View Full Version
Ahad, 23 Aug 2015

LGBT dan Puzzle Bernama Ayah

Ini pemandangan yang saya capture pagi tadi di taman kota Jombang. Ayah yg bermain dan ikut menjadi 'anak-anak' bersama 2 anak perempuannya. Ayah ini tak sungkan-sungkan beraksi kekanak-kanakan, dan melakukannya di tengah tatapan geli para ayah lain yang berkumpul juga di arena skateboard.

Melihat anak lelaki bermain dengab ayah.. keren, tapi biasa. Melihat ayah bermain dengan anak perempuan. Menarik.

Banyak 'ayah' di sana. Ada yg 'fisik'nya mengantar anak-anaknya bermain, namun jiwanya sibuk mengutak-atik gadget di pinggir taman. Ada yang mengawasi dari jauh, menatap gembira. Dan ayah ini menemani anak perempuannya, dan begitu menikmatinya. Maksimal.

(Istrinya duduk di pinggir taman bareng saya. Sepandangan mata saya sih belom ada gadis yang nyamperin si Ayah sambil berkata, "Mas dalam Islam poligami boleh lho.." trending -topic-banget-isu-ini xixixi )

#

Kehilangan figur ayah, adalah salah satu penyebab paling umum yg menyebabkan LGBT. Baik wanita LESBIAN. Pria GAY, BISEKSUAL, maupun TRANSGENDER. Begitu, kurang lebih penjelasan yang saya dapat dalam seminar tentang LGBT, bersama Kak Egie beberapa waktu lalu di Jombang.

Beliau mengutarakan banyak sekali contoh kasus klien LGBT yang beliau tangani di Peduli Sahabat, jika 'dibedah' masa kecilnya, ditemukanlah fakta tentang puzzle masa kecil yang hilang. Puzzle itu, bernama: AYAH. Ayah yang pemarah, Ayah yang tak pernah menyapa, Ayah yang menyakiti ibu, Ayah yang otoriter, Ayah yang kasar, dan lain-lain.

"Sekarang sudah bukan zamannya ayah kaku, tidak komunikatif."

**

Sebagai seorang Muslim, para Ayah tak perlu repot-repot mencari suri teladan Ayah yang ideal terutama bagi anak perempuan. Rasulullah memberikan contoh sempurna kedekatan emosional ayah dan anak perempuan, bahkan sampai pada fase memilihkan jodoh kelak. Bukan si kaya dan bangsawan yang dipilih, namun seorang pria sholeh dengan mahar 'hanya' baju besi seharga 4 dirham.

Disayang, tapi tidak dimanja, meski mampu. Itu teladan ayah yang paling saya ingat saat mendengar tausiyah pak Ustaz suatu hari. Saat anak perempuannya dengan malu-malu dan takut, 'mengeluh' kelelahan mengurus rumah tangga dan minta asisten dari tawanan perang yang jadi hak preogratif ayahandanya, Ayahanda menolak dan 'hanya' memberi nasihat :

“Bagaimana jika kuberitahukan kepada kalian berdua tentang sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian pinta kepadaku? Ada beberapa kalimat yang diajarkan Jibril kepadaku, hendaklah kalian bertasbih kepada Allah di ujung setiap salat sebanyak sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali dan bertakbir sepuluh kali. Jika kalian beranjak ke tempat tidur,bertasbihlah tiga puluh kali, bertahmidlah tiga puluh kali dan bertakbirlah tiga puluh kali.” [HR Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan Abu Daud]

#

Dear para ayah..

Yuk! Ditaruh gadgetnya. Ini week-end. Jika dekat, peluk dan temani anak-anaknya. Jika jauh,
telpon dan sapa mereka. Pastikan PUZZLE tentangmu itu tetap di tempatnya, di hati mereka! 

Yana Nurliana

*Menulis adalah Belajar

(riafariana/voa-islam.com)

 


latestnews

View Full Version