View Full Version
Senin, 04 Oct 2021

Inilah 5 Tahapan yang dalam Mendidik Ananda Tercinta

 

Oleh: Euis Hamidah

Seorang anak ibarat sebuah kertas putih yang bersih. Ia dapat diberi warna apa saja oleh pendidiknya, baik itu oleh orang tua, guru, orang dewasa, dan lingkungan disekitarnya. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, yang artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah S.a.w bersabda : ‘Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah (suci) kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majus’i.” (H.R. Bukhari Muslim)

Oleh karena itu, pendidikan yang diberikan kepada Ananda tercinta tidaklah bisa asal. Semuanya perlu diperhatikan dengan baik, agar anak yang dicetak dapat menjadi investasi bagi kita di masa yang akan datang (akhirat). Jika proses pendidikan anak diamanahkan kepada orang yang bukan ahlinya,  maka hasil yang didapatkan akan seadanya. Dan terdapat banyak hal yang terlupakan dalam proses mendidik anak.

Terdapat 5 hal yang dapat menjadi kunci keberhasilan dalam mendidik Ananda Tercinta, yaitu: mendidik dengan keteladanan, mendidik dengan kebiasaan, mendidik dengan nasihat, mendidik dengan perhatian, dan mendidik dengan hukuman. Namun pada faktanya, kita lebih sering mempraktikkan kegiatan mendidik dengan nasihat dan hukuman, dan melupakan tiga proses mendidik yang lainnya.

Pertama, mendidik dengan keteladanan. Banyak orang tua yang berharap jika kumandang adzan sudah terdengar, maka anak akan sigap mengambil wudhu dan bersiap shalat. Namun terkadang orang tua tersebut lupa, mereka hanya memerintahkan kepada anaknya tanpa diikuti keteladanan yang dicontohkan. Keteladanan menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap baik atau buruknya perangai (akhlak) anak.

Hal ini sejalan dengan salah satu alasan diutusnya Rasulullah s.a.w. di tanah Arab sana. Karena Allah SWT ingin menjadikan Rasulullah s.a.w. menjadi teladan bagi seluruh ummat manusia. Sejak kecil, Rasulullah s.a.w, sudah dikenal dengan julukan al-amiin yang artinya dapat dipercaya. Karena akhlak beliau yang mulialah orang-orang kafir Quraisy kagum dan menyegani beliau. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 21, yang artinya :

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”

Setelah Rasulullah s.a.w. diangkat menjadi seorang rasul pun beliau selalu memberikan contoh terlebih dahulu kepada para sahabatnya sebelum memerintahkan para sahabat untuk melakukan. Oleh karena itu, keteladanan menjadi hal yang penting dalam proses mendidik.

Kedua, mendidik dengan kebiasaan. Rasulullah bersabda : “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah.” (H.R. Bukhari). Dengan maksud, dilahirkannya anak yang dalam keadaan suci ini, orang tua berperan melakukan pembiasaan, pendiktean, dan  pendisiplinan dalam pertumbuhan anak dan menguatkan tauhid yang murni, akhlak yang mulia, jiwa yang agung, dan etika syariat yang lurus. Jika proses pendidikan anak sinkron antara pembelajaran (materi) keagamaan dan pembiasaan yang dilakukan di lingkungan kondusif (rumah, sekolah, dan teman), maka dapat dipastikan anak tersebut akan tumbuh dalam iman yang kuat, berakhlak islam, serta menjadi pribadi yang mulia.

Ketiga, mendidik dengan nasihat. Proses mendidik yang satu ini adalah proses mendidik yang paling sering dilakukan dan ditemukan di lapangan. Karena proses mendidik dengan nasihat ini sangat efektif dalam membentuk keimanan anak, akhlak, mental, dan sosialnya. Hal ini disebabkan karena nasihat memiliki pengaruh yang besar untuk membuat anak mengerti tentang hakikat sesuatu dan memberinya kesadaran tentang prinsip-prinsip Islam. Maka tidak heran, banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang isinya mengandung nasihat dan diulang pada banyak ayat. Seperti sebuah kisah yang diabadikan dalam ayat Al-Qur’an, yaitu tentang nasihat Lukman kepada anaknya yang terdapat dalam Q.S. Luqman ayat 13-17.

