View Full Version
Sabtu, 22 Feb 2020

Keinginan Seorang Wanita Saat Menanti Jodoh

 

Oleh:

Santi, Mahasiswi STEI SEBI

 

KETIKA usia sudah tak remaja lagi, melihat undangan pernikahan terus berdatangan begitu banyak kerumah. Pesan masuk ke ponsel yang isinya tak asing lagi di telinga orang-orang yang usianya tidak remaja lagi. Tak lain isinya "assalamualaikum wr.wb dengan tidak mengurangi rasa hormat kami mengundang saudara/saudari ke acara pernikahan kami yang insyaallah akan dilaksanakan……

kata-kata yang penuh makna itu membuat kita berpikir "aku kapan ya? Kok jodoh mereka gampang banget dan cepet banget. Rasa itu pun menghantui. Buka grup alumni SD, SMP, dan SMA satu persatu alumni sudah nikah hanya beberapa orang yang belum ketemu jodohnya. Dan imbasnya yang belum nikah pun kena sasaran ejekan lontaran kata "Kapan nikah?” pun sudah tak asing lagi di dengar.

Memang nya nikah sesimple kata yang diucapkan, segampang membalikan telapak tangan. Rasa cepat-cepat untuk nikah pun datang begitu saja, tetapi kriteria yang diinginkan masih belum terlihat bahkan tanda-tanda nya belum nampak. Pada usia 20 tahunan dimana masa ini sudah melewati kisah -kasih yang paling indah kisah kasih di sekolah. Pada usia ini mau tidak mau kita harus terjun dan menjalan kan kehidupan yang sesungguh nya. Dimana sebagian orang memutuskan untuk bekerja dan sebagiannya lagi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Dunia kerja tak seindah dan senyaman yang di bayangkan ketika kita duduk di SMA, tak sebebas yang kita damba-dambakan. Ketika tugas sekolah menumpuk, di dunia ini kita benar-benar harus menjadi pribadi yang disiplin, kualitas diri yang baik dan tidak kalah akademik pun harus bagus karena kerja tidak mengandalkan fisik saja, akademik pun harus ikut serta bertanding untuk menyeimbangi perkembangan ekonomi yang sangat pesat ini. Sungguh di zona ini kita selalu merasa lelah, mumet bosen dan ujung-ujungnya kata yang dilontarkan ke diri sendiri "Udah lah pengen nikah aja kerja sendiri capai banget bosen banget, pengen ada yang nafkahin".

Ketika kita berada di dunia perguruan tinggi dimna dunia itu penuh dengan tugas, akademis pun harus baik dan bagus dalam jumlah SKA yang telah di jadwalkan. Dulu di masa SMA, kita di kejar-kejar oleh guru untuk mengerjakan tugas yang belum diselesaikan tetapi di zona ini kita yang harus mengejar dosen untuk memenuhi tugas yang harus kita selesaikan. Rasa mumet, lelah dan keuangan pun hari demi hari mulai menipis dimana hampir setiap hari harus pergi ke fotocopy dll. ketika hal itu sering dialami kaum wanita sering mengkhayal atau menginginkan dalam pikirnya "coba punya suami mungkin dia bisa bantuin ngerjain tugas atau jadi penyemangat untuk mengerjakan tugas dan membantu dalam segi keuangan”. Hal itu selalu muncul di pikiran sang wanita, makhluk yang paling lembut dan juga istimewa.

Tetepi kendala yang dialami si wanita adalah kriteria yang diinginkan belum terlihat. Tentunya setiap wanita ingin dinikahi oleh seorang laki-laki yang bertanggung jawab dalam rumah tangga mampu menjadi imam yang akan membawanya ke surga dan menjadi ayah yang senantiasa bisa membimbing anak nya hingga menjadi anak yang berbakti dan bermanfaat. Dan ketika si wanita sudah ada yang ingin menikahi nya yaitu seorang pemabuk dan juga judi dia merasa bingung dikarenakn yang sesuai keinginanya belum nampak yang nampak hanyalah laki-laki yang seperti ini. Dan dia pun bingung kapan nikah kalau seperti ini yang berdatangan.

Tanpa kita sadar sebagai wanita kita hanya sibuk untuk mencari apa yang sesuai yang kita inginkan tanpa menyadari bahwa yang harus kita lakukan adalah kita harus memeperbaiki diri agar kita kelak dipertemukan oleh orang baik yang mampu menjadi pelantara surganya Allah. Kita harus yakin bahwa jodoh kita adalah cerminan diri kita. Jangan sibuk mencari sedangkan diri kita terabaikan dalam menjadi yang lebih baik.

Kita sebagai wanita adalah madrasah utama untuk anak-anak kelak kita. Maka kita harus mampu menajadi wanita yang terhormat yang mampu menutup auratnya dan berakhlak karimah agar kelak anak-anak kita dapat mencontohi apa yang kita kerrjakan dan perlihatkan. Percayalah jika sudah Allah takdirkan kita hari ini, lusa atau nanti kita akan menikah. Allah mengetahui waktu yang tepat untuk kita dalam menyempurnakan separuh agama kita dan tentunya kita harus berdoa dan berikhtiar agar kita di pertemukan dengan jodoh kita yang senantiasa taat dan mencintai kita karena Allah.*


latestnews

View Full Version