View Full Version
Senin, 16 Nov 2020

Mengajari Anak Berpikir Benar, Apakah Itu?

 

Oleh: Najah Ummu Salamah

 

Hari ini sangat sering kita mendapati video ataupun konten-konten yang menggambarkan pergaulan bebas anak-anak usia SD dan SMP di sosial media. Bahkan tidak sungkan mereka yang masih bau kencur tersebut beradegan layaknya suami istri yang mesra dalam berbagai aplikasi yang disajikan smartphone. Mulai dari adegan bergandengan tangan, pelukan, ciuman dan sebagainya.

Tak jarang komentar netizen malah seakan memberikan apresiasi positif dengan kalimat, "Si kecil sudah mulai aktif ya Bun."

Sebuah fenomena yang membuat sebagian orangtua takut dengan masa depan generasi bangsa ini. 

Apa yang bisa diharapkan dari anak-anak yang bucin seperti itu? Padahal seharusnya usia SD dan SMP adalah masa-masa belajar dan menggali potensi diri, bukan malah sibuk mengumbar nafsu birahi. Parahnya lagi, apa yang mereka lakukan justru seakan-akan dibenarkan oleh netizen.

Jadilah mereka semakin sulit membedakan mana perilaku yang benar dan salah. Bagi mereka yang terpenting adalah eksistensi diri.

Oleh karena itu sangat penting bagi orangtua membangun sikap berpikir yang benar pada generasi. Bukan hanya sebatas berpikir logis. Apakah berpikir yang benar itu?

Membiasakan Berpikir Benar pada Anak

Dalam pandangan Islam, pendidikan anak terbagi menjadi dua bagian secara garis besar sebelum dia baligh. 

Pertama, masa hadhanah. Yaitu masa-masa penyusunan bayi hingga si anak mampu memilki kemandirian dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Misal bisa makan sendiri, pakai baju sendiri, ke kamar mandi sendiri dan sebagainya.

Kedua, masa pra baligh. Yaitu masa anak mulai bisa membedakan tangan kanan dan kiri atau masa mumayyis. 

Nah pada masa inilah orangtua harus membimbing anaknya untuk terbiasa berpikir logis. Sebab dan akibat harus sering disampaikan. Misal jika tidak rajin sikat gigi, maka kuman akan bersarang di gigi dan merusak gigi. Hal itu membuat gigi sakit.

Masa ini berlangsung sekitar usia tujuh hingga dia baligh. Oleh karena itu Rosulullah SAW mengharuskan orangtua mengajari anak sholat lima waktu serta dipisahkan tempat tidurnya.

Dari Amr Bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Perintahkan anak-anakmu melaksanakan sholat sedang mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka karena tinggal sholat sedang mereka berusia 10 tahun dan pisahkan antara mereka di tempat tidurnya."

Pada tahapan ini pula, orangtua terus membimbing anak untuk kebiasaan baik dan memberikan pemahaman yang benar.

Misalnya penanaman Aqidah, membiasakan anak beramal karena Allah SWT, meyakinkan anak bahwa Malaikat senantiasa melihat perbuatan kita dan bahwa ada balasan syurga dan neraka bagi setiap amal di dunia.

Penting juga menambah tsaqofah anak dengan mengajari beberapa hukum fiqih. Misalnya tentang fikih pergaulan. Mana itu batasan aurot, keharaman pacaran dan sebagainya. Jangan lupa membiasakan berbagai adab dalam kehidupan sehari-har, seperti adab makan-minum, tidur, belajar, ke kamar mandi, bahkan masuk kamar orangtua dan sebagainya.

Orang tua harus terus membimbing dalam meluruskan kecenderungan sikap dan sifat yang salah pada anak, dengan membiasakan dan memahamkan tentang aqidah dan hukum-hukum Islam. Maka dari sini, anak akan dapat berpikir benar, bukan hanya sekadar berpikir logis saja. 

Jadi, berpikir benar ini adalah saat pada diri anak telah menancap standar benar dan salah yang disandarkan kepada Islam saja, bukan yang lain.

Sehingga tidak akan kita jumpai anak-anak yang sudah matang secara biologis namun masih belum bisa berpikir logis apalagi benar. Bila sudah diajari berpikir benar, maka tidak akan lagi kita jumpai anak-anak yang sudah baligh tapi masih belum mandiri untuk urusan makan, tidur masih minta ditemani orangtua, masih belum memiliki tanggung jawab kebersihan dirinya sendiri dan sebagainya.

Itulah mengapa kedewasaan seseorang tidaklah bergantung pada usia. Namun sejauh apa tingkat berpikirnya. Tingkat berpikir seseorang inilah yang sangat menentukan cara dia mengatasi permasalahan yang akan dia hadapi di masa yang akan datang.

Sebagai contoh di masa Baginda Nabi Muhammad SAW. Banyak diantara para sahabat yang memiliki taraf berpikir benar meski usia mereka belasan tahun. Beberapa diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas'ud, Anas Bin Malik dan sebagainya. Mereka adalah sosok-sosok generasi yang terlahir dari arahan dan bimbingan yang benar. Terutama ada peran utama keluarga yang didukung oleh peradaban Islam Kaffah.

Sehingga saat ini hanya keluarga benteng terakhir pelindung generasi. Orangtua harus istiqomah membiasakan dan membimbing anak-anak dengan aqidah dan hukum-hukum Islam. Ini semua demi lahirnya generasi berkepribadian Islam yang mampu berpikir benar dan cemerlang demi kebangkitan peradaban Islam yang gemilang. Wallahu a'lam bi ash-showab. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version