View Full Version
Senin, 27 Jul 2015

Tragedi Tolikara dan Persaingan Islam-Kristen

Oleh: Ilham Kadir

(Peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) Baznas-DDII dan Kandidat Doktor Fakultas Pascasarjana UIKA Bogor)

Suatu ketika HAMKA pernah ditanya oleh Tamu Negara dari Barat, Mengapa di Indonesia para pemeluk agama dapat hidup harmonis? "Karena di sini penduduknya mayoritas beragama Islam", jawab HAMKA. 

Jawaban mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia di atas terbukti, setidaknya dalam dua dekade terakhir di Indonesia terjadi konflik yang berakar pada agama, lebih khusus Islam dan Kristen, dan sederet konflik tersebut pembantaian justru dialami oleh umat Islam sebagai pemeluk agama mayoritas di negeri ini. Sekedar untuk mengulas, sebutlah misalnya, kerusuhan yang terjadi di Ambon (19-23 Januari 1999), kerusuhan Poso I (25-29 Desember 1998), Poso II (17-21 April 2000), dan Poso III (16 Mei-15 Juni 2000), dan yang terbaru adalah tragedi Tolikara 17 Juli 2015 yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah.

Seperti yang telah sama-sama kita pahami, pagi itu tak kurang dari 500 orang tak dikenal secara tiba-tiba melempari jamaah shalat Ied di halaman masjid Baitul Muttaqien Koramil Tolikara. Aparat hukum telah berupaya mengamankan situasi, namun aksi kekerasan semakin meluas eskalasinya. Akibatnya tak kurang dari 64 kios terbakar, serta masjid Baitul Mutaqin yang merupakan tempat ibadah bagi umat muslim setempat pun terkena rembetan jalaran api. Ratusan warga mengungsi, banyak di antaranya adalah perempuan dan balita.

Tulisan ini, akan mengangkat tragedi terbaru yang menimpa umat Islam di Tolikara, Papua. Sama skali tidak bermaksud memprovokasi akan tetapi, sebagai anak bangsa merasa bertanggung jawab untuk memberikan sumbangsi berupa ide dan pertimbangan yang dapat bermanfaat, baik untuk pemerintah dan kepanjangan tangannya dari aparat keamanan, atau masyarakat luas agar paham bahwa akar masalah sebetulnya sangat mudah dilacak, baik secara filosofis maupun historis.

Diskursus tentang perseteruan Islam-Kristen merupakan bagian tak terpisahkan dalam ajaran Islam, karena memang salah satu tujuan Islam diturunkan di muka bumi ini adalah untuk mengoreksi kekeliruan dan kesalahan fatal keyakinan umat Kristen. Contoh nyatanya, sebagaimana pondasi agama Kristen yang mengatakan bahwa Isa adalah roh kudus yang dituhankan, ia digambarkan jelmaan tiga unsur, roh kudus, Tuhan Allah, dan Tuhan anak alias trinitas, tiga dalam satu dan satu dalam tiga. 

Keyakinan ini, dikoreksi total dengan gamblang oleh Al-Qur'an, Dan karena ucapan mereka [Kristen], Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isla bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak memiliki keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti perasangka belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalan Isa, (QS. An-Nisa[4]
: 157).

Jika permasalahan Tuhan sebagai dasar teologis saja telah dianggap bermasalah bagi orang Kristen, maka bagaimana dengan lainnya? Dalam pandangan agama Kristen berdasarkan doktrin utamanya, Isa Al-Masih sebagai penghapus dosa umat manusia, terpaksa menciptakan doktrin baru yang dikenal dalam Katolik sebagai "Tidak ada keselamatan di luar gereja [extra ecclesiam nulla salus]" atau dalam Protestan "Tidak ada keselamatan di luar agama Kristen, [outside Cristianity, no salvation]". Ini disebabkan keselamatan dan pembebasan menurut agama Kristen, dan logika salib tidak bisa tercapai dengan iman sepenuhnya pada doktrin tersebut. Masalah keselamatan atau tidak, bahasa sederhananya adalah antara iman dan kufur. 

