View Full Version
Jum'at, 25 Apr 2014

Ini Dia Predator Sodomi Anak yang Pernah Mengajar Di JIS

JAKARTA (voa-islam.com) - Federal Bureau of Investigation (FBI) menyatakan predator seks buronannya William James Vahey yang pernah mengajar di Jakarta International School, adalah predator seks anak skala international.

William Vahey, buron FBI atas kasus paedofil pernah mengajar di Jakarta Interntional School (JIS). Vahey yang disebut paedofil internasional ini kini sudah tewas bunuh diri Maret lalu. Apa tanggapan JIS soal eks guru mereka yang pernah mengajar selama 10 tahun sejak 1992-2002?

Pria berusia 64 tahun itu,  mencari korban siswa di Amerika dan juga international. Dia memulai aksinya sejak menjadi guru private di Teheran Iran pada 1972.

Kasusnya terungkap setelah sebuah USB miliknya diserahkan pada FBI, dimana didalamnya memuat foto porno puluhan anak laki-laki, berusia 12 hingga 14 tahun. Mereka umumnya tengah tertidur atau tidak sadarkan diri.

Foto tersebut diambil di lokasi dan waktu yang berbeda, yang pernah dikunjungi Vahey bersama murid-muridnya. Vahey sendiri pernah dikonfirmasi mengenai foto tersebut, dan dia mengakui telah menganiaya banyak anak lelaki sepanjang hidupnya, dan memberikan obat tidur kepada mereka.

Agen FBI sudah memeriksa kembali foto-foto tersebut sejak 2008 lalu, dan menduga setidaknya ada 90 korban dari aksi Vahey. FBI sendiri telah mendorong korban dari Vahey untuk melapor untuk mengungkap kasus tersebut.

Vahey, yang tinggal di London dan pulau Hilton Head Island, Carolina Selatan, seringkali bepergian ke luar negeri selama empat dekade terakhir. Dia selalu bekerja sebagai sekolah menengah dan guru SMA di beberapa sekolah internasional Amerika di setidaknya sembilan negara yang berbeda.

Dia biasanya mengajarkan sejarah, geografi , dan ilmu sosial. Selain itu, dia juga melatih tim basket junior di universitas untuk anak laki-laki. Dia juga seringkali menjadi guru pendamping dalam trip menginap murid-murid yang diajarnya itu.

Berikut Sekolah-sekolah yang pernah disinggahi Vahey:

- American Nicaraguan School in Managua, Nicaragua (2013-2014)

- Southbank International School in London, United Kingdom (2009-2013)

- Escuela Campo Alegre in Caracas, Venezuela (2002-2009)

- Jakarta International School in Jakarta, Indonesia (1992-2002)

- Saudi Aramco Schools in Dhahran, Saudi Arabia (1980-1992)

- American Community School in Athens, Greece (1978-1980)

- Passargad School in Ahwaz, Iran (1976-1978)

- American School of Madrid in Spain (1975-1976)

- American Community School of Beirut in Lebanon (1973-1975)

- Tehran American School in Iran (1972-1973) (fbi.gov)

Polri Segera Tangkap Kepala Sekolah JIS

Korban Pelecehan seksual kembali bertambah dan terjadi di lingkungan sekolah. Kali ini menimpa M (5), siswa TK di Jakarta International School (JIS), Cilandak Jakarta Selatan, yang disodomi oleh petugas kebersihan (cleaning service) sekolah.

Dengan pilu, T (40), ibu korban, menceritakan awal mula terungkapnya aksi bejat yang menimpa buah hatinya tersebut.

"Anak saya baru cerita sekitar tanggal 20 Maret kemarin. Itu juga (cerita) setelah saya tanya. Saya ajak ke kamar untuk ngomong berdua," ucap T kepada wartawan, di Jakarta Selatan, Senin (14/4).

Polda Metro Jaya diminta segera menangkap Kepala Sekolah Taman Kanak-Kanak Jakarta International School (JIS). Pasalnya disekolah tersebut, telah terjadi dua kasus tindak pidana berat. 

"Pertama, kekerasan seks terhadap anak (fedopilia). Kedua, mengoperasikan sekolah tanpa ijin," ujar Ketua Presidium, Neta S Pane, melalui siaran pers, Kamis (24/4).
 
Menurut Neta, Kepsek tersebut telah melanggar Pasal 71
Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional, dengan ancamannya 10 tahun penjara dan atau denda Rp 1 miliar.
 
"Kapolda Metro Jaya tidak perlu takut dengan orang asing yang ada di JIS. Sebab sistem hukum di Indonesia tidak mengenal diskriminasi," kata dia.
 
