View Full Version
Rabu, 13 Nov 2019

Cinta Rasulullah, Pasti Cinta Syariat

 

Oleh :

Ummu Farah

Narasumber Kajian Muslimah MQ Lovers Bekasi

 

PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad SAW yang diperingati pada 12 Rabiul awal, jatuh pada tanggal 9 November 2019. Umat muslim di Indonesia biasanya mengadakan peringatan kelahiran Nabi ini dengan kegiatan keagamaan seperti pengajian, penyebaran suri tauladan nabi, sampai lomba-lomba yang bertemakan keagamaan. 

Bahkan ada agenda-agenda unik yang rutin yang diselenggarakan di wilayah-wilayah Indonesia untuk memperingati maulid ini seperti Grebeg Maulud di Kraton Yogyakarta, Bungo Kado di Sumatera Barat, Gerebek Keresan di Mojokerto, Maudu Lampoa di Sulawesi Selatan dan Panjang Jimat di Kraton Kasepuhan Cirebon, juga masih banyak tradisi unik yang lain. (IDN TIMES, 20 November 2018).

Yang jadi soal, apakah yang kita semua lakukan, baik itu tradisi atau sekadar perayaan syukur atas kelahiran Rasulullah ini sudah sesuai syariat atau belum? Karena sudah pasti, tujuan kita merayakan adalah menunjukkan cinta kita kepada Rasulullah, bukan yang lain.

Saat Grebeg Maulud contohnya, apakah yang mendorong banyak orang berebut gunungan yang diarak di jalan. Seorang reporter meliput dengan mewawancara beberapa orang yang hadir ke acara itu. Salah seorang "untuk ngalap berkah" (mencari berkah). Sebagian malah menjawab "iseng cari hiburan, daripada diam di rumah".

Apalagi kalau kita melihat situasi saat berebutan gunungan itu; laki-laki atau wanita, tidak dibedakan, semua menggeruduk satu titik yaitu sesaji yang diarak itu. Bisa saja kena sikut orang hanya gara-gara berebut sesaji itu, bisa juga aurat tersingkap atau tersentuh orang yang bukan mahram hanya karena keinginan mendapat sesaji itu. Naudzubillahi min dzalik.

Kalau melihat dari peristiwa itu, ibarat kata pepatah jauh panggang dari api. Tujuannya ingin mengingat kelahiran Nabi SAW dan tumbuh rasa cinta mendalam kepada Sang Nabi. Malah yang terjadi hal sebaliknya. Syariat yang dibawa oleh nabi 'dinjak-injak'. Hukum tentang ikhtilath (haramnya campur aduk antara pria dan wanita yang bukan mahram) dilanggar dan kemudian hal-hal yang berbau klenik terjadi. Ada kepercayaan kalau berhasil membawa sesaji pulang ke rumah, rezeki akan bagus selama setahun. Naudzubillah. Arrizqu biyadillah. Rezeki itu berasal dari Allah, bukan dari benda-benda CiptaanNya.

Sudah selayaknya, perwujudan cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW adalah meneladani beliau dalam segala aspek, tidak tebang pilih. Yang 'enak' diambil, yang 'eneg/gak enak' tidak diamalkan. Padahal, teladan Rasul saw. dalam semua aspek itu harus kita contoh. Kita harus berusaha merealisasikan keteladanan beliau di dalam menjalani hidup dan mengelola kehidupan. Hal itu sebagaimana yang Allah SWT perintahkan kepada kita:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa saja yang Rasul berikan kepada kalian, terimalah. Apa saja yang dia larang atas kalian, tinggalkanlah. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sungguh Allah amat keras hukuman-Nya (TQS al-Hasyr [59]: 7).

 

Imam az-Zamakhsyari (w. 538 H) menjelaskan makna ayat ini bersifat umum. Meliputi segala yang Rasul saw. berikan dan segala yang beliau larang, termasuk di dalamnya perkara fay’. (Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyâf, 4/503).

