View Full Version
Sabtu, 25 Mar 2023

Jangan Jadi Anak Durhaka!

 

Oleh: Alga Biru

Pernahkah kalian mendengar kutipan kalimat sakti yang isinya kira-kira begini: "Sebagai seorang anak, aku tidak pernah minta dilahirkan oleh kedua orangtuaku. Aku tidak pernah memilih seperti apa mereka dan keadaan diriku sepenuhnya. Jadi kenapa aku harus merasa berutang budi kepada mereka? Bukankah aku ada karena pilihan orangtuaku sendiri?"

Kutipan kalimat di atas atau yang semisalnya banyak bertebaran dalam berbagai narasi bahkan adegan percakapan di film ataupun drama berseri. Sepintas sih ada benarnya. Seolah timbul kesan yang membenarkan bahwa anak-anak adalah "korban" dari pilihan orangtuanya. 

Namun terlintaskah dalam pikiran kita bahwa narasi "toh aku tidak minta dilahirkan kok" ini bisa jadi senjata yang jahat banget akan hubungan orangtua kepada anak. Alih-alih menciptakan hubungan yang harmonis, malahan anak cenderung tidak mensyukuri kelahiran dan menyalahkan orangtua atas permasalahan hidup mereka. Di dalam islam, bahkan ajaran agama lain pun, ada tuntunan untuk berbakti kepada orangtua. 

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al Isra ayat 23).

Lalu ke mana perginya fitrah anak untuk berbakti kepada orangtua? Jangankan kepada orang yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan dengan susah payah, tatkala kita diperlakukan baik oleh orang asing, maka kita wajib berterima kasih kepada orang tersebut. Kedua orangtua bukanlah orang asing, bukan juga manusia sempurna, bukan pula malaikat tanpa cela. Mereka manusia biasa yang terus belajar dan tumbuh untuk mencintai anak-anaknya. Mereka bisa saja putus asa dan kehilangan arah. Namun dengan semua kekuatannya, tetaplah orangtua berusaha sedemikian rupa membesarkan anak-anaknya. 

Bayangkan jika kedua pasangan  suami istri memilih aliran childfree atau hidup terbebas dari anak-anak, lantas apakah kita lahir ke dunia? Please, jangan sampai kita ke-trigger untuk sesuatu yang kelak kita sesali. 

Terus gimana dong kalau kita terlahir dari orangtua yang toxic alias buruk akhlaknya? Apakah kita sikap birul walidain tetap berlaku? Gimana juga dengan orangtua yang jelas-jelas zalim bahkan melakukan tindak pidana seperti pemerkosaan, kekerasan fisik hingga pelacuran? Ketahuilah bahwa sikap bakti anak kepada orangtua terus menjadi kewajiban hingga akhir hayat yang dilakukan secara proporsional. Adapun delik pidana tidak bisa menjadi motif balas dendam anak kepada orangtua durhaka. Proses hukum tetap berlaku sebagaimana jenis pidana lain sesuai aturan yang berlaku. Jika orangtua melakukan kekerasan anak maka negara harus memberi sanksi tegas agar kejadian  serupa tidak terulang kembali. Tentu tidak mudah bagi anak untuk berlepas diri dari lingkaran toxic relationship yang ada pada keluarga. Kejadian demi kejadian tidak bisa mengabaikan faktor internal dan eksternal keluarga. 

Sebagai bentuk penegasan, marilah kita runut kembali tentang siapa diri kita yang sebenarnya: Bukankah seorang anak tidak pernah meminta dilahirkan? Ya benar, kelahiran bukanlah sebuah pilihan melainkan pemberian dan kehormatan. Bagaimanapun, kita terlahir sebagai mahluk dengan akal budi dengan predikat khalifah (pemimpin) di muka bumi (terhormat). Lantas apa yang sebaiknya dilakukan seseorang untuk sesuatu yang tidak pernah ia pilih (dilahirkan)? Jawabannya, jalani dan hadapilah. Suka tidak suka, kita meyakini qadha Allah pasti datang dengan suatu tujuan. Termasuk penciptaan kita di muka bumi yakni punya tujuan tertentu yang tidak main-main.

Kedua orangtua tidak pernah menciptakan kita, tetapi Allah dengan iradah-Nya menciptakan keturunan-keturunan manusia sebagaimana yang Dia kehendaki. Orangtua sebagai media dan wujud fisik yang terindera oleh akal, sedangkan perancang takdir (tujuan) penciptaan hanyalah Allah SWT semata. Lalu kenapa kita tidak menjadi hamba yang bersyukur? Diantara debu-debu semesta, Allah SWT menjadikan kita salah satu manusia yang memiliki fitrah dan akal budi untuk beribadah kepada-Nya. Tidakkah kita termasuk orang-orang yang berpikir? 

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. al-'Ankabut ayat 19). Wallahu alam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version