View Full Version
Sabtu, 14 Dec 2013

Refleksi Cara Berpikir: Saat Kita Mau Sedikit Pindah Posisi

Oleh: Ustadz Abu Izzudin Fuad Al Hazimi

Dulu saat ke mana-mana pakai motor, saya sering nyelonong masuk di antara mobil-mobil yang macet tanpa rasa bersalah dan tidak peduli bahwa itu sangat mengganggu sopir. Saya bahkan sering jengkel dengan "arogansi" para pemilik mobil itu.

Sekarang setelah lebih banyak naik mobil -karena kondisi fisik yang takut "menzalimi motor saya" dan jarak tempuh yang cukup jauh-, saya sangat jengkel dengan biker yang seenaknya memotong jalan. Apalagi saat posisi mobil mau mundur tiba-tiba ada biker nyelonong. Akhirnya saya ingat dulu sewaktu saya juga sering seperti itu, justru saya yang marah-marah karena merasa tidak dikasih jalan. Padahal sekarang, saat ada yang nerobos seperti itu, saya jengkel bukan main lebih-lebih mengingat setir mobil yang saya tumpangi bukan power streering tapi power sepiring.

Ikhwan fiddien rahimakumullah

Memang butuh waktu untuk bisa memahami jalan pikiran orang lain yang berseberangan dengan pendapat kita, untuk kemudian memaklumi dan tidak sekedar mengatakan: "Pendapat kamu salah.!!"

Kita sering tidak mau untuk sejenak bertukar posisi dalam persepsi atau pemahaman, bukan untuk mengaburkan apa yang sudah kita yakini tetapi untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda sehingga kita tidak ngotot bahwa sudut pandang kita saja yang benar, sedangkan yang lain salah. Atau sangat bisa jadi ada sesuatu baru yang selama ini tidak pernah terlintas dalam benak kita yang kemudian kita bisa tangkap saat kita "bertukar posisi" tersebut.

Saya mencoba untuk tidak serampangan dalam menetapkan vonis kafir kepada saudara saya yang berbeda pendapat dengan saya karena saya sudah merasakan bagaimana divonis Kafir, Ghulat Murji'ah dan vonis sejenis.

Vonis-vonis semacam ini jika dilakukan tanpa melalui proses tabayyun dan tafahum yang didasari oleh kecintaan kepada saudaranya yang terpeleset dalam kesalahan, sungguh sangat melukai hati dan perasaan sekaligus sangat mungkin merenggangkan hubungan bahkan memutusnya sama sekali. Kecintaan yang saya maksud di sini adalah kecintaan yang sesungguhnya bukan sekedar lips service tetapi kecintaan sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari)

Karena ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya, tentunya ia pun membenci sesuatu yang buruk terjadi pada diri saudaranya sebagaimana ia membenci hal itu terjadi pada dirinya, lebih-lebih itu adalah kekufuran.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

“Tiga perkara yang jika ketiganya ada dalam diri seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman: [1] ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lainnya. [2] ia mencintai seseorang hanya karena Allah. [3] ia benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana ia benci bila dilemparkan dalam neraka.” (HR. Bukhari no. 6941 dan Muslim no. 43)

Allah Azza Wa Jalla Berfirman (artinya):

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka..." (QS Al Fath 29)

"Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Maidah: 54)

Semoga pedang tajam orang-orang mukmin lebih diarahkan kepada musuh-musuh Allah dan tidak lagi diarahkan kepada saudaranya. Wallahu A'lam Bish Shawab. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version