Salah satu aspek teladan Rasul saw. yang saat ini penting untuk diaktualisasikan adalah teladan kepemimpinan Rasul saw. Teladan kepemimpinan Rasul saw. itu, ketika diaktualisasikan di tengah kehidupan, akan bisa menyelesaikan problem-problem yang mendera masyarakat modern ini. Sekaligus membawa pada kehidupan yang dipenuhi ketenteraman dan berkah. Bagi kita, kaum muslimin, hal itu tentu kita yakini seiring dengan keyakinan kita terhadap Islam yang Rasul saw. bawa kepada kita.

Rasulullah Muhammad saw. bukan hanya pemimpin spiritual (za’îm rûhi), tetapi juga pemimpin politik (za’îm siyâsi). Dalam konteks saat ini, beliau dapat disebut sebagai pemimpin negara (ra’îs ad-dawlah). Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ

Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk ditaati dengan izin Allah (TQS an-Nisâ` [4]: 64).

Rasul saw. juga memberikan teladan bagaimana menjalankan sistem pemerintahan Islam. Beliau membangun struktur Negara. Beliau menunjuk dan mengangkat para penguasa baik mu’awin, wali maupun ‘amil. Beliau menunjuk dan mengangkat para panglima dan komandan pasukan. Beliau membentuk kepolisian dan mengangkat kepala polisinya. Beliau mengangkat qâdhi (hakim) untuk berbagai wilayah. Beliau juga mengangkat para pegawai administratif yang disebut kâtib untuk berbagai urusan. Semua itu merupakan penjelasan atas kewajiban menerapkan hukum-hukum Islam.

Rasul saw. juga menyatukan dan melebur masyarakat yang beliau pimpin menjadi satu kesatuan umat dengan ikatan yang kokoh, yakni ikatan akidah Islam. Beliau sekaligus melenyapkan ikatan-ikatan ‘ashabiyyah jâhiliyah, seperti ikatan kesukuan dan kebangsaan.  

Menarik sekali bagaimana KH Hasyim Asy’ari rahimahulLâh melukiskan kecintaan kepada Allah dan Nabi yang seharusnya berada di atas kecintaan terhadap suku, bangsa dan ras. Berikut ini kutipan tulisan beliau:

“Lalu hilanglah perbedaan-perbedaan kebangsaan, kesukuan, bahasa, mazhab dan nasionalisme yang selama ini menjadi penyebab permusuhan, kebencian dan kezaliman. Masyarakat pun–atas nikmat Allah–berubah menjadi bersaudara. Jadilah orang Arab, orang Persia, orang Romawi, orang India, orang Turki, orang Eropa dan orang Indonesia semuanya berperan saling menopang satu sama lain sebagai saudara yang saling mencintai karena Allah. Tujuan mereka semua hanya satu, yaitu menjadikan kalimat Allah menjadi unggul dan kalimat setan menjadi hina. Mereka mengabdi demi Islam dengan ikhlas. Semoga Allah mengganjar mereka dengan sebaik-baik balasan. Inilah Salman al-Farisi, Shuhaib ar-Rumi, Bilal al-Habasyi, dan yang lainnya. Mereka adalah di antara yang beriman kepada Allah dengan ikhlas, memperjuangkan dan menolong Islam dengan segala kekuatan yang mereka miliki, memprioritaskan kepentingan Islam di atas kepentingan bangsa dan kaum mereka. Ini karena mereka memandang bahwa ketaatan kepada Allah adalah di atas segalanya dan bahwa kebaikan atas kemanusiaan ada pada pengabdian mereka pada Islam.” (KH Hasyim Asy’ari, Irsyâd al-Mu`minîn ilâ Sîrah Sayyid al-Mursalîn, hlm 44).

Terakhir, marilah kita merenungkan pesan nabi dalam sunnah-nya:

«…فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ فَتَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ…»

“…Sungguh siapapun dari kalian yang berumur panjang sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak.  Oleh karena itu kalian wajib berpegang pada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.  Berpegang teguhlah pada sunnah itu dan gigitlah itu erat-erat dengan gigi geraham….” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi).

Mencintai Rasulullah adalah mencintai syariat yang beliau bawa. Mencintai Rasul adalah beriman pada akidah Islam dan beramal sesuai syariat. Jika tidak, jangan-jangan cinta kita kepada Nabi adalah cinta palsu.*


latestnews

View Full Version