Tapi, sebenarnya, polemik terbesar antara Islam-Kristen adalah terletak pada kedudukannya sebagai agama misi. Artinya, kedua agama ini berkeyakinan bahwa semakin banyak pengikutnya semakin mulia kedudukannya di hadapan Tuhan dan semakin membanggakan di akhirat kelak. Pandangan Kristen menyebut selain penganutnya sebagai domba-domba yang tersesat dan perlu diselamatkan. Para agamawan dari pastur, suster, pendeta hingga paus adalah bagian dari pengembala yang terus-menerus menyelamatkan domba-domba yang tersesat.

Bagaimana dengan Islam? Agama yang satu ini memang diturunkan sebagai agama pamungkas dan mengoreksi seluruh bentuk keyakinan yang salah, terutama Kristen. Di lain pihak, ia juga mendeklarasikan diri sebagai satu-satunya agama yang benar di sisi Allah, Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam, (QS. Ali Imran [3]: 19); Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima agama itu daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi, (QS. Ali Imran [3]: 85). Dalam hal misi, Islam juga sangat menekankan agar pengikutnya memperbanyak jamaah karena, Kalian adalah umat yang terbaik dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah, (QS. Ali Imran [3]: 110). 

Hanya saja, dalam merekrut pengikut Islam memiliki rambu yang harus dipatuhi, antara lain, tidak boleh memaksa siapa pun dan dalam kondisi apa pun untuk memeluk agama Islam, dalam istlah Al-Qur'an, La ikraha fid-din, Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam, (QS. Al-Baqarah[2]: 256), atau "Bagimu agamu bagiku agamaku, (QS. Al-Kafirun[109]:6).

Bahkan syariat Islam telah menggariskan rambu-rambu dalam bergaul dengan orang-orang bukan Islam termasuk umat Kristen, antara lain: Tidak merestui kekafirannya dan tidak meridhainya, sebab ridha pada kekafiran adalah kufur; Membencinya karena Allah. Sebab bencin dan cinta pada makhluk harus karena Allah; Tidak loyal, atau membela dan mendukung, dan tidak mencintainya, berdasarkan firman Allah, Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang mukmin, (QS. Ali Imran[3]: 28); Bersikap objektif, adil kepada mereka, serta meberi kebaikan-kebaikan jika ia bukan kafir yang memusuhi Islam (harbi); Berbelas kasih padanya sebagaimana umumnya, seperti memberinya makan jika kelaparan, memberinya minum jika kehausan, mengobatinya jika sakit, menyelamatkan dari gangguan pengacau, tidak menyakitinya, dan menyayangi mereka sebagaimana mestinya, dalilnya. Rasulullah bersabda, Belaskasihlah siapa yang ada di bumi, niscaya engkau dikasihi oleh yang ada di langit, (HR. At-Thabrani dan Al-Hakim); Tidak menggannggunya, baik dalam hartanya, darahnya, ataupun kehormatannya, selama ia tidak memusuhi Islam, berdasarkan sabda Nabi lewat hadis Qudsi, Allah berfirmaan, Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya aku telah mengharamkan kezaliman terhadap diri-Ku, dan Aku telah menetapkan di antata kalian sebagai sesuatu yang diharamkan, maka janganlah kalian saling menzalimi, (HR. Muslim). Hadis lain, Barangsiapa yang menyakiti kafir dzimmi--yang tidak memusuhi Islam--maka akulah musuhnya pada hari kiamat kelak, (HR. Al-Khatib [dalam Tarikh Baghdad: 8/370]); Boleh memberinya hadiah, menerima hadiah pemberiannya dan boleh memakan makanannya jika dia kitabi (Yahudi dan Kristen), (QS. Al-Maidah: 5), prilaku mulia umat Islam pada agama lain begitu banyak, dan daftarnya terus berlanjut.

Begitulah kemulian ajaran Islam terhadap penganut agama lain termasuk orang-orang Kristen, ada adab-adab yang sudah ditetapkan dalam syariat, karena itu, dalam pandangan Islam, tidak boleh ada gangguan terhadap umat Kristen, darah, harta, dan kehormatan mereka, serta memiliki kedudukan yang sama dengan sesama muslim dalam ranah muamalat. 

