View Full Version
Ahad, 25 Dec 2022

Ibu, Sedih dan Sendu di 'Harimu"

 

Oleh: Sunarti

 "Bukan salah bunda mengandung, salah oleh badan buruk pinta" yang artinya menyesali nasibnya yang malang. Peribahasa ini rasanya begitu lekat dengan kehidupan sekarang. Nasib anak-anak yang diharapkan unggul berprestasi serta berbudi pekerti luhur, beradab dan berakhlak mulia, ternyata jauh dari kata "yang diharapkan" para ibu beserta masyarakat pada umumnya.

Saat ini, generasi penerus bangsa telah terikat dengan kondisi yang memprihatinkan. Berbagai persoalan mendera, silih berganti. Sek bebas, kasus narkoba, bullying, kekerasan remaja, aborsi, dan sederet kasus lain. Sayangnya, kondisi ini seolah adalah fenomena yang alami terjadi. Alasan kemajuan teknologi, kecanggihan anak-anak Gen Z dan lain sebagainya.

Hari ibu yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi para ibu, justru menjadi hari yang menyedihkan, karena kasus-kasus yang menimpa anak-anak mereka.

Fenomena Persoalan Remaja

Hati ibu pastinya teriris ketika menyaksikan kasus-kasus yang menimpa anak-anak mereka. Berbagai persoalan tidak kunjung reda. Semakin hari, semakin meningkat dan bermacam-macam kasus yang menimpa para pemuda ini.

Sebut saja kasus pembunuhan di kalangan anak-anak muda yang sangat menyayat hati. Dalam voi.id disebutkan menurut data Word Health Organization (WHO) pada 2020, setiap tahunnya terjadi 200 ribu pembunuhan di kalangan anak-anak muda usia 12-29 tahun. Dicantumkan di laman tersebut bahwa sebanyak 84 persen kasus melibatkan laki-laki usia muda. WHO menyatakan kekerasan di antara anak muda telah menjadi isu kesehatan fisik, perundungan, kekerasan seksual hingga pembunuhan. Kriminalitas anak muda secara global lebih banyak terjadi di perkotaan.

Laman yang sama juga mengutip pemberitaan dari Sciencedirect.com, Journal a Theory of General Causes of Violent Crime, Mario Coccia seorang peneliti dari Arizona State University, Center for Social Dynamics and Complexity meneliti tingkat kriminalitas di negara maju dan berkembang kurun waktu 1990-2000. Penelitian difokuskan pada kasus pembunuhan di 40 negara dan perampokan di 33 negara.

Selain kasus kekerasan, kasus yang lain juga menimpa anak-anak muda. Laman lain juga memberitakan kasus remaja ini. Seperti Kumparan.com yang mengabarkan bahwa hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 (dilakukan per 5 tahun) mencatat bahwa kurang lebih 2% remaja wanita dan 8% remaja pria dengan usia 15-24 tahun mengaku bahwa mereka sudah pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah.

Duka Ibu Nyata

Dalam Detik.new.com mengabarkan tema dan logo Hari Ibu di tahun 2022, telah dirilis oleh pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa) Republik Indonesia. Peringatan Hari Ibu (PHI) di Indonesia yang diperingati pada tanggal 22 Desember setiap tahunnya, tahun ini mengambil tema Perempuan Berdaya Indonesia Maju. Tahun ini peringatan Hari Ibu yang ke-94 tahun sejak tahun 1928. Menunjukkan jika peringatan ini telah lama dilakukan di negeri Ibu Pertiwi. Namun sayangnya, hati Ibu saat ini sedang dalam duka melihat kondisi anak-anaknya.

Bahkan tak hanya anak-anaknya, namun Ibu juga sedang dilanda sakit yang berkepanjangan. Mulai dari susahnya perekonomian, kasus KDRT, kasus pembunuhan, hingga kasus lunturnya naluri seorang ibu yang tega menghilangkan nyawa anak-anak dan suaminya.

