View Full Version
Ahad, 14 Jun 2015

Jabhat Al-Nusrah Akan Adili Anggotanya yang Terlibat Pembunuhan Minoritas Druze di Idlib

IDLIB, SURIAH (voa-islam.com) - Afiliasi Al-Qaidah di Suriah pada  hari Sabtu (13/6/2015), Jabhat Al-Nusrah itu akan menuntut para anggotanya yang terlibat dalam tembak-menembak di provinsi barat laut Idlib yang menewaskan sedikitnya 20 anggota minoritas Druze di negara itu.

Dalam sebuah pernyataan resmi yang diterbitkan di Twitter, Jabhat Al-Nusrah berusaha meredakan kekhawatiran serangan lebih lanjut terhadap minoritas tersebut, mengatakan bahwa beberapa anggotanya bertindak "jelas melanggar pandangan kepemimpinan kelompok itu".

Pada hari Kamis, warga Desa Qalb Lawzah melakukan protes setelah seorang pemimpin Al-Nusrah asal Tunisia mencoba untuk mengambil alih sebuah rumah pria Druze, menuduhnya sebagai setia kepada rezim Suriah, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) mengatakan.

"Pemimpin Tunisia mengumpulkan anak buahnya dan mengatakan para warga desa Druze melakukan penghujatan dan menembaki mereka menewaskan sedikitnya 20 orang, di antaranya orang tua dan setidaknya satu anak," kata Kepala Observatorium, Rami Abdel Rahman seperti dilansir The Daily Star.

Dalam pernyataannya, Jabhat Al-Nusrah mengatakan mereka telah mengirimkan sebuah komite ke Qalb Lawzah segera untuk "meyakinkan warga bahwa apa yang terjadi adalah tidak dibenarkan".

"Desa ini dan orang-orangnya masih aman di bawah perlindungan kami dan di daerah-daerah di bawah kendali kami. Setiap orang yang terlibat dalam insiden ini akan dirujuk ke pengadilan Islam dan akan bertanggung jawab," kata kelompok jihad tersebut.

Sebagian besar provinsi Idlib berada di bawah kendali aliansi koalisi yang meliputi Jabhat Al-Nusrah.

Tembak-menembak terjadi kurang dari sebulan setelah pemimpin Jabhat Al-Nusrah mencoba mengecilkan kekhawatiran bahwa kelompok mereka akan menargetkan minoritas.

Syaikh Abu Mohamed al-Jaulani mengatakan dalam sebuah wawancara televisi bahwa kelompoknya akan melindungi minoritas yang "meninggalkan agama mereka dan meninggalkan (Presiden Suriah) Bashar Al-Assad". (st/tds)


latestnews

View Full Version