View Full Version
Senin, 28 Jan 2013

Menjaga Lisan Termasuk Bagian Iman

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Menjaga lisan berupa diam dari berkata yang mengundang kemarahan Allah 'Azza wa Jalla  merupakan fardhu 'ain atas setiap muslim dan muslimah. Lebih dari itu, menjaga lisan termasuk bagian dari iman.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau (jika tidak bisa) hendaknya ia diam." (Muttafaq 'Alaih)

Maksudnya: siapa yang beriman dengan keimanan yang sempurna hendaknya ia berkata yang baik, dan jika tidak maka hendaknya ia diam. Karena orang yang beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar maka ia mengharapkan pahala-Nya, takut ancaman-Nya, berusaha mengerjakan perintha-Nya, menjauhi segala larangan-Nya; di antara ia memelihara seluruh anggota tubuhnya agar tidak melakukan sesuatu yang mengundang kemurkaan-Nya. Salah satu anggota tubuhnya tersebut adalah lisannya.

Sesungguhnya urusan lisan sangat besar. Fitnahnya sangat banyak. Bahayanya juga tak terduga. karena gerakan lisan tidak memerlukan tenaga yang besar dan dilakukan sangat mudah. Di tambah banyak orang menggampangkan urusannya. Akibatnya, banyak orang masuk neraka karena kerja lisannya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ (أَوْ: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ) إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

"Apakah (ada) yang menyebabkan seseorang terjerembab di neraka di atas wajah (atau hidung mereka) kecuali disebabkan oleh tindakan lisan mereka'?" (HR. Al-Tirmidzi, beliau berkata: hadits hasan shahih)

Maka siapa yang mengimani hal ini dengan benar, maka ia akan bertakwa kepada Allah berkenaan dengan lisannya, sehingga ia tidak berbicara kecuali kebaikan atau –jika tidak- maka ia memilih diam.

Para ahli hikmah menyampaikan, "Di dalam diam terdapat keselamatan, sedangkan di dalam berbicara terdapat penyesalan. Jika berbicara adalah perak, maka diam adalah emas." Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version