Sayangnya berbagai problematika yang menimpa ibu tidak kunjung datang penyelesaiannya yang benar-benar mengeluarkan para ibu dari beratnya persoalan mereka. Meskipun setiap tahunnya diperingati, namun kondisi para ibu tak jauh berbeda dengan kondisi anak-anaknya. Konon peringatan Hari Ibu merupakan tonggak perjuangan perempuan dalam upaya kemerdekaan bangsa dan pergerakan perempuan Indonesia dari masa ke masa dalam menyuarakan hak-haknya guna mendapatkan perlindungan dan mencapai kesetaraan.

Dituliskan sebuah pemberitaan, Tirto.id, bahwa tahun ini diperingati Hari Ibu dengan mengambil tema Perempuan Berdaya Indonesia Maju dengan beberapa sub tema, yaitu:

1. Kewirausahaan Perempuan: Mempercepat Kesetaraan, Mempercepat Pemulihan

2. Perempuan dan Digital Economy

3. Perempuan dan Kepemimpinan

4. Perempuan Terlindungi, Perempuan Berdaya

Dengan melihat sub tema Hari Ibu kali ini secara sekilas nampak jika eksistensi perempuan saat ini sedang di-blow up untuk mengangkat perekonomian dan kesetaraan kaum perempuan. Dan ini semua dikemas dengan apik serta diarusderaskan kepada khalayak agar bisa diterima dengan lapang dada. Bahkan harapannya dijadikan sebagai solusi atas problematika yang terjadi saat ini.

Menelisik Problematika yang tak Kasat Mata

Banyaknya kasus pada anak-anak ibu dan problematika yang menimpa ibu, sebenarnya tidak semata alasan ekonomi, kesetaraan gender, ketidakberdayaan perempuan ataupun pendidikan di negeri ini. Itu semua hanya sebagian dari efek kecil yang ditimbulkan dari sebuah persoalan yang mendasar.

Telah jamak diketahui bahwa saat ini, negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam, negeri Zamrud Khatulistiwa atau permata dunia yang memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah, juga sumber daya manusia yang sangat potensial adalah negeri yang men-tabbani (mengadopsi) sistem sekular-kapitalis. Yang mana sistem ini berakibat kerusakan di berbagai bidang. Baik itu dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga sistem ketahanan negara.

Kenapa demikian?

Karena tabiat dari sistem sekular-kapitalis ini meninggalkan aturan yang "pakem" (baku) dari Sang Pencipta. Maka seluruh aturan yang diterapkan secara otomatis bisa ditarik ulur sesuai dengan kepentingan orang-orang yang ada di dalamnya, yaitu orang-orang yang memegang kekuasaan dan wewenang hukum.

Munculnya problem remaja mengenai maraknya kasus sek bebas misalnya, adalah buah kebebasan berperilaku yang dilindungi dengan undang-undang atas nama hak asasi manusia. Maka wajar jika bermunculan anak-anak muda yang seharusnya menjadi generasi tangguh, generasi pengemban dan penentu masa depan, malah menjadi anak-anak yang krisis adab, tak bermoral hingga anak-anak yang tidak jelas kepribadiannya.

Contoh lain adalah peran seorang ibu sebagai pengatur urusan rumah tangga, misalnya. Para ibu saat ini sedang digiring meninggalkan tugas dan kewajiban mereka sebagai ibu, istri, anak dan juga menjadi bagian dari masyarakat. Mereka hendak dibawa menjadi manusia pencetak uang dan tengah-tengah produksi dengan alasan kewirausahaan, peningkatan ekonomi dan lain sebagainya.

Yang berikutnya adalah ketika para ibu digiring ke arah kebebasan dari sebuah ikatan yaitu pernikahan. Mereka dibawa untuk berkarir guna eksistensi diri, eksis juga dalam bidang politik dan teknologi juga menjadi berdaya. Ini menunjukkan arah pengerusakan tabiat seorang ibu yang seharusnya mereka berada di tengah-tengah keluarganya menjadi sosok tauladan bagi anak-anaknya, menjadi pengatur urusan rumah tangga suaminya, istri yang taat dan patuh kepada Rabbnya.