***

Sejatinya Papua wabilkhusus Tolikara adalah medan dakwah yang menggiurkan bagi para dai dari kalangan umat Islam serta para pengembala domba dari kalangan Kristen, mereka berebut lahan dakwah, dan tentu saja atas nama Tuhan.

Terjadilah klaim-mengkalim, bahkan sejak lama nampaknya pihak Kristen berusaha mengidentifikasi bahwa Papua merupakan wilayah persemaian bagi agama trinitas. Agama inilah yang kemudian diklaim sebagai identitas Papua. Klaim semacam ini tentu saja tidak benar. Mari kita buka lembaran sejarah.

Setelah tahun 1920 Papua dimasukkan oleh Belanda sebagai bagian Propinsi Ternate. Tahun 1929 Papua dibagi menjadi dua wilayah, satu bagian masuk propinsi Maluku dan satu bagian lagi masuk propinsi Ternate. Wilayah Kesultanan Tidore  dibagian Utara dan Barat digabungkan dengan Propinsi Ternate. Sementara bagian Selatan dimasukkan ke Propinsi Maluku. Bagian yang terakhir ini bukan termasuk wilayah kesultanan, tetapi dikuasai secara langsung oleh Belanda sejak 1901.

Ada pun Papua bagian Selatan misi Katolik membantu pemerintah kolonial Belanda untuk pemberantasan penyakit di kalangan penduduk, misi ini mendapatkan subsidi guna membiayai dokter dan obat-obatan untuk memperlancar kegiatan penginjilan. Para misionaris Katolik juga diminta Belanda untuk memasuki daerah sebelah Barat Sungai Mappi dan sebelah Timur laut pantai Kasue (sebelah utara sungai Digul). Mereka lantas memberikan laporan kepada Belanda terkait keamanan daerah yang dilalui. Berkat laporan-laporan inilah Penjajah Belanda memiliki data yang cukup untuk melanjutkan proses aneksasi. Rombongan para misionaris perintis ini mendapatkan pengawalan dari serdadu Belanda.

Misi Kristen Protestan dari Utrecht (Belanda) juga membantu Pemerintah Kolonial Belanda sejak 1855 untuk membantu memperluas wilayah kekuasaan. Pemerintah penjajah juga dibantu oleh misi Protestan dari negara lain di bagian Barat dan Selatan Papua. Kegiatan misi bertanggung jawab menyuplai informasi tentang daerah pedalaman. Meski demikian kadang kaum misionaris ini juga mengalami keraguan untuk menembus daerah yang lebih pedalaman lagi sehingga didirikanlah sebuah komite untuk pencarian informasi semacam ini. Melalui kegiatan memata-matai rakyat pribumi semacam inilah aktivitas misi dan kepentingan penjajahan bersinergi untuk menganeksasi Papua. (Resume dan refleksi baca buku: Nazaruddin Lubis, Irian Barat, Jakarta: Jajasan Gotong Rojong, 1962).

Mekarnya dakwah di Papua dapat dilihat dengan hasilnya yang sangat signifikan. Dai nasional, Ust. Fadlan Garamatan bahkan telah melangkah jauh ke depan, sosok fenomenal ini telah mengislamkan sedikitnya 200 ribu masyarakat Papua. Tentu saja ini bukan prestasi yang biasa-biasa saja. Bahkan dalam kisah dakwahnya, dia pernah ditombak oleh kepala suku, namun berkat kesabaran dan keuletannya, ketika yang menombak itu jatuh sakit ia pun menjenguknya, dan sang penombak jatuh hati padanya, ia pun memeluk Islam bersama kabilahnya.

