View Full Version
Selasa, 11 Feb 2014

Sudjadnan : Megawati Bukan Contoh Pemimpin Baik

JAKARTA (voa-islam.com) - Di tengah gemuruhnya pujian terhadap Ketua Umum PDIP dan mantan Presiden Megawati, justru sebeliknya, mantan Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri Sudjadnan Parnohadiningrat mengaku kecewa dengan mantan presiden Megawati Soekarnoputri.

Menurut manan Sekjen Departemen Luar negeri itu, Megawati enggan bertanggung jawab. Padahal telah memerintah terkait dengan penyelenggaraan konferensi internasional. Dalam kurun waktu 2003-2004, pemerintah mengadakan 17 konferensi internasional.

"Pada Oktober 2003 itu, pelaksananya nomor satu Hasan Wirajuda (Menteri Luar Negeri), nomor dua saya, perintah datang dari Bu Mega demi negara dan bangsa," kata Sudjadnan di halaman gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Senin, 10 Februari 2014.

Sudjadnan menilai Megawati bukan pemimpin yang baik karena memerintahkan anak buah, dan anak buah itu melaksanakan perintah dengan baik, tapi tak membela anak buah ketika ada kesalahan.

Sudjadnan mengaku bersalah secara prosedural. Namun dia enggan disebut koruptor. "Saya tak nyolong duit negara. Saya melaksanakan perintah jabatan sekaligus perintah negara. Hasilnya, 106 kepala negara dalam dua tahun mendatangi konferensi dan negara mendapat Rp 43 triliun. Tapi hadiah bagi saya adalah penjara Cipinang," katanya. 

Sudjadnan menjadi tersangka kasus dugaan korupsi penggunaan dana penyelenggaraan beberapa konferensi internasional Departemen Luar Negeri. Perbuatannya diduga mengakibatkan kerugian hingga Rp 18 miliar. "Nah, Rp 18 miliar dari mana? BPK saja belum mengaudit," kata Sudjadnan. "Ada bendahara dan panitia, mereka yang bayar pada rekanan."

Kalau ditelisik lebih luas, memang Mega tidak bertanggungjawab terhadap anak buahnya, tetapi selama berkuasa Mega menjual Indosat, menjual gas ‘tangguh’ kepada Cina dengan harga yang sangat murah. Mega membebaskan para obligor kakap yang sudah ‘nggarong’ dana BlBI Rp 650 triliun, sebagian besar Cina, dan sekarang lari ke Singapura.

Sekarang para pendukung Jokowi yang menjadi anak buah Mega, bergemuruh ingin menjadikan Jokowi sebagai presiden. Padahal, Jokowi tidak lebih baik dan pinter dibandingkan dengan Mega alias ‘sami wamon’.

Jokowi menangani banjir dan kemacetan di Jakarta tak becus. Jakarta sudah dua kali mengalami kebanjiran yang dahsyat di era Jokowi. Macet masih terjadi setiap hari. Kemampuan Jokowi hanya melakukan sterilisasi jalur busway. Menjadikan target tahun 2014, Jakarta bebas ‘topeng monyet’. Selebihnya, membeli bus tranjakarta dari Cina yang sudah ‘butut’, padahal, dananya dari APBD.

Jokowi yang menjadi anak buah Mega itu, tidak ‘pro rakyat’, dan mengusir para pedagang kaki lima, rakyat di danau Sunter. Sementara itu, mereka tanpa memiliki kejelasan nasib yang sudah digusur dari danau Sunter, meskipun konon diberikan rumah susun, tetapi sampai sekarang tetap tidak jelas nasib mereka, dan menyedihkan.

Sementara itu, Jokowi yang namanya sudah 'moncer' oleh rekayasa, sejatinya hanyalah boneka konglomerat Cina, yang sudah mengemplang BLIBI. Diantara tokoh evengelis, seperti James Riyadi, dan ingin menjadikan Indonesia sebagai negeri Kristen dengan gerakan membangun rumah sakit Siloam, mall, sekolah kristen, gereja, dan menganggarkan setiap tahun $ 100 juta dollar. (dbs/afgh/voa-islam.com)


latestnews

View Full Version