View Full Version
Kamis, 14 Nov 2013

MafiaWar (7): Ancaman TRIAD, Jaringan Cina Perantauan & Intelijen Cina

Jakarta (voa-islam.com) Selama ini banyak kalangan terlalu fokus terhadap sepak terjang intelijen Amerika Serikat, CIA, yang memang sudah malang melintang di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. CIA terlibat dalam berbagai peristiwa politik, dan bahkan perubahan politik di berbagai negara termasuk Indonesia.

Tetapi, sekarang bukan hanya CIA yang terlibat dalam perubahan politik di Indonesia, tetapi intelijen Cina (CHIS) sangat aktif di Indonesia, terus melakukan rekayasa politik, dan terlibat perubahan lebih luas. Tujuannya agar Indonesia menjadi bagian kepentingan Cina. Indonesia akan menjadi satelit, dan lebih jauh menjadi tanah "jajahan" bagi Cina perantauan yang sekarang ini sudah menguasai ekonomi Indonesia.

Melalui langkah-langkah yang sangat sistematis, dan sangat teliti, kekuatan Cina perantauan di Indonesia telah menguasai ekonomi Indonesia. Sekarang, tahapan berikuktnya, yang dilakukan adalah masuk ke pusat-pusat kekuasaan.

Kemenangan Ahok, dan Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, dan usaha-usaha yang sangat sistematis, yang dilakukan oleh Hary Tanoe, yang sudah menguasai jaringan bisnis milik anak-anak Soeharto, sekarang berusaha keras memapankan posisinya di bidang politik menuju kekuasaan. Melalui Nasdem, meskipun gagal, dan sekarang terus berusaha masuk ke partai politik lainnnya.

Kalangan Cina perantauan sudah sangat lama, melakukan penyusupan ke pusat kekuasaan di zamannya Soeharto. Kemudian, kelompok Cina perantauan yang dimotori Liem Soei Liong, berhasil menggunakan kekuasaan Soeharto, dan melakukan kapitalisasi secara sistematis, dan kemudian menguasai seluruh jaringan ekonomi, dan masuk ke kekuasaan, kemudian seperti Bob Hasan yang dikenal sebagai "raja hutan", yang diangkat menjadi menteri oleh Soeharto.

Di era SBY, mereka berhasil melakukan penyusupan, dan pada pusat kekuasaan, seperti Maria Elka Pangestu, seorang tokoh yang pernah menjadi Direktur CSIS, yang bekerjasama dengan Jenderal Ali Moertopo, berhasil memarjinalkan umat Islam secara drastis.

Maka, sejatinya Indonesia sebaiknya jangan hanya disibukkan dengan sepak-terjang badan intelijen Amerika CIA maupun INR (Intelijen Departemen Luar Negeri Amerika Serikat). Cina, sebagai negara adidaya baru di kawasan Asia Pasifik pun sepak-terjang badan intelijennnya kiranya harus mendapat pengawasan ekstra ketat dari Badan Intelijen Negara (BIN) maupun Departemen Luar Negeri RI.

Badan Intelijen Cina yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Chinese Intelligence Service (CHIS). Daya jangkau jaringan intelijen CHIS ini ternyata sudah mampu membuat repot CIA dan beberapa lembaga strategis pertahanan Amerika Serikat khususnya yang berkaitan dengan teknologi strategis. Kabarnya, banyak juga rahasia pengembangan teknologi strategis terbaru Amerika yang berhasil bocor ke tangan Cina. Dan ini, berkat keberhasilan operasi intelijen CHIS.

Selain itu, CHIS dalam berbagai kesempatan berhasil melancarkan operasi intelijen dengan tujuan memperkuat jaringan bisnis Cina di luar negeri, termasuk Amerika Serikat dan Kanada. Nah ini dia. Kalau Amerika dan Kanada saja yang jaringan intelijennya cukup ampuh bisa ditembus, apalagi Indonesia yang notabene jaringan pebisnis Cina di Indonesia cukup banyak, dan sudah menyatu dengan masyarakat mayoritas Indonesia pada umumnya.

Inilah salah satu sisi rawan dari gerakan ekspansi Cina ke ASEAN, termasuk Indonesia. Maka tak heran jika kunjungan Presiden Amerika Barrack Obama ke Singapore menjadi salah satu prioritas terpenting pemerintahan Amerika. Karena berkunjung ke Singapore, berarti melakukan komunikasi langsung dengan jaringan pebisnis Cina lintas negara. Baik yang ada di ASEAN, Jepang, Australia, Taiwan, dan tentu saja Hongkong yang sekarang sepenuhnya berada di dalam kekuasaan Cina.

Maka dari fakta tersebut, bisa kita simpulkan bahwa jaringan pebisnis Cina lintas negara tersebut pada perkembangan bisa dipastikan telah menjalin suatu koordinasi dengan pemerintah Cina dan badan intelijen CHIS.

