View Full Version
Rabu, 15 Sep 2021

Ain, Dikira Tidak Ada namun Nyata

 

Oleh: Euis Hamidah

 

Bunda, ada penyakit yang dikira tidak ada namun nyata. Apakah itu? Penyakit ini disebabkan oleh pandangan mata, atau biasa kita kenal dengan nama ‘ain. Pandangan mata ini bisa disertai dengan rasa kekaguman atau malah sebaliknya, yakni kebencian. ‘Ain dapat berdampak lebih buruk daripada sihir. ‘Ain ini dapat merusak mental (ruh) dan juga fisik (kesehatan) orang yang terkena olehnya. Maka berhati-hatilah dengan pengaruh pandangan mata, terutama terhadap Ananda tercinta kita.

Secara harfiah ‘ain berasal dari kata ‘ana-ya’inu yang artinya “dia menatap dengan matanya.” Maka dapat disimpulkan, bahwa ‘ain ini adalah suatu penyakit yang timbul pada seseorang akibat pandangan mata orang yang melihatnya, baik itu penuh dengan kekaguman ataupun kedengkian yang dipengaruhi oleh jiwa yang keji.

Oleh karena itu, ketika kita melihat sesuatu yang indah atau menakjubkan hendaklah kita berdoa untuk keberkahan sesuatu yang kita lihat. Baik itu milik kita, ataupun milik orang lain. Salah satu doa yang diajarkan langsung oleh Allah SWT adalah dengan mengucapkan “Maasyaa Allah, laa quwwata illaa billah.” Yang artinya : Sungguh, atas kehendak Allah semua ini terjadi. Doa tersebut terdapat dalam QS. Al-Kahfi (19) ayat 39.

Selain itu, kita juga dapat mendoakan dengan mengucapkan, “Allahumma baarik ‘alaih (Ya Allah berkahilah padanya).” Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah dalam riwayat Ibnu Majah dan Ahmad, yang artinya : “Apabila salah seorang di antara kalian melihat sesuatu yang menakjubkan pada saudaranya, hendaklah dia mendoakannya agar mendapat berkah.”

Insyaa Allah, dengan mengucapkan doa tersebut dapat membuat kita terhindar dari bahaya pengaruh pandangan mata (‘ain). Dapat kita simpulkan, bahwa ‘ain lebih berbeda dengan sihir, bahkan dapat lebih jahat daripada sihir. Karena ‘ain bisa datang dari pandangan orang yang shalih sekalipun. Sedangkan sihir hanya datang dari orang-orang yang jahat.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah membagi ‘ain ke dalam dua jenis. Pertama, ‘ain insaniah atau ‘ain yang disebabkan murni oleh pengaruh pandangan mata manusia. Kedua, ‘ain jinniah yaitu ‘ain yang disebabkan adanya campur tangan gangguan jin. Hal ini disandarkan pada sebuah hadits riwayat dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a. berkata : “Rasulullah SAW pernah meminta perlindungan kepada Allah SWT dari pandangan jin, kemudian dari pandangan manusia. Maka ketika turun mu’awidzatain (Al-Falaq dan An-Naas), beliau mengambil keduanya (untuk berlindung) dan meninggalkan yang selainnya.” (HR. Ibnu Majah)

Adapun ciri-ciri dari anak yang terkena penyakit ‘ain ini diantaranya sering rewel dan menangis yang sulit dihentikan; kejang-kejang yang bukan disebabkan sakit panas atau sakit lainnya; tiba-tiba tidak mau menyusu pada ibunya, tanpa sebab yang jelas; badannya kurung kering dan sering sakit; terdapat warna kekuning-kuningan, kemerah-merahan, atau kehitaman di wajahnya; anak yang penurut tiba-tiba jadi pembangkan dan sulit diatur; dan anak rajin yang berubah jadi malas, ngantukan, dan tidak bersemangat.

Anak-anak sangatlah rentan terkena ‘ain, hal ini dikarenakan mereka belum mampu melindungi dan membentengi dirinya dengan berbagai doa dan dzikir perlindungan. Terkadang penyakit ‘ain ini disebabkan oleh orang tuanya sendiri. Biasanya orang tua yang memiliki anak yang sedang lucu-lucunya, senang sekali memposting kegiatan anaknya tanpa mendoakan keberkehan bagi Ananda tercinta. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting untuk melindungi Ananda dalam upaya menangkal segala perkara yang dapat membahayakan anak-anaknya, baik secara fisik maupun spiritualnya.

Hal-hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk melindungi Ananda tercinta dari bahaya ‘ain :

Pertama, hendaklah para orang tua membiasakan membentengi anak-anaknya dari bahaya ‘ain ini dengan memperlindungkannya kepada Allah SWT sebagaimana Rasulullah SAW memperlindungkan kedua cucunya (Hasan dan Husein) kepada Allah SWT.

Kedua. Hendaklah para orang tua membentengi anak dengan membaca rukyah yang telah disyari’atkan. Seperti membaca mu’awidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) serta ayat kursi sambil mengusap atau meniupkannya ke tubuh si anak.

Ketiga, hendaklah diajarkan pula kepada anak dzikir-dzikir dan doa perlindungan diri dari gangguan jin dan sihir. Atau boleh juga mengajarkan doa berikut :

أُعِيْذُكَ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

Yang artinya : “Aku berlindung kepada-Mu dari segala macam setan, binatang berbisa, dan ‘ain (pandangan mata) yang membuat binasa.”

Keempat, janganlah menampakkan atau menceritakan suatu kelebihan yang menakjubkan yang dimiliki anak kita secara berlebihan, yang dimungkinkan dapat mengundang rasa iri dan dengki orang yang mendengar dan melihatnya.

Kelima, jangan memajang foto anak di dinding rumah, cukup disimpan di album foto saja. Jangan pula menampilkannya di media sosial, sejenis facebook (fb), Instagram (ig), atau lainnya. Karena hal tersebut dapat memancing pandangan mata, baik itu yang memujinya tanpa mendoakan keberkahan atau bahkan dengki terhadapnya.  

Keenam, jangan terjebak pada tata cara yang keliru dalam upaya mencegah terjadinya ‘ain pada anak, yang justru hal tersebut akan memunculkan bahaya yang lebih besar. Seperti menaruh gunting di bawah bantal bayi, mengalungkan tali di leher anak, dan lain-lain. Wallahu a’alam. (rf/voa-islam.com)

Rujukan :

“Menyelamatkan Buah Hati dari Kejahatan Setan” karya Hasbi Al-Anshari

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version