Selain itu, fenomena eksistensi diri menyeret pemikiran para ibu atau perempuan pada umumnya untuk tidak mau terikat dengan pernikahan bahkan tidak lagi mau memiliki anak. Semua digelontorkan musuh-musuh Islam dengan nama hak asasi manusia juga pemberdayaan perempuan. Di sini kompleksnya problem yang menimpa ibu sangatlah memprihatinkan.

Ibu Butuh Solusi Tak Sekadar Diperingati Hari

Berbagai upaya yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam tidak berhenti hanya pada pengrusakan tabiat seorang ibu tapi juga anak-anaknya. Mereka berupaya secara terus-menerus guna keberhasilan propagandanya. Tak hanya sampai di sini, mereka bahkan berusaha sekuat tenaga untuk keberhasilan propagandanya dengan cara memasukkan ide-ide sesat mereka melalui kebijakan negara.

Dengan demikian jika hal ini dibiarkan, maka kerusakan akan terus berlanjut. Tugas kita semua sebagai warga negara yang baik seharusnya tidak sekedar memperingati Hari Ibu semata. Akan tetapi memandang persoalan para ibu beserta anak-anaknya dengan seksama. Persoalan mendasar harus kita ketahui dan pahami. Sehingga kita tidak terlena dengan manisnya agenda-agenda musuh Islam melalui berbagai cara.

Sudah saatnya kita memikirkan persoalan yang terus berlanjut. Bukan lagi memikirkan tambal sulam penyelesaian dari pemikiran yang berasal dari Barat. Kini seharusnya kita memikirkan bagaimana semua persoalan selesai dengan tuntas tanpa muncul lagi masalah lain. Sebagai ingsan yang beriman semestinya kita mengimani apa saja yang Allah berikan. Seluruh persoalan, mulai dari "isah-isaj hingga pemerintah" (urusan rumah hingga pemerintah), Allah telah lemgkapkan solusi di dalam syariatNya. Jika kita belum mengetahui semuanya, sudah sepantasnya kita belajar banyak hal dari aturan-aturan Allah SWT.

Seperti aturan pendidikan, perekonomian, kesehatan dan sederet aturan yang lain. Dalam sistem Islam aturan perekonomian menjadi aturan yang baku, karena dalam penerapannya mempengaruhi berjalannya sistem yang lain.

Perekonomian tidak dikuasai oleh swasta ataupun asing. Akan tetapi dikelola negara berbagai sumber daya alam untuk kesejahteraan warga negaranya. Jadi seorang ibu tidak lagi disibukkan dengan urusan eksistensi diri juga kebutuhan hidup. Mereka akan fokus pada kewajiban mereka menjadi seorang ibu yang merupakan madrasatul ula bagi anak-anaknya.

Demikian pula sistem pendidikan akan difasilitasi oleh negara dengan pendidikan berkarakter yang berbasis pada akidah Islam. Sehingga anak-anak akan terdidik secara adab maupun akhlak yang terpuji.

Sisi lain, penerapan sistem pergaulan juga akan didasarkan pada aturan Allah SWT., bukan pada manusia. Akan ada batasan-batasan dalam pergaulan. Akan ada sanksi pula ketika seseorang melakukan pelanggaran terhadap pergaulan ini. Misal sek bebas, pelakunya akan dihukum sesuai kesalahannya. Karena telah dianggap melakukan dosa besar yaitu zina.

Demikianlah seharusnya kita memandang berbagai persoalan dengan kacamata yang sesuai yaitu dari sudut pandang aturan Allah SWT. Bukan lagi aturan manusia. Sehingga para ibu akan tenang meraih pahala dengan fokus mendidik anak-anaknya serta beribadah. Anak-anak juga akan mendapatkan perlakuan yang sesuai dengan haknya, yaitu dididik oleh orang tua dan negara menjadi jiwa-jiwa yang tangguh dan bermartabat. Sehingga setiap hari akan menjadi Hari Ibu sekaligus Hari Anak yang benar-benar hidup dalam keridhaan Rabbnya, karena telah patuh terhadap segala aturanNya. Wallahu alam bisawab. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version