Sekadar ilustrasi, beberapa investor Cina Hongkong dan Cina daratan ternyata memiliki jalinan hubungan dekat dengan para pejabat pemeritah Cina. Kedua, beberapa pengusaha Cina telah mendirikan atau membeli beberapa perusahaan di Kanada melalui anggota keluarga dan kerabat yang telah mendapat kewarganegaraan Cina di Kanada.

Bayangkan. Siapa bilang orang Cina itu setia kepada negara dia bermukim. Dari kasus ini terungkap bahwa betapapun lamanya dia bermukim di suatu negara, tetap saja kesetiaannya pada negara leluhurnya di Republik Rakyat Cina. Apalagi didukung oleh CHIS sebagai perangkat jaringan intelijen untuk menggalang kesetiaan komunitas Cina tersebut untuk penguatan jaringan bisnis Cina di luar negeri.

Beberapa Modus Operandi CHIS

Menurut berbagai riset Global Future Institute, ada tiga kelompok yang patut mendapat perhatian khusus berkaitan dengan operasi intelijen CHIS. Pertama, Geng Kriminal Cina (TRIAD). Kedua, jaringan pebisnis Cina, biasanya dari Hongkong dan Taiwan, serta warga Cina yang memiliki akses langsung kepada para pejabat tinggi Cina. Biasanya dengan memanfaatkan warga Cina di perantauan yang memiliki hubungan kekerabatan dengan beberapa petinggi pemerintahan di Beijing.

Geng kriminal seperti TRIAD ini kerap digunakan oleh beberapa perusahaan Cina untuk menjalankan beberapa operasi tertentu. Maka tak heran dalam kasus di Kanada, para agen CHIS telah merekrut beberapa warga Kanada etnis Cina sebagai mata rantai dari operasi intelijen CHIS memperkuat dominasi jaringan pebisnis Cina di luar negeri. Tentu saja hal ini sepenuhnya atas sepersetujuan atau bahkan atas perintah dari pemerintahan Cina di Beijing.

Dengan kata lain, CHIS dalam berbagai kasus di luar negeri, dalam operasinya telah berhasil menggalang para pebisnis Cina perantauan untuk membangun konglomerasi bisnis atau bahkan kartel yang dikuasai kepemilikannya oleh para pebisnis Cina.

Beberapa riset kami mengungkap bahwa tokoh sentral operasi penguatan etnis Cina di Amerika Serikat adalah Li Ka Shing, milyader Amerika asal etnis Cina. Jaringan bisnisnya bahkan sudah meluas sampai Kanada. Vancouver, bahkan sepertiganya berhasil dikuasai jaringan bisnis Li Ka Shing dan anak laki-lakinya.

Dan yang lebih menarik lagi, Li Ka Shing ternyata mempunyai jalinan hubungan yang cukup erat dengan para petinggi pemerintahan Cina. Bahkan, beberapa perusahaan Li Ka Shing dijadikan sebagai perusahaan terdepan (The Front Company) yang dikendalikan pemerintahan Beijing.

Caranya, beberapa sumber keuangan Cina melakukan investasi US 400 juta ke beberapa perusahaan Li Ka Shing. Tak heran jika beberapa kalangan di pemerintahan dan otoritas keamanan Amerika menuduh kiprah dan kegiatan bisnis Cina di Amerika sebagai kedok dari kegiatan spionase (mata-mata) ekonomi, politik dan militer untuk Cina. Dan pelaku utama dari operasi ini adalah: Triad (Geng Kriminal), jaringan pengusaha Cina perantauan, dan para agen intelijen CHIS itu sendiri.

Bisa dimengerti jika pada perkembangannya, aktivitas Li Ka Shing dipandang oleh pihak berwenang di Amerika tidak sekadar ancaman dari segi bisnis, melainkan juga sebagai sumber ancaman keamanan nasional.  Karenanya, Li ka Shing dan perusahaan induknya Hatchison Whampoa, saat ini berada dalam pengawasan ketat pihak keamanan Amerika.

Indonesia, selain disibukkan oleh gerakan jaringan intelijen Amerika dan Uni Eropa, ada baiknya mulai secara serius memantau operasi intelijen Cina di Jakarta. Mungkinkah Anggodo Wijoyo bagian dari mata rantai jaringan intelijen dan kepentingan strategis pebisnis Cina perantauan di Indonesia dan Singapore? Beberapa waktu yang lalu, Anggodo Wijoyo sudah membuat kekacauan di Indonesia, akibat ulahnya, terutama terkait dengan sejumlah pejabat dibidang hukum.

Sungguh sangat mengerikan langkah-langkah yang dilakukan oleh jaringan kekuatan Cina perantauan yang sekarang sudah masuk ke pusat kekuasaan, dan akan menghancurkan secara sistematis kaum pribami, dan pribumi yang Muslim hanya akan menjadi budak Cina. af/gfi


latestnews

View Full Version