Selain itu, dikatakan Neta, Sekolah internasional tersebut memang terindikasi menjadi sarang fedopilia."Buktinya, FBI
sempat memburu mantan guru JIS yang melakukan fedopilia," kata dia.

Berikut 5 fakta pencabulan terhadap M:
1. Dilakukan di kamar mandi sekolahPencabulan terhadap M, diketahui setelah T, ibu korban, melihat kejanggalan yang terjadi pada anaknya itu. "Pertengahan Maret ia jadi sering ketakutan, mengigau dan berteriak ketika tidur," tutur T.

Kegundahan T semakin menjadi setelah melihat luka memar di bagian kanan perut M anaknya. Kemudian, sang anak mengaku 'dinakali oleh seseorang'.

"Saya sudah menangis, anak saya mendapat tindakan kekerasan seksual di kamar mandi sekolah," ucap T sedih.

"He puts the b**d inside my butts so deep," ujar T seraya menirukan perkataan anaknya saat ditanya.


2. Korban digilir dua pelaku

Merdeka.com - Setelah mendapatkan pengakuan dari anaknya, T (40), ibu korban, langsung melapor kepada polisi. Polisi langsung mengamankan dua pelaku atas nama Agung dan Awan. "Agung dan Awan ini sudah ngaku ke polisi," ucap T kepada wartawan di Jakarta, Senin (14/4).

Namun ternyata polisi juga mengamankan dua pria atas nama Zainal dan Anwar. Keduanya, merupakan pegawai JIS yang direkrut dari outsourcing.

"Kalau menurut pengakuan Agung dan Awan, awalnya Agung yang menjaga toilet. Saat itu Agung izin break makan siang lalu digantikan Awan. Nah, Awan yang duluan mencabuli anak saya. Lalu dia tunggu Agung, kemudian begitu Awan selesai, Agung mencabuli anak saya," jelas T.

"Jadi anak saya digilir," tegas T sambil menahan tangis.
3. Pelaku pakai kondom

Merdeka.com - Korban M dengan polosnya juga menyebut bahwa pelaku mewarnai kemaluannya sehingga berwarna pink. "Bapak mewarnai bird-nya jadi pink than become a giraffe (jerapah)," tutur T menirukan ucapan M.

Mendengar hal itu, T pun bingung atas makna jerapah yang dikatakan M dan bertanya ke salah satu saudaranya. "Saudara saya bilang mungkin yang dimaksud anak saya itu kondom," jelasnya.

Keesokan harinya, T pun menanyakan hal itu dengan M namun semua dibuat perumpamaan. "Besok paginya saya kasih urutan pensil, pulpen dan kondom. Waktu itu anak saya sedang main iPad dan langsung menunjuk salah satu dari ketiganya," ucap T.

"That one," ucap T menirukan perkataan M yang menunjuk sebuah kondom.

4. Anus korban membusuk dan kena herpes

Merdeka.com - Akibat perbuatan bejat pelaku, M juga mengalami penyakit. "Anus anak saya itu setengah sudah membusuk. Dan permasalahannya anak saya juga kena herpes, sedangkan di tubuh Agung dan Awan tidak ditemukan gejala herpes. Berarti ini masih jadi pertanyaan siapa yang menularkan herpes ke anak saya," jelas T dengan menggebu-gebu.

Selain itu, lanjut T, polisi juga menemukan sejumlah bakteri yang sama di kemaluan kedua pelaku dan anus korban M

5. Korban diancam dipukul

Merdeka.com - Kepada ibundanya, M juga menuturkan dirinya diintimidasi dan diancam jika tidak mau mengikuti kemauan pelaku.

"Another time aku sudah enggak mau Mom, tapi kalau enggak mau dipukul. Disuruh enggak boleh berisik. Dibuka semua bajuku. Aku nangis tapi enggak boleh," ucap T menirukan pengakuan M anaknya.

Dari pengakuan M, T pun melapor ke polisi. "Saya lapor polisi tanggal 22 Maret. Setelah diselidiki polisi mengamankan dua orang yaitu Agung dan Awan yang ternyata cleaning service sekolah anak saya," jelas T.

6. Korban enggan pakai celana

Merdeka.com - Akibat pencabulan yang dialaminya, M kini enggan memakai celana lantaran dirinya kerap buang air kecil jika memakainya.

"Sekarang dia kalau di rumah setengah telanjang. Hanya pakai baju saja. Kalaupun mau diajak keluar dia harus dibujuk dulu untuk memakai celana," ucap T lirih.

Rikwanto menjelaskan, hasil tes lab yang dilakukan kepada pelaku penyidik menemukan antara bakteri di korban dan yang ada pada kemaluan pelaku identik. [berbagaisumber/adi/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version