Pun, ketika tragedi pembakaran terjadi pada 17/7/2015, beliau adalah orang yang pertama yang saya tau mengeluarkan pernyataan begitu menyejukkan, di tengah gembar-gembornya oknum-oknum tertentu untuk melakukan jihad dengan angkat senjata. Mari kita cermati pernyataan Utstad Fadlan Garamatan: Ujian hasil didikan Ramadhan selama 1 bulan tentang "kesabaran" langsung Allah uji, masihkah itu membekas dan menjadi bagian dalam Ruh jiwa kita, sehingga ketika melihat sebuah kejadian bukan hanya dengan mata, tapi mampu menghidupkan mata hati agar mampu melihat dengan "kecerdasan" yang lebih dalam disetiap persoalan umat secara menyeluruh; Menggugah Dakwah kita, agar saat kita membangun Mushola/Masjid. buatlah dari bahan yang tidak mudah terbakar, memang mahal, tapi itulah dakwah, memerlukan pengorbanan yang besar, semangat ber-amal dalam membangun rumah Allah; Mengolah satu informasi dengan kecerdasan emosional, agar menjadi sebuah strategi dakwah yang cerdas sebagaimana dakwahnya Rasulullah dakwah dengan "keteladanan", dan ketika ada orang-orang yang menghina Islam, itu tandanya mereka sebentar lagi akan memeluk Islam. Ingat Papua sedang menjadi sorotan dunia di mana hampir setiap saat jumlah pemeluk Islam semakin bertambah, (data mualaf center sudah 8900 mualaf selama 2 tahun terakhir); Sikap Memberikan keteladanan, akan menguatkan bahwa Islam bukan agama Pendendam, namun Rahmat bagi seluruh Alam semesta. Sikap sebaliknya hanya akan menimbulkan citra buruk bagi masyarakat dan dunia, akan semakin mudah menjadi santapan mereka. Ingat kita tak cukup memiliki media informasi; Memahami latar belakang Papua, kita harus hidup dan berada diantara mereka, kehidupan sosial sangat memberi pengaruh kepada kestabilan masyarakat secara emosional, bisa dilihat dari kejadian yang berlangsung saat ini.

Itulah pernyataan menyejukkan dari Ustad Fadlan Garamatan Ketua AFKN, Mualaf Center Papua. Yang sangat menarik dan menyentuh buat saya, ketika dirinya dikritik karena dianggap tak berani berjihad dengan senjata di Papua, ia pun berterimah kasih dan mengatakan bahwa perjuangan di Papua tidak mesti dimenangkan dengan senjata dan peluru, tetapi cukup dengan sabun. Beliau memang dikenal sebagai 'Dai Sabun'.

***

Berbagai aksi solidaritas untuk muslim Tolikara, antara lain dan menurut saya paling berillian adalah dibentuknya tim pencari fakta yang bertujuan untuk membantu pengungkapan dan pembangunan kembali bangunan tempat ibadah, ruko, kios, dan tempat tinggal yang hangus akibat ulah Kelompok Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) di Tolikara, Papua, sebuah Tim Pencari Fakta (TPF) pada hari Selasa (21/7/2015) diberangkatkan ke Pulau Cendrawasih itu. TPF yang dipimpin Fadlan Garamatan, terbang ke Papua bersama 7 anggota Tim dari berbagai latar belakang ilmu.

Sesuai rencana, sesampai di TKP, seluruh anggota TPF akan melakukan beberapa tugas berat diantaranya menyusun kronologi sesuai aslinya. Kenapa disebut kronologi sesuai aslinya, karena hingga hari ini, ada beberapa upaya dari pihak tertentu yang mencoba membelokkan arah opini kepada publik. Pembelokan opini ini jelas sangat merugikan karena fakta yang ada di lapangan menjadi kabur.

Beberapa informasi yang simpangsiur akibat pembelokan opini itu diantaranya seputar keabsahan surat dari Gereja Injili Di Indonesia yang berisi larangan merayakan Iedul Fitri, Larangan Berlebaran dan Larangan mengenakan jilbab. Surat resmi yang dilengkapi tandatangan oleh Ketua  GIDI Tolikara Pdt Nayus Wenda dan Sekretarus GIDI Marthen Jingga itu, mulai dikabarkan sebagai dokumen illegal. Padahal, faktanya Polisi dan Bupati sudah menerima surat yang dimaksud. Bahkan, akibat surat super intoleran ini, kemudian memicu pembakaran Mesjid dan Ruko serta kios dan rumah tinggal.

