View Full Version
Kamis, 26 Feb 2015

Kisah Mualaf: Catherine dari Inggris, Menemukan Islam Sebagai Muara Keyakinan

Namaku Catherine, usiaku 20 tahun. Aku berasal dari Inggris dan tinggal di satu kota yang jumlah umat Islamnya sangat sedikit. Dibesarkan di satu keluarga yang tidak memeluk agama apapun, aku tetap mempercayai adanya Tuhan. Hanya saja jalan Tuhan mana yang harus kutempuh, itu masih menjadi kebingunganku.

Sejak masih sekolah, aku sudah tertarik belajar agama. Pada usia 15 tahun aku malah memfokuskan diri belajar tentang Islam dan Kristen. Saat itu aku memunyai teman muslim. Dia sering membawakan buletin dari masjid untuk kubaca. Tapi bukan karena itu aku masuk Islam, tapi lebih karena kesadaran yang muncul dari diriku sendiri.

Ramadan di tahun itu, aku berusaha untuk ikut puasa sebulan penuh. Itulah saat yang sangat berkesan ketika aku melakukan sesuatu untuk penciptaku dengan bukti nyata, ketaatan secara fisik. Rasanya sangat luar biasa. Sejak saat itu, aku makin rajin belajar Islam baik ketika waktu istirahat maupun pulang sekolah.

Rasa haus akan ilmu Islam terasa begitu dalam. Sebelumnya, aku tak pernah selesai menamatkan satu buku saat membacanya. Tapi ketika bertemu Islam dan Al Quran, semua terasa beda. Aku mudah sekali membaca buku-buku tentang Islam sampai tamat. Aku jadi sering mengutip kata-kata dari Al Quran. Hal ini berlangsung sekitar dua tahun. Bahkan setahun sebelumnya, yaitu sejak aku mengenal Islam, keinginan untuk menjadi muslim sudah menggedor hatiku dengan begitu kuat. Sayangnya, keluargaku tak menyetujuinya. Mereka sangat menbenci Islam.

“Usiamu belum 18 tahun. Dan selama kamu masih tinggal serumah dengan kami, itu artinya kamu harus ikut aturan kami.” Orang tuaku memberi ultimatum.

Aku pun tak berdaya. Hingga akhirnya, dua minggu sebelum usiaku tepat 18 tahun aku sudah tak tahan lagi. Aku harus segera bersyahadat dan menjadi muslim yang kaafaah. Akhirnya aku pun mencari masjid terdekat di kotaku yang belum pernah kudatangi sebelumnya. Di sana aku mengutarakan niatku pada Imam masjid. Awalnya aku begitu gugup sampai bingung mau berkata apa. Di sana aku utarakan keinginanku untuk masuk Islam dan bersyahadat. Dan akhirnya, alhamdulillah aku bisa melewatinya!

Setelah bersyahadat, aku langsung belajar tata cara salat. Rasanya aku begitu gembira yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Alhamdulillah, tahun ini adalah tahun ketigaku berislam. Setiap hari selalu saja ada hal baru yang kupelajari yang membuatku makin mencintai Islam. Dalam kurun waktu tiga tahun ini, keluargaku mulai terbiasa dengan keislamanku meskipun tidak sepenuhnya bisa menerimaku. Saat ini aku mulai mempersiapkan pernikahanku, insya Allah dan berhijab dengan istiqomah dimana pun dan kapan pun. Aku pun menunaikan salat lima kali sehari dengan konsisten.

Aku pun berbicara tentang Islam di sekolah almamaterku. Dan setiap kali berbicara tentang Islam pada orang lain, aku selalu merasa bahagia. Inilah yang namanya dakwah. Aku berharap dari sekian banyak orang yang mendengarkan aku berbicara tentang Islam, akan ada satu orang yang makin paham tentang keindahan Islam dan tidak ada lagi salah paham tentangnya, insya Allah.

Inilah sekilas tentang perjalanan keislamanku. Rasanya aku bisa saja tak berhenti berbagi cerita tentang ini. Tapi kali ini cukup untuk memahami dasar mengapa akhirnya aku memilih Islam sebagai jalan hidup. Terima kasih sudah berkenan membaca kisahku ini. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Allah, insya Allah. (riafariana/voa-islam.com)


latestnews

View Full Version