View Full Version
Selasa, 21 Jul 2020

Amal-amal yang Disunnahkan di Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Sepuluh hari pertama adalah kumpulan hari terbaik di sisi Allah. Allah telah bersumpah dengannya dalam Kitab-Nya yang menunjukkan kemuliaan & kagungannya.

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Imam Al-Thabari dalam menafsirkan “Wa Layaalin ‘Asr” (Dan malam yang sepuluh), “Dia adalah malam-malam sepuluh Dzulhijjah berdasarkan kesepakatan hujjah dari ahli ta’wil (ahli tafsir).” (Jaami’ al Bayan fi Ta’wil al-Qur’an: 7/514)

Penafsiran ini dikuatkan oleh Ibnu Katsir, “Dan malam-malam yang sepuluh, maksudnya: Sepuluh Dzulhijjah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan lebih dari satu ulama salaf dan khalaf.” (Ibnu Katsir: 4/535)

Amal shalih yang dkerjakan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat dicintai Allah Ta’ala. Sehingga Allah akan memberkahi amal-amal tersebut dan memperbanyak pahalanya.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

"Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)." Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di jalan Allah?" Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun." (HR. Al-Bukhari, Abu Daud dan  Ibnu Majah)

Allah jadikan kumpulan hari ini sebagai musim ibadah bagi hamba-hamba-Nya untuk mereka memperbanyak amal shalih di dalamnya. Amal shalih dalam hadits di atas berlaku umum. Maksudnya, semua amal shalih akan bertambah keutamaannya di kumpulan hari ini. Di antaranya: shalat, puasa, haji, umrah, kurban, tilawah Al-Qur'an, dzikrullah, istighfar, silaturahim, bersedekah, dan selainnya.

Menjaga Shalat di Awal Dzulhijjah

Syaikh Dr. Muhammad Raatib al-Nabulsi menjelaskan bahwa di antara amal shalih yang harus diperhatikan di sepulluh hari pertama Dzulhijjah adalah shalat. Yaitu menjaga baik-baik shalat fardhu dan memperbanyak shalat sunnah. Alasannya, karena shalat adalah amal qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) yang paling agung.

Beliau berdalil dengan hadits dari Tsauban, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

عليكَ بِكَثْرةِ السُّجُودِ، فإِنَّك لَنْ تَسْجُد للَّهِ سجْدةً إلاَّ رفَعكَ اللَّهُ بِهَا دَرجَةً، وحطَّ عنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Hendaknya kamu memperbanyak sujud (shalat). Karena sesungguhnya tidaklah kamu sujud sekali kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan satu derajat untukmu denga sujud tersebut dan juga dengan sujud itu Dia akan menghapuskan satu kesalahan darimu.” (HR. Muslim)

Berpuasa di Awal Dzulhijjah

Shiyam adalah salah satu amal shalih yang sangat istimewa di sisi Allah Ta’ala. Dia telah memilih puasa untuk diri-Nya sebagaimana terdapat dalam hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Semua amal anak Adam untuk dirinya kecuali puasa, sungguh puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. al-Bukhari no. 1805)

Para ulama memberikan perhatian kepada puasa sebagai salah satu amal istimewa di kumpulan hari tersebut. Misalnya, Imam Al-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menulis,

باب فضل الصوم وغيره في العشر الأول من ذي الحجة

Bab Keutamaan Puasa dan selainnya di sepuluh hari pertama dari Dzilhijjah”. Kemudian beliau sebutkan hadits dari Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhu di atas.

Seseorang bisa berpuasa pada sembilan hari pertamanya (tanggal 1 sampai 9), berpuasa pada kebanyakan harinya, atau separuhnya. Jika tidak mampu, maka janganlah meninggalkan puasa pada tanggal 9 nya. Yaitu shaum ‘Arafah.

Dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebagian istri Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعًا مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ

Adalah Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam melaksanakan puasa 9 Dzulhijjah, hari ‘Asyura, dan tiga hari setiap bulan serta senin pertama dari setiap bulan dan dua hari Kamis.” (HR. Al-Nasai dan Abu Dawud. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani Shahih Abi Dawud: 2/462)

Dan beliau menjelaskan keutamaan shiyam di hari ‘Arafah,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

"Puasa hari 'Arafah; aku berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa setahun yang telah lalu dan setahun sesudahnya." (HR. Muslim)

Bagi yang terbiasa berpuasa bulanan seperti senin – Kamis, puasa Dawud, atau puasa tiga hari setiap bulan; hendaknya menambahkan niat dan semangatnya untuk melaksanakan amal-amal rutinnya itu di awal Dzulhijjah. Menggabungkan dua niat puasa sunnah dalam satu puasa. Berharap Allah akan beri keutamaan lebih dan pahala berlipat.

