View Full Version
Senin, 21 Sep 2020

Covid 19 Mengganas, Saatnya Berserah Diri kepada Allah

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam.  Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Pandemi Covid 19 belum nampak tanda berakhirnya. Bahkan beberapa hari ini, berdasarkan informasi berita, semakin mengganas. Sejumlah pejabat publik terkonfirmasi positif Covid 19. Sejumlah Rumah Sakit rujukan Covid 19 di Jakarta dan daerah menunjangnya penuh pasien. Sejumlah Gedung Olah Raga disulap menjadi tempat perawatan pasien positif Covid 19.

Bagaimana sikap muslim menghadapi situasi yang terdengar semakin genting ini?

Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr menasihatkan dalam makalah dakwah tentang “Virus Corona Jenis Baru” agar seorang muslim dalam semua kondisinya selalu berpegang teguh kepada Allah, Tuhan Maha Kuasa, berserah diri kepada-Nya, dan percaya bahwa segala urusan –sehat & sakit, nikmat & bencana, hidup & mati- berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. Al-Taghabun: 11)

قُلْ مَن ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُم مِّنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً

Katakanlah, “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (ketentuan) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” (QS. Al-Ahzab: 17)

إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ

Jika Allah hendak mendatangkan bencana kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bencana itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya?” (QS. Al-Zumar: 38)

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ

Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu.” (QS. Faathir: 2)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

Dan ketahuilah, bahwa seluruh makhluk seandainya pun mereka bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah takdirkan bagimu, dan seandainya pun mereka bersatu untuk mencelakakanmu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah takdirkan akan menimpamu, pena telah diangkat dan lembaran-lembarannya telah kering.” (HR. Al-Tirmidzi)

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash)

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga bersabda :

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ. قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَ

Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah qalam, lalu Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’. Qalam mengatakan,’Apa yang akan aku tulis?’. Allah berfirman, ‘Tulislah berbagai takdir dari segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari kiamat’!”. (HR. Al-Tirmidzi dari Ubadah bin Al-Shaamith)

Maka merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk menyerahkan segala urusan-Nya hanya kepada Allah, berharap kepada-Nya, percaya kepada-Nya. Dia tidak memohon kesehatan, kesembuhan dan keselamatan kecuali hanya kepada Allah.

[Baca: Doa-doa Perlindungan dari Penyakit Corona]

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَمَن يَعْتَصِم بِاللّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101)

[Baca: Wabah Corona, Sabar di Rumah Bisa Dapat Pahala Syahid]

Oleh karenanya, hendaknya dirinya senantiasa menjaga perintah-perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-larangan-Nya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

Jagalah (agama) Allah, maka Allah akan menjagamu, jagalah (agama) Allah, maka kamu akan mendapati Allah selalu menolongmu.” (HR. Al-Tirmidzi)

Menjaga perintah Allah adalah dengan cara mengamalkannya. Menjaga larangan Allah adalah dengan cara menjauhinya. Dengan hal tersebut, dapat menjadi sebab perlindungan dan keselamatan yang berasal dari Allah untuk hamba-Nya dari segala musibah, kesialan dan marabahaya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan perkara kaum mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah baik, dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika ia dianugrahi nikmat ia bersyukur dan itu baik baginya , jika ia tertimpa musibah ia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)

[Baca: Meninggal Karena Covid-19, Mati Syahid?]

Seorang muslim juga diperintahkan untuk berobat saat sakit. Yaitu berobat dengan sesuatu yang direkomendasikan dalil atau yang dihalalkan syariat. Ini bagian membenarkan sunnatullah di alam raya.

Berobat ada dua bentuk. Pertama, berobat sebelum jatuh sakit (menjaga kesehatan). Kedua, berobat setelah jatuh sakit.

Islam mengajarkan pencegahan, perawatan, dan pemulihan dengan prinsip-prinsip pengobatan sehingga tercipta kehidupan yang aman dan sehat bagi kaum Muslimin. (Untuk lebih lengkapnya dapat dibaca pada kitab Thibbun Nabawi karya Ibnul Qayyim Al Jauziyah).

Dan di antara pengobatan Nabi yang dianjurkan untuk kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari adalah :

a. Mengkonsumsi kurma ajwah 7 butir dalam sehari, berdasarkan Hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam :

مَنِ اصْطَبَحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةٍ لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

“Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

b. Membaca dzikir pagi dan petang setiap hari

c. Membaca doa-doa yang perlindungan dari penyakit berbahaya dan menakutkan. Seperti,

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الأَسْقَامِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit sopak, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk/mengerikan lainnya.” (HR. Abu Dawud, Al-Nasai, Ibnu Hibban, dan selainnya)

d. Membaca doa pelindungan dari hilangnya nimat dan bergantinya kesehatan menjadi sakit.

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim)

e. Perbanyak istighfar agar Allah hindarkan diri kita dan keluarga kita dari musibah sakit akibat Covid 19. Karena istighfar bisa memperkuat imunitas diri dan menghindarkan dari bencana.

[Baca: Istighfar Menangkal Datangnya Bencana & Kuatkan Imunitas Tubuh dengan Memperbanyak Istighfar dan Taubat]

Penutup

Janganlah ketakutan kepada covid 19 membuat kita lupa Allah Subhanahu wa Ta'ala dan takdirNya. Segala ssuatu yang terjadi di muka bumi pasti terjadi dengan izin Allah, sepengetahuan Allah, dan terjadi dengan kehendak Allah. Tentu ada hikmah di balik ketetapan takdir-Nya. Karenanya, jalan terbaik adalah kita kembali kepada Allah dengan ketakwaan dan tawakkal. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version