View Full Version
Kamis, 13 Feb 2014

Keterlaluan! Adonan Roti Pakai Sampah Rambut Manusia?

Sahabat Keluarga Voa-Islam...

Roti, pastinya masuk daftar makanan favorit kita selain nasi. Hadiah peninggalan kolonialisme untuk negeri kita ini tentunya sudah menjadi makanan yang familiar di setiap golongan masyarakat. Dan seiring dengan majunya jaman dan canggihnya teknologi, maka roti pun berkembang pesat dengan macam-macam variasinya. Dari roti yang terbuat dari tepung terigu putih, sampai roti yang terbuat dari tepung gandum warna coklat atau jagung.  Dan menurut tabloid cara hidup yang sehat, maka roti yang terbuat dari tepung gandum warna coklat adalah yang terbaik bagi kesehatan. Saya kira anda semua pasti mengetahui informasi ini. Pilihanlah roti yang berwarna coklat (red; coklat bukan karena bumbu Cacao), karena roti ini mula dari bagaimana anda sadar akan makanan yang sehat.

Nah, bicara soal roti dan kebetulan saya kini berdomisili di negeri yang menu hari-harinya sarat dengan roti. Sarapan pagi; roti, lunch siang; roti, makan malam pun bisa roti menjadi pengganti menu utama makan malam. Roti, bagi masyarakat Eropa adalah menu utama di samping kentang dan pasta. Tidak ada kentang, silahkan makan roti, tidak punya pasta silahkan nyemil roti. Demikian motto roti bagi masyarakat Eropa.

Oleh karena roti ini demikian pentingnya, maka tidak mengherankan mutu / kualitas roti dari waktu ke waktu selalu ketat diperhatikan terkait segi kesehatan manusia,  baik bagi mereka yang sehat, pasien diabetes, jantung, cholesterol, hypertensi dan lain-lain penyakit akut, dan HAM / hak azasi manusia. Bahkan sampai Komisi EU pun melindungi hal ini.

Menarik untuk kita ketahui, amankah roti yang kita beli di supermakert sebagai konsumsi makanan kita?

Ketika saya menonton acara pada televisi Belanda - kanal KRO terkait acara Keuringdienst van Waarde, kalau di Indonesia hampir sama dengan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), tiba-tiba saja perut saya jadi mulas karena ingat roti yang  baru saja saya makan bisa jadi terkontaminasi bahan kimia L-Cysteine. Apa itu L-Cysteine, dan mengapa harus ada di dalam bahan makanan roti?

Pertanyaan ini akan lebih ramai kalau kita pertanyakan pada pabrik yang membuat makanan roti. Nah, apakah mereka menggunakan bahan kimia L-Cysteine sebagai bahan pengawet, pelembut struktur untuk roti? Bila kita mengolah sendiri roti di rumah sebagai bahan konsumsi sehari-hari tentunya kita menghindari pemakaian L-Cysteine, namun pada pabrik roti tentunya perhitungan produk yang tahan lama / awet, roti yang lembut dan halus strukturnya merupakan jaminan utama bagian marketing.

BPOM Belanda ternyata menemukan beberapa roti pada supermarket dimana pada etiketnya tertera salah satu ingredientnya adalah L-Cysteine. Bahan kimia ini bahan dasarnya berasal dari bulu binatang, terutama bulu sapi, babi, dan bebek.

13918556691133340466

Sumber: image L-Cysteine /wikipedia



Saya bukan akhli kimia, sebagai bahan informasi bagaimana terbentuknya L-Cysteine secara senyawa kimia bisa kita lihat pada diagram di atas ini.

Ternyata, nah ini  dia ... ternyata ketika L-Cysteine dalam pengolahan bukan hanya menggunakan bulu yang berasal dari binatang saja, tetapi juga rambut manusia! Kita semua bertanya, darimana asal produk kimia L-Cysteine sebagai bahan penambah bumbu lezat dan tahan lamanya makanan roti ini ternyata jawabannya dari China.China pengekspor terbesar untuk Eropa bahan kimia L-Cysteine.

Lalu apa kaitannya rambut manusia yang secara sengaja oleh pabrik di China di masukkan ke dalam olahan senyawa kimia L-Cysteine? jawabannya adalah;

> Dalam senyawa L-Cysteine ternyata 20% berasal dari bahan dasar bulu binatang bebek, dan 80% berasal dari sampah potongan rambut manusia.

> Rambut manusia lebih murah dibandingkan dengan bulu binatang. Sebab itu di China kap salon (tempat gunting rambut) rata-rata menjual hasil sampah potongan rambut manusia ini ke pabrik yang membuat L-Cysteine.