Jika orang dewasa saja yang hatinya sudah kotor bisa berubah karena suatu nasihat, maka akan lebih berpengaruh jika Ananda tercinta kita diberi nasihat dan lebih cepat menerima peringatan. Dalam mendidik dengan nasihat, sebaiknya dilakukan sebelum Ananda tercinta memasuki usia remaja. Karena mendidik dengan nasihat adalah sebuah bimbingan dan nasihat dalam proses mempersiapkan Ananda tercinta dalam hal keimanan, akhlak, serta membentuk mental dan sosialnya. Mendidik dengan nasihat dapat dilakukan dengan seruan persuasive yang disetai dengan pengambilan hati dan pengingakaran, serta menggunakan gaya bahasa kisah yang disertai pelajaran dan nasihat (hikmah). Dan pengarahan Al-Qur’an yang mengandung pesan dan nasihat.

Keempat, mendidik dengan perhatian atau pengawasan. Maksudnya adalah mengikuti setiap perkembangan anak dan mengawasinya dalam pembentukan aqidah, akhlak, mental, dan sosialnya. Begitu pula dengan terus mengecek keadaan anak dalam pendidikan fisik dan intelektualnya. Cara memdidik ini dianggap sebagai salah satu dari asas yang kuat dalam menbentuk manusia yang seimbang.

Manusia yang seimbang yaitu yang memberikan semua haknya sesuai porsinya masing-masing, yang sanggup mengemban semua tanggung jawab yang harus dipikulnya, yang melakukan semua kewajibannya, dan yang terbentuk menjadi muslim hakiki sebagai batu pertama untuk membangun fondasi Islam yang kokoh, yang dengannya akan terwujud kemuliaan Islam. Allah memerintahkan untuk mendidik dengan perhatian atau pengawasan tersebut terdapat dalam Q.S. At-Tahrim ayat 6, yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, periharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Cara orang tua mendidik dan menjaga agar keluarga dan anak-anaknya terhindari dari api neraka adalah dengan memerintahkan kebaikan dan melarang kejelakan (amar ma’ruf nahi munkar) kepada mereka.

Kelima, mendidik dengan hukuman. Hukuman setiap anak berbeda, disesuaikan dengan tingkat usia dan kesalahan yang dilakukannya. Adapun hal yang dapat dilakukan dalam memberi hukuman adalah sebagai berikut :

  1. Bersikap lemah lembut adalah hal yang pokok dalam memeperlakukan anak. Sebagaimana dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad yang artinya : “Hendaklah engkau bersikap murah hati dan jauhilah kekerasan dan kekejian.”
  2. Memperhatikan karakter anak yang melakukan kesalahan dalam memberi hukuman.
  3. Memberi hukuman secara bertahap dari yang ringan sampai yang keras.
  4. Menunjukkan kesalahan dengan mengarahkannya.
  5. Menunjukkan kesalahan dengan sikap lemah lembut.
  6. Menunjukkan kesalahan dengan isyarat.
  7. Menunjukkan kesalahan dengan menegur.
  8. Menunjukkan kesalahan dengan menjauhinya.
  9. Menunjukkan kesalahan dengan memukul.
  10. Menunjukkan kesalahan dengan hukuman yang dapat menyadarkan.

Adapun syarat-syarat hukuman pukulan yaitu: hukuman pukulan tidak diberikan kecuali pendidik sudah melakukan cara-cara pendisiplinan yang lain. Salah satunya adalah tidak memukul dalam keadaan marah. Saat memukul pun, hindari tempat-tempat vital, seperti kepala, wajah, dada, dan perut. Pukulan pada tahap pertama tidak boleh keras dan menyakitkan. Kemudian tidak boleh memukul anak sebelum memasuki usia 10 tahun. Berikan kesempatan untuk memperbaiki kepada anak, jika itu merupakan kesalahan yang pertama dilakukannya. Memukul anak sendiri; dan jika sudah baligh dan 10 pukulan tidak membuatnya jera, maka boleh menambah pukulannya yang menyakikkan dan berulang sampai anak menyesali perbuatannya dan mau memperbaiki diri. Wallahu a’lam. (rf/voa-islam.com)

Referensi :

“Tarbiyatl Aulad Fil Islam” karya DR. Abdullah Nashih ‘Ulwan

Ilustrasi: Google

 


latestnews

View Full Version