View Full Version
Ahad, 20 Dec 2020

Placebo Effect Mencegah Kambuhnya Asma Bronkiale

 

Oleh: Sunarti

"Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam."

Artinya tidak enak makan dan minum karena terlalu sedih.Pernah tidak mengalami rasa yang seperti ini? Atau bahkan sering? Begitu rasa yang mewakili tatkala asma kambuh.

Mengi, bengek atau asma, sebutan sebuah penyakit sesak yang disertai bunyi "ngik-ngik" pada penderitanya. Biasanya, mereka yang mengalami ini, sedang berada dalam kondisi sesak, disertai bunyi "ngik-ngik" yang keluar dari area jalan napasnya. Sering pula disertai batuk yang frekwensinya sering dengan konsistensi dahak yang berlebihan.

Asthma, atau secara medis disebut asthma bronkiale, atau kita lebih akrab dengan “asma." Asma merupakan penyakit akibat peradangan dalam saluran udara (bronkus), yang akhirnya membuat saluran pernapasan bengkak dan sangat sensitif. Ini berakibat saluran pernapasan menyempit sehingga udara yang masuk ke paru-paru menjadi berkurang dan terbatas.

Akhirnya, oksigen dalam paru-paru juga berkurang. Akibatnya, seluruh aktivitas peredaran darah yang membutuhkan oksigen juga berkurang. Jantung juga kurang optimal bekerja. Suplai oksigen ke otak juga berkurang, muncullah rasa pening hingga pusing. Keluar keringat dingin dan rasa ampeg yang tidak mengenakkan.

Perjalanan penyempitan belum selesai. Peradangan pun membuat sel di saluran pernapasan, memproduksi lebih banyak lendir dari biasanya. Lendir ini dapat makin mempersempit saluran pernapasan dan menyulitkan penderita untuk bernapas lega. Memunculkan rasa ingin batuk yang sulit dihentikan. Tapi karena lendir yang berlebihan, saluran napas menyempit dan tersumbat, maka batuk pun terasa berat. Dada terasa ampeg dan napas tersengal-sengal.

Bunyi ngik-ngik atau disebut wheezing atau bunyi napas mengi adalah sebuah keadaan dimana suara napas ketika ekspirasi (mengeluarkan napas) terdengar tinggi atau seperti meniup peluit.

Penyebabnya Kambuhnya Serangan Asma

Penyebabnya utamanya memang belum diketahui. Karena sejatinya, asthma ini muncul jika ada faktor pemicunya. Misalnya saja, asap (segala asap ya, bisa asap rokok, asap membakar sampah-kalai di tempatku diang, itu), debu, bulu binatang, aktivitas fisik sehingga kelelahan, udara dingin, infeksi virus, atau bahkan terpapar zat kimia dan stres.

Bagi penderita dengan riwayat asthma, saluran pernapasan akan lebih sensitif. Apalagi pemicu munculnya iritasi pada paru-paru. Maka mudahlah saluran napasnya kaku dan menyempit.

Memang, jumlah pasien asma di Indonesia mencapai 4.5 persen dari total jumlah penduduk. Bahkan, WHO menyebut angka kematian akibat penyakit asma di Indonesia mencapai 24.773 orang atau sekitar 1,77 persen dari total jumlah kematian penduduk.

Trik Mudah dan Murah Mengurangi Frekuensi Kambuhnya Asma

Cara paling mudah agar asma tidak kambuh adalah menghindari stres. Jika memang sudah stress, berarti kita musti mengelola stress agar tidak berlarut-larut memunculkan depresi. Ingat, jika akhir-akhir ini banyak orang khususnya perempuan merasa depresi dan akhirnya bunuh diri. Tak jarang, anak jadi pelampiasan, hingga dihilangkan nyawanya.

Dalam sebuah buku berjudul Cure, karya Jo Marchant, dibahaslah tentang efek nosebo dan placebo. Efek placebo dalam diri kita akan mendatangkan pikiran baik, yang nantinya bisa membuat fisik kita kebal dan kuat.

Sesungguhnya secara alami tubuh mampu membentuk opioid alami, secara otomatis juga mampu menahan rasa sakit secara alami pula. Oleh karena itu, saat stress datang, upayakanlah dengan mengalihkan kepada hal-hal yang menyenangkan. Ini bisa berfungsi layaknya opioid kimia buatan yang menimbulkan rasa senang atau power of illusion.

Sebagai muslim, kekuatan ilusi/visualisasi bisa menghadirkan kekuatan keyakinan terhadap adanya pahala, surga dan kebaikan-kebaikan lain yang memang tak kasat mata. Ini semua tertancap kuat sebagai keimanan yang luar biasa. Kebahagiaan di sini bukan semata hal-hal yang berbau materi dan gemerlap dunia, yang suatu ketika akan sirna.

Sebaliknya, efek nocebo, akan memperburuk kondisi pikiran dan fisik kita. Secara psikologis, efek ini akan terasa sangat merusak bahkan bisa mengakibatkan fisik jadi lemah.

Tak perlu heran jika banyak dari kira yang awalnya hanya lelah raga, namun merambat menjadi lelah pada jiwa. Ini semua bisa jadi tersulut karena berbagai persoalan yang menimpa. Selanjutnya, efek nosebo menjadi dominan di benaknya. Maka, bunuh diri seolah menjadi solusi terbaik untuknya. Nauzubillahi min ndzalik.

Sebenarnya, segala persoalan yang hadir bukan semata salah mereka. Karena sesungguhnya sumber semua persoalan ada pada sistem. Yakni, sistem yang mengatur urusan manusia dipisahkan jauh dengan aturan Sang Maha Pencipta.

Ini untuk satu masalah saja yang sifatnya individual. Belum lagi yang lain, yang lebih pelik semacam, ekonomi, pendidikan, pergaulan dan sebagainya. Maka, prasangka baik kepada Allah dalam kondisi apapun haruslah dikedepankan. Jika sedang dalam kondisi stress, perbanyaklah memohon ampunan padaNya.  

Sering kita berdoa isinya hanya memohon keinginan diri. Misalnya, memohon rezeki yang berkah, memohon anak yang shalih/shalihah, memohon kemudahan, dan memohon kebaikan untuk keluarga. Seringkali kita lupa satu hal yang penting yaitu memohon ampun padaNya. Padahal siapa yang menjamin, dalam sehari, kita bebas maksiat? Meski itu maksiat kecil sekalipun. Jadi, kembalikan semua masalah pada yang membuat soal kehidupan yaitu Allah SWT. Insya Allah akan tenang jiwa, raga, dan keimanan kita. Wallahu alam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version