

LIBYA (voa-islam.com) - Seorang pejabat tinggi AS hari Ahad mengatakan bahwa tim ahli penjinak bom AS dan Libya telah mengamankan sekitar 5.000 rudal darat ke udara yang ditimbun selama rezim Muammar Gaddafi.
"Kami telah mengidentifikasi, membubarkan dan mengamankan lebih dari 5.000 MANPADS (Man-Portable Air Defence System), sementara ribuan lainnya telah dihancurkan selama pemboman NATO," kata Andrew Shapiro, asisten sekretaris negara untuk urusan politik dan militer kepada wartawan.
Puluhan rudal ini diledakkan di sepanjang pantai menghadap desa Sidi Bin Nur, timur Tripoli, saat Shapiro, dalam kunjungan satu hari ke Libya, menyaksikan peristiwa itu dari sebuah rumah aman di dekatnya.
Sebuah tim gabungan ahli penjinak bom AS dan Libya telah bekerja selama beberapa bulan ini untuk menemukan rudal yang hilang yang dilihat sebagai potensi ancaman terhadap penerbangan sipil.
MANPADS dianggap sebagai senjata potensial yang dapat digunakan oleh kelompok militan terhadap pesawat komersial dan helikopter. Rudal ini telah banyak digunakan dalam konflik militer.
Pada bulan September koordinator kontra-terorisme Uni Eropa Gilles de Kerchove mengatakan bahwa Al-Qaeda cabang Afrika utara telah memperoleh persediaan senjata di Libya, termasuk rudal darat ke udara.
"Karena gejolak di Libya, anggota Al Qaida di Maghreb Islam (AQIM) telah "mendapatkan akses untuk senjata, baik senjata kecil atau senapan mesin, atau rudal darat ke udara tertentu yang sangat berbahaya karena rudal-rudal itu menciptakan resiko untuk penerbangan di atas wilayah tersebut, "katanya.
..Libya, di bawah Kadhafi, dilaporkan merupakan negara dengan simpanan MANPADS terbesar diluar negara-negara yang memproduksi senjata tersebut..
Muammar Kadhafi memiliki persediaan 20.000 rudal yang ditembakkan dari bahu tersebut sebelum pemberontakan melawan dia pecah pada bulan Februari.
"Kami bekerja berdampingan dengan NTC untuk mengurangi ancaman senjata-senjata yang hilang itu," kata Shapiro setelah pembicaraan dengan para pejabat di Tripoli dari kementerian dalam negeri dan pertahanan Dewan Transisi Nasional yang berkuasa,
Ada sebuah "keprihatinan serius tentang ancaman yang ditimbulkan oleh MANPADS ... tentang potensi ancaman yang MANPADS dapat ciptakan untuk penerbangan sipil. Namun upaya kami dengan NTC untuk mengurangi ancaman ini sudah terbayar."
Shapiro mengatakan para kontraktor di lapangan masih dalam proses menilai berapa banyak rudal yang masih hilang.
Libya, di bawah Kadhafi, dilaporkan merupakan negara dengan simpanan MANPADS terbesar diluar negara-negara yang memproduksi senjata tersebut. Rudal-rudal itu, terutama SAM-7, diperoleh pada tahun 1970 dan 1980-an.
Shapiro mengatakan Amerika Serikat telah menghabiskan enam juta dolar dalam upaya untuk mengamankan senjata-senjata itu. Negara itu bermaksud untuk menghabiskan sampai 40 juta dolar untuk mengakhiri ancaman "senjata yang hilang," ini tambahnya.
Spesialis AS Skip Hartberger mengatakan kepada AFP bahwa rudal yang diledakkan pada Ahad ditemukan di berbagai bagian Libya dan bahwa beberapa dari rudal-udal tersebut dibuat di Rusia dan di Pakistan.
Beberapa SA-24 dan SA-7 buatan Rusia dan beberapa rudal anti-tank buatan Pakistan ditampilkan untuk wartawan sebelum diledakkan. (by/ant)