masih cukup waktu melakukan sholat maghrib, padahal waktunya telah habis karena telah masuk waktu isya. Angka dip (sun depression angle atau sudut kedalaman Matahari dihitung dari ufuk) yang kami peroleh adalah -13.4 derajat untuk subuh dan -11.5 derajat untuk isya.

Setiap satu derajat, pergerakan semu Matahari memerlukan waktu sekitar 4 menit. Sementara itu, untuk wilayah Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura), pada umumnya menggunakan dip -20 derajat untuk subuh dan -18 derajat untuk isya.

Data yang kami gunakan memang baru untuk wilayah Depok dan Medan. Angka dip untuk seluruh wilayah nasional memang belum kami peroleh karena mungkin akan diperlukan sepuluh tahunan untuk menyelesaikannya. Namun demikian, diperkirakan angkanya tidak akan meleset jauh dari yang telah kami peroleh.

Sementara itu, penggunaan angka dip yang sekarang ini sudah harus segera diokoreksi. Ada beberapa fakta saintifik lain. Ulama-ulama klasik pada abad pertengahan sebetulnya umumnya memperoleh harga dip -18 derajat untuk subuh dan -16 derajat untuk isya untuk wilayah Timur Tengah.

Alat-alat yang mereka gunakan pada umumnya adalah astrolabe untuk pengukurannya, sedangkan untuk pemrosesannya menggunakan rubu mujayyab.

Seharusnya, di wilayah equator secara nominal, angka dip-nya lebih rendah. Dalam kasus ini, temuan hasil penelitian kami konsisten dengan prinsip astronomi dasar di atas.

Tapi anehnya, kita di Asia Tenggara saat ini justru menggunakan angka dip yang secara nominal lebih besar dari angka di lintang tinggi seperti Timur Tengah. Ini memang aneh. Tidak ada rujukan saintifik pada penetapan angka dip yang sekarang ini kita gunakan. Semoga buku ini memberikan sumbangan untuk pembangunan peradaban umat Islam.

Bagi yang tertarik, untuk pemesanan buku dapat diperoleh dari UHAMKA PRESS melalui nara hubung

PEMESANAN ONLINE:

Rp. 80,000/Buku belum termasuk ONGKIR

SMS / WA 0817852277

[adivammar/voa-islam.com]

Share this post..

latestnews

View Full Version