Selain itu, ada pihak lain yang juga mencoba membalik fakta, diantaranya bahwa baik tempat ibadah, ruko maupun kios yang ludes karena api, konon disebabkan oleh ketidak sengajaan. Yang lebih parah lagi, pihak Gereja kini mencoba menyalahkan Kepolisian dan aparat lainnya yang dianggap tidak mampu mengendalikan situasi sehingga aparat malah menembak anggota Gereja hingga tewas. Sebagai alibi, akibat tembakan itulah kemudian api kemarahan tersulut sehingga mengakibatkan terbakarnya Mesjid. Dengan kata lain, massa sebenarnya tidak ingin membakar Mesjid, namun api yang disulut massa ke kios, merembet ke Mesjid.

Selain itu, masih banyak informasi lain yang cenderung menyesatkan masyarakat dan mengadudomba antara Kepolisian, TNI dan masyarakat, sehingga jika dibiarkan maka ulah segelintir oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab itu sangat berpotensi menyulut kemarahan masyarakat yang lebih luas terhadap pihak Gereja Injili dan bahkan sangat berpotensi memperluas korban. Yang semula korban adalah dari pihak Mesjid, nantinya akan meluas ke pihak lain.


Dalam program lain, Komite  bersama Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, BAZNAS (Badan Amal Zakat Nasional), Forum Zakat, dan lain-lain, sudah memulai mengumpulkan dana masayrakat untuk program pembangunan fisik dan non fisik di Tolikara. Melalui Program bertagline “Damai Tolikara Damai Papua”, penggalangan dana ini diharapkan mendapat respon positif masyarakat luas agar pembangunan kembali Tolikara bisa segera dilakukan dalam waktu dekat. (Media Centre TPF. 21/7/2015).

Demikian pula, pernyataan sikap mengenai tragedi Tolikara terus berlangsang, dalam pantauan penulis, ini adalah kasus yang paling banyak mendapat reaksi dari berbagai kalangan yang melahirkan ragam pernyataan. Penulis hanya menyampaikan pernyataan sikap yang dilakukan gabungan Oramas dan tokoh masyarakat Sulawesi Selatan.
📢 📢
Pertemuan dilakukan pada hari Rabu, 22 juli 2015, bertempat di Gedung Pertemuan IMMIM. Hadir di dalam pertemuan, antara lain: Prof. Dr. Ahmad Sewang, sebagai Ketua Umum DPP IMMIM sekaligus tuan rumah, Dr. Rahmat Abd. Rahman, Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Sulsel, H. Waspada Santing, M. HI, Sekjen Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) Sulsel, Pengurus ICMI Orwil Sulsel, Prof. Dr. Arfin Hamid, dari PWNU Sulsel, Dr. Arfah Sidiq, Dr. Majdah Zain, Prof. Dr. Alimin Maidin, Dr. Abd. Hamid Paddu, dari KPPSI, H. Sirajuddin, dari Forum Umat Islam, Ust. Agussalim, dari FPI, Ust. M. Said Abd. Shamad dari LPPI Makassar, Ust. Ikhwan Abdul Jalil dari Wahdah Islmiah, dan Ust. Abd. Majid, dari Hidayatullah.

Pertemuan menghasilkan beberapa rekomendasi, antara lain: (1) Mendesak Kepolisian Republik Indoneia (RI), agar menyelesaikan tragedi Tolikara, dengan menindak tegas para pelaku kerusuhan, secara adil, obyektif, dan transparan; (2) Meminta Menteri Agama RI, agar mengkaji kembali Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), dan membubarkannya karena telah menunjukkan perbuatan intoleran dan tindakan teror;  (3) Mendukung  Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dalam upaya meninjau kembali Peraturan Daerah (Perda) tentang larangan mendirikan rumah ibadah, dan Perda tentang larangan jilbab, di Kab. Tolikara, serta mencabut perda tersebut, karena bertentangan dengan konstitusi RI; (4) Meminta kepada seluruh tokoh dan majelis-majelis agama, agar lebih intensif mendidik umatnya untuk hidup toleran bersama penganut agama lain, khususnya di daerah-daerah minoritas; dan (5) Menghimbau umat Islam, agar memberi kepercayaan kepada pihak Kepolisian RI, dalam rangka menyelesaikan kasus hukum tragedi Tolikara.

Para peserta pertemuan juga menyepakati pembentukan Presidium Forum Tokoh Masyarakat dan Ormas Islam Sulawesi Selatan untuk Kerukunan Antar Umat Beragama, dan menetapkan Dr. Rahmat Abd. Rahman, sebagai ketua Presidium. (http://wahdah.or.id/press-release-presidium-forum-tokoh-masyarakat-dan-ormas-islam-sulawesi-selatan-untuk-kerukunan-antar-ummat-beragama).

