View Full Version
Rabu, 25 Jan 2017

Apakah Agama Ini Akan Digerogoti Sedangkan Aku Masih Hidup?

Oleh: Ustadz Abu Hamzah al-Bassam

Apakah agama ini akan digerogoti sedangkan aku masih hidup?? Itulah kata-kata yang diucapkan oleh Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu dalam kondisi umat Islam yang paling genting, yaitu sebagaimana komentar Urwah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu: “Kondisi tersebut adalah seperti domba yang kehujanan ditengah malam yang gelap, karena umat Islam ketika itu sedang kehilangan Nabi mereka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, karena jumlah mereka sedikit dan justru jumlah musuh begitu banyak”.

Abu Bakar ash-Shidiq mengucapkannya ketika sebagian kabilah menolak untuk membayar zakat sepeninggal Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Ketika itu Abu Bakar sendiri tidak habis pikir, bagaimana mungkin agama ini akan digerogoti sedangkan beliau masih hidup. Beliau mengucapkannya dengan rasa yakin bahwa setiap orang diantara kita bertanggung jawab untuk menolong agama, dan hanya orang yang peduli lagi sibuk dalam menolong agama lah yang mungkin untuk merubah situasi.

Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu kemudian berdiri seraya berkata: “Sungguh, wahyu telah terputus dan agama telah sempurna, maka apakah agama ini akan digerogoti padahal saya masih hidup?!”.

Abu Bakar tetap memerangi orang-orang murtad tanpa mengatakan bahwa kondisinya saat itu sedang sulit, para sahabat sedang bersedih dan para tentara dalam kondisi tidak fit. Justru beliau melihat bahwa kesempurnaan agama dan menjaga keutuhan syariat Ar-Rahman sebagaimana ketika diturunkan kepada Rasul adalah hal prinsip. Maka, terjadilah pertempuran melawan orang-orang murtad sehingga agama ini tetap terjaga dan kekuatan kabilah-kabilah pembangkang bisa dihancurkan.

Tetapi, kata-kata ini bukan hanya menjadi batu loncatan dalam memerangi orang-orang murtad saja, namun hal ini adalah prinsip hidup para sahabat dan tabi’in serta generasi yang mengikuti kebaikan mereka hingga hari kiamat.

Kata-kata Abu Bakar ini dikemudian hari juga menjadi slogan Imam Ahmad bin Hambal pada hari ujian dianggapnya Al-Qur’an sebagai makhluk. Beliau seorang diri tetap tegak berdiri sebagaimana Abu Bakar, sehingga Al-Hafidz Ali bin Al-Madiny berkata: “Sungguh Allah telah memuliakan agama ini dengan dua orang lelaki, dan tidak ada yang ketiga. Yaitu Abu Bakar pada waktu hari kemurtadan dan Ahmad bin Hanbal pada hari ujian (Al-Qur’an dianggap sebagai makhluk)”.

Ujian Bahwa Al-Qur’an Dianggap Makhluk

Ujian ini terjadi setelah Al-Makmun menjabat sebagai khalifah, dan terpengaruh oleh pemikiran Mu’tazilah serta mendekatkan mereka kepadanya. Akhirnya Al-Makmun pun mengadopsi aqidah yang rusak ini, yaitu beranggapan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.

Al-Makmun memerintahkan tentaranya untuk menangkap Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh agar dibawa kehadapannya. Maka kedua ulama tersebut dibawa dalam keadaan dirantai pada satu onta. Dan Muhammad bin Nuh meninggal ditengah jalan di Thursus sebelum sampai tempat Al-Makmun.

Namun, ujian bagi Imam Ahmad belum berhenti. Setelah kematian Al-Makmun, diangkat Al-Mu’tashim sebagai khalifah, dan diapun berkeyakinan menyimpang seperti bapaknya. Al-Mu’tashim minta Imam Ahmad dikeluarkan dari penjara dan dibawa kehadapannya, lalu dihadapkan untuk diskusi dengan ulama penguasa. Perdebatan ini berlangsung selama 3 hari. Imam Ahmad tetap teguh dan tegas dengan ucapannya, dan beliau rahimahullah tidak takut dengan kekerasan dari penguasa.

Al-Mu’tashim memerintahkan untuk menyiksanya, dan para tentara berulang kali menyiksa dan bergantian mencambuk Imam Ahmad, lalu mengurungnya kembali, dan ketika Imam Ahmad sadar dari pingsannya, beliau dapati daging dipunggungnya berjatuhan, tulang rusuk dan tangan beliau sudah patah.

Tidaklah aneh jika ujian yang dialami Imam Ahmad kala itu akan menimpa orang-orang sholeh dan penegak syariat hari ini yang tetap komitmen dan istiqomah dalam memegang tauhid dan dengan memegang kebenaran agama Allah, meskipun mereka dijuluki teroris dan julukan lainnya.

Sebagaimana perkataan Waroqoh bin Naufal kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, “Tidak ada seorangpun yang datang membawa seperti yang engkau dakwahkan pasti akan dimusuhi”.

Sebagaimana Imam Ahmad yang teguh dengan kebenaran, maka dilain pihak ada ulama penguasa yang membungkuk ke kursi penguasa untuk menjilatnya, dan tidak pernah sepi satu zamanpun dengan tipe penguasa dan ulama penguasa seperti ini. Mereka datang dan meminta kepada Al-Mu’tashim untuk membunuh Imam Ahmad agar bisa membungkam kebenaran yang membuat mereka tidak bisa tidur karenanya. Namun kehinaan meliputi mereka ketika mereka berkata, “Kami membunuh Imam Ahmad dan darahnya ada di leher-leher kami.”

Pertanyaannya sekarang: “Apakah agama ini akan digerogoti dan engkau masih hidup?”

Sebelum engkau menjawab pertanyaan ini, ulang terus jawaban itu pada hatimu, perhatikanlah kewajibanmu terhadap agamamu, maka engkau akan mengatakan kepadaku, apa yang mungkin bisa aku perbuat??!! Sungguh Allah T’ala telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia,

لا تكلف إلا نفسك و حرض المؤمنين

Tidaklah dibebankan kecuali dirimu dan doronglah kaum Mukminin untuk berperang”.

Adapun dirimu diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran dan membela dien ini, maka hendaklah engkau tolak kedzaliman dan kerusakan dengan tanganmu. Jika engkau tidak mampu menolak dengan lisanmu dan penamu, maka jelaskan kebenaran kepada manusia dan jadikanlah mereka semua tentara dibawah panji “LAA ILAAHA ILLALLAH”. Bisa jadi penjelasanmu menjadi sebab terbukanya hidayah Allah bagi orang lain sehingga menjadi dasar prinsip generasi yang akan datang dalam membebaskan umat.

Janganlah engkau meremehkan dalam menyebarkan nasehat. Imam Ahmad disiksa dan Sayyid Quthub dihukum gantung karena sebab tulisan-tulisan dan nasehatnya kepada umat, maka janganlah engkau meremehkan nasehat. [PurWD/AbuAisyah/AkhlakMulia/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version