Melaksanakan Haji dan Umrah

Sesungguhnya di antara amalan yang paling utama untuk dikerjakan pada sepuluh hari ini adalah berziarah ke Baitullah untuk haji dan umarah. Maka siapa yang diberi taufik oleh Allah untuk melaksanakan haji ke Baitullah dan melaksanakan manasiknya sesuai dengan ketentuan syariat, maka dia mendapatkan janji –Insya Allah-  dari sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam,

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Umrah satu kepada umrah lainnya merupakan kafarah bagi dosa di antara keduanya. Sedangkan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Berkurban

Di antara amal shalih pada hari yang kesepuluhnya adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih hewan kurban pada hari nahar (tanggal 10 Dzulhijjah) yang diikuti tiga hari sesudahnya, yakni Ayyam Tasyriq. Hendaknya dipilih yang terbaik dari setiap jenisnya: paling gemuk, mahal, dan bagus.

Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda tentang keutamaannya,

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ

"Tidak ada satu amalan yang dikerjakan anak Adam pada hari nahar (hari penyembelihan) yang lebih dicintai oleh Alah 'Azza wa Jalla daripada mengalirkan darah. Sungguh dia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, kuku dan rambutnya. Sesunggunya darahnya akan sampai kepada Allah 'Azza wa Jalla sebelum jatuh ke tanah… ” (HR. Ibnu Majah dan al-Tirmidzi, beliau menghassankannya)

Bagi Pengurban, Jangan Potong Rambut & Kuku Sejak Masuk Dzulhijjah

Dilarang atas orang yang sudah berniat Qurban agar tidak mencukur rambuat dan memotong kukunya sejak terlihat hilal Dzulhijjah sehingga disembelih hewan kurbannya.

Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallaahu 'anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam  bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِه

Apabila kalian melihat hilal Dzilhijjah dan salah seorang kalian ingin berkurban, maka hendaknya dia menahan rambut dan kuku-kukunya (yakni tidak memotongnya,- red).” (HR. Muslim, beliau membuat bab untuk hadits ini dan hadits-hadits semakna dengannya, “Bab larangan orang yang sudah masuk Dzulhijjah dan ingin berkurban untuk memotong rambut dan kukunya sedikitpun”)

Melaksanakan Shalat Iedul Adha dan Mendengarkan Khutbahnya

Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti; nyanyi-nyanyian, berjudi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Kemungkaran-kemungkaran ini akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

Bertakbir dan Berdzikir

Disunnahkan membaca takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih selama sepuluh hari tersebut. Dan disunnahkan mengeraskannya di masjid-masjid, rumah-rumah, dan di jalan-jalan. Dan setiap tempat yang dibolehkan untuk dzikrullah disunnahkan untuk menampakkan ibadah dan memperlihatkan pengagungan terhadap Allah Ta’ala. Kaum laki-laki mengeraskannya sementara kaum wanita melirihkannya.

Allah Ta’ala berfirman,

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Hajj: 28)

Menurut Juhmur ulama, makna al-ayyam al-ma’lumat adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sebagaimana yang diriwatkan dari Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhuma, “Al-Ayyam al-Ma’lumat: Hari sepuluh."

Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar radhiyallaahu 'anha,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah), karenanya perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya.” (HR. Ahmad 7/224, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan isnadnya)

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, rahimahullaah, meriwayatkan dari fuqaha', tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan:

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر ولله الحمد

"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah". Dan masih ada lagi bentuk takbir yang lainnya.

Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do'a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain. Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah, seperti : takbir, tasbih dan do'a-do'a lainnya yang disyariatkan.

Bertaubat & Meninggalkan Maksiat

Harapannya, semoga amal-amal tadi mendatangkan ampunan dan rahmat. Karena sesungguhnya kemaksiatan menjadi sebab jauhnya seseorang dari Allah dan tidak mendapat rahmat-Nya. Sebaliknya, ketaatan menjadi sebab dekatnya dengan Allah dan mendapatkan rahmat-Nya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah cemburu, dan kecemburuan Allah, kalau seseorang melanggar apa-apa yang Dia haramkan.” (Muttafaq ‘alaih)

Memperbanyak Amal-amal Shalih

Sebagimana di awal, bahwa hari-hari ini adalah hari-hari ibadah. Musim ketaatan yang Allah datangkan sebagai tambahan kemuliaan umat akhir zaman. Karenanya, sambut seruan itu dengan memperbanyak shalat, shiyam, tilawah, shadaqah, berjihad, beramar ma’ruf dan nahi munkar, silaturahim, membantu orang susah,  dan amal-amal shalih lainnya.

Dan amal-amal shalih tersebut yang dilaksanakan pada hari-hari ini akan dilipatgandakan pahalanya. Alasannya, karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam kabarkan bahwa amal-amal shalih di kumpulan hari tersebut snagat dicintai Allah.

"Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)." (HR. Al-Bukhari, Abu Daud, dan  Ibnu Majah).

Sebenarnya, seluruh amal shalih dicintai oleh Allah. Namun, apabila dilaksanakan pada hari-hari sepuluh pertama Dzulhijjah akan lebih dicintai. Maknanya, pahalanya juga lebih besar dan dilipatgandakan bila dibandingkan pada hari-hari lainnya.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita mengisi kumpulan hari yang sangat agung ini dengan memperbanyak amal shalih dan ketaatan. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version