***
Sebagai penutup, saya juga ikut mengusulkan beberapa poin yang tak kalah pentingnya demi mencapai keharmonisan kedua belah pihak, Islam dan Kristen di Tanah Papua. Bahwa misi dakwah biarlah berjalan apa adanya, tidak boleh saling bermusuhan, dan terpenting, tidak ada paksaan dalam agama, apalagi memaksa salah satu pihak untuk menjalankan syariat agama lain, seperti larangan penggunaan jilbab yang dipandang dalam Islam sebagai sebuah syariat paten tanpa tawar-menawar, terlebih jika merecoki mereka yang sedang menjalankan ibadah. Tentu itu sebuah kesalahan fatal yang tidak boleh terulang kembali. Berikut saran saya:

Pertama. Agar semua pihak menahan diri, tidak mudah memprovokasi dan terprovokasi dari ragam berita. Jangan terlalu membesar-besarkan masalah, sehingga seakan tidak ada jalur lain dalam mengatasi tragedi Tolikara selain angkat senjata, padahal, perang adalah alternatif terakhir jika semua jalan damai telah tersumbat. Papua dan Tolikara adalah daerah yang semestinya menjadi lahan dakwah dengan rahmat bukan perang dan kekerasan.

Kedua. Untuk pihak pemerintah dan media-media mainstream agar jangan terlalu menyederhanakan masalah dengan mencari kambing hitam bahwa penyebab utama tragedi Tolikara hanya karena speaker. Atau menyebarkan isu bahwa yang terbakar bukan masjid tetapi hanya mushalla, itu pun tanpa sengaja. Juga menutup-nutupi bahwa tidak ada penyerangan terhadap jamaah Idul Fitri, melainkan hanya insiden biasa. Komentar sok tau semacam ini akan melahirkan dendam bagi pihak terzalimi dan tidak menutupi kemungkinan untuk timbulnya kekacauan serupa dengan alasan ketidak berpihakan pemerintah pada pihak korban.

Ketiga. Mengantisipasi masuknya pihak-pihak yang memancing di air keruh, atau memanfaatkan situasi ini untuk menjelekkan pemerintahan di mata internasional yang pada akhirnya menguntungkan pihak asing dan merugikan masyarakat lokal. Apalagi disinyalir pihak penginjil yang menjadi dalang kerusuhan hanya memanfaatkan masyarakat lokal yang tidak tau persoalan secara mendalam.

Keempat. Sebagaimana ditegaskan oleh KH Bacahtiar Nasir bahwa Tragedi Tolikara adalah bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan, petaka terhadap kerukunan hidup beragama, serta bibit ancaman yang meneror keutuhan NKRI. Untuk itu langkah hukum oleh aparat perlu secepat mungkin diambil untuk membongkar dan menangkap otak dalang di balik tragedi tersebut. Tragedi ini harus dipandang tak sekedar sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan, namun lebih jauh merupakan petaka terhadap kerukunan hidup beragama di Indonesia dan bara dalam sekam yang meneror keutuhan NKRI.

Kelima. Kepada pihak kepolisian RI, agar bersikap tegas dan segera menetapkan Pdt. Nayus Wenea, S.Th, dan Marthen Jingga, S.Th., M.A.  Ketua dan Sekretaris Gereja Injili di Indonesia Tolikara, sebagai tersangka, karena telah melakukan tindakan provokasi dengan mengeluarkan surat edaran larangan melakukan shalat Idul Fitri dan larangan berjilbab, dan dilakukan proses hukum atas keduanya.

Semoga Tragedi Tolikara dapat menjadi pelajaran buat kedua agama terbesar dunia, Islam dan Kristen, agar akur dan hidup dalam penuh harmonis. Berdakwah menyebarkan kedamaian dan rakhmat, bukan konflik, tragedi dan malapetaka. Jika Kristen menyebarkan cintah kasih maka Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. Walahu A'lam. [syahid/voa-islam.com]

Share this post..

latestnews

View Full Version