Saya copy cuplikan video dari KRO televisi Belanda yang menayangkan bagaimana pabrik di China mengolah sampah rambut manusia untuk akhirnya di sulap menjadi bahan kimia L-Cysteine yang siap untuk di campurkan ke dalam makanan manusia, dalam hal ini salah satunya rambut manusia. 1391856510730185885

Saya saksikan bagaimana kotornya sampah rambut manusia yang berasal dari kap salon (tempat gunting rambut). Di samping sampah potongan rambut manusia juga terlihat puntung rokok, korek kuping (bah!) dan kertas tissue kotor. Meskipun terjadi seleksi, tetap saja sampah potongan rambut itu semua benar-benar tidak hygiene. Dan secara mulus di ekspor ke Eropa sebagai bahan kimia pengawet makanan. Eropa bukan satu-satunya negara tujuan ekspor L-Cysteine China, tetapi juga Amerika Serikat dan Asia. Keterlaluan!

Bagaimana konsumen menghadapi hal ini?

Di jelaskan trik bagaimana kita mengetahui apakah roti yang kita beli dari supermarket itu aman dari bahan kimia L-Cysteine produksi China yang jelas-jelas menggunakan sampah potongan rambut manusia ketimbang binatang adalah;

a. Sebelum membeli roti, silahkan baca etikel yang tertera sebagai susunan bahan-bahan pembuatannya seperti kadar gula, pengawet, tepung, dan lain-lain.

b. Roti yang menggunakan bahan kimia L-Cysteine sebagai pengawet maka struktur roti akan lebih lembut dan halus. Sedangkan roti yang tidak menggunakan L-Cysteine sebagai bahan pengawet strukturnya lebih kasar dan tidak supel.

Nah, yang mana yang lebih anda suka? Yang lembut dan bagus strukturnya serta awet, atau yang tidak supel tetapi tidak mengandung bahan kimia berbahaya bagi kesehatan kita? Semuanya berpulang kepada kearifan kita memilih makanan yang sehat.

Apakah itu berarti kita Kanibal?

Jawabannya variasi, di satu pihak mengatakan;

- ''Ya kita kanibal, karena kita makan juga bagian dari tubuh manusia.'' Dan ini berarti pelanggaran HAM.

Di lain pihak tetap positive dengan apa yang secara nyata terjadi;

-  ''Tidak, karena bagian itu toh sudah mati sama seperti kita menggigit kuku kita sendiri, atau selembar rambut yang masuk dalam makanan dan secara tidak sengaja masuk ke dalam mulut kita.''Siapa yang harus kita salahkan dalam hal ini?

- Produsen, dalam hal ini China sebagai pengekspor besar di dunia. Langkah apa yang harus kita berikan sebagai sanksi untuk pelanggaran ini?

- Komisi EU terkait bidang pengamanan bahan makanan dan minuman yang  ternyata lengah atau sengaja lengah karena memilih jalur hubungan perekonomian.

- Pabrik roti karena mereka lebih memilih produk yang lebih murah ketimbang mematuhi peraturan Kementrian Kesehatan.

- Kita sendiri - konsumen yang tidak jeli dan lebih suka memilih yang murah meriah.

Satu hal yang jelas, anda menyukai mengolah roti sendiri sebagai konsumsi keluarga maka anda memilih jalan yang tepat. Pilihlah bahan-bahan yang aman dari kontaminasi bahan-bahan kimia meskipun bahan-bahan ini diproklamirkan sebagai campuran yang aman.

Pada pertemuan produsen bahan kimia untuk makanan di Frankfurt - Jerman utusan China tidak mengizinkan kunjungan Keuringdienst van Waarde Belanda untuk mengunjungi pabrik L-Cysteine di China, agar pengolahan L-Cysteine bisa disaksikan dari dekat, dengan alasan  pemilik pabrik di China khawatir produksi mereka akan di tolak oleh Eropa oleh karena sikon pabrik pengolahan demikian kotor tidak memenuhi persyaratan kebersihan sebuah pabrik.  Sedangkan di lain pihak Eropa menyambut hangat kerja sama bidang perekonomian dengan China - Welcome China !

Siapakah yang bodoh sebenarnya? Kalau saya katakan, dua-duanya bodoh-bodoh pintar. Tidak China tidak juga negara pengimport. Dua-duanya hanya memikirkan bagaimana hubungan perekonomian tetap berlangsung, tidak menjadi masalah apakah kesehatan manusia menjadi taruhannya. yang penting target. Manusia sehat, maka sepilah tempat praktek para dokter, manusia mengolah sendiri roti di rumah, maka tutuplah pintu pabrik roti. Dengan kata lain, perekonomian ''berhenti- mati!'' (da08022014nl)

Referensi; KRO.nl

Tags saya untuk;  BPOM Indonesia, Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI

--©DellaAnna2014--


latestnews

View Full Version