View Full Version
Rabu, 05 Mar 2014

SmartTeen: Darurat Bencana Seks Bebas di Bogor

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun....

Sahabat Voa-Islam...

Bogor sudah menjadi “darurat bencana seks bebas”. Data mengejutkan baru baru ini dirilis oleh Dinas Kesehatan Kota Bogor (Radar Bogor Metropolis, 28 Februari 2014) dalam jangka waktu satu tahun sedikitnya terdapat 32 kasus kehamilan yang tidak diinginkan dari 148 kasus hubungan seks pranikah.

Artinya terdapat dari 1480 kasus hubungan seksual di luar nikah, terdapat 320 kasus aborsi selama setahun ini di daerah Bogor kota. Entah berapa banyak lagi kasus yang tidak terdata. Data lain menyebutkan, dari 25 siswa SMP dan SMA yang disurvey, hanya 3 siswa yang masih perawan. (Radar Bogor Metropolis, 28 Februari 2014) Yang lainnya mengaku pernah melakukan hubungan seks denganlebih dari 1 lelaki, empat, lima bahkan tujuh lelaki berbeda. Awalnya mereka hanya ingin mencoba hubungan seks namun lama kelamaan menjadi ketagihan. Sungguh memprihatinkan.

Tempat tempat untuk melakukan kegiatan zina tersebut kian menyebar. Sebut saja daerah Puncak, Ciawi, Taman Topi Jl. Merdeka, Taman Kencana, Kebun Raya, dan Taman Pengaringan Jalan Sudirman. Tempat –tempat tersebut sudah menjadi rahasia umum merupakan tujuan para pasangan mesum untuk melakukan maksiat. Kemudian, hotel, penginapan, warnet, tempat kos, bahkan rumah mereka masing-masing bisa menjadi lokasi perbuatan zina. Pelaku nya pun semakin beragam, mulai dari anak SD, SMP hingga mahasiswa, lelaki dari kalangan pekerja informal, sampai para pejabat pemerintahan, baik dengan pacar sendiri, teman, pasangan selingkuh atau sengaja menyewa pelacur. Kondisi ekonomi pelaku juga beragam, mulai dari anak sekolah dengan uang saku seadanya, sampai orang berpunya dengan bayaran “tak terhingga”.Bencana ini juga diperparah dengan adanya iklan di media massa, cetak dan elektronik, film di televisi maupun di bioskop serta interaksi di dunia maya yang mengumbar aurat, adegan pacaran, komik-komik hingga tabloid, dan majalah dewasa yang semua berisikan “stimulus zina” yang seakan menggempur kita dari segala arah.

Prihatin sekali melihat keadaan masyarakat Bogor yang seperti ini. Benak masyarakat kita, anak sekolah, dan mahasiswa sudah penuh dengan “ eksposur seks”. Jangankan untuk memikirkan dan peduli dengan nasib bangsa ini, memikirkan masa depan mereka sendiri pun sudah tidak mampu akibat penuhnya benak mereka dengan hayalan seks. Lalu siapa yang kita harapkan untuk menjadi tulang punggung bangsa untuk melanjutkan estafet pembangunan negeri ini? Miris! Kami yang masih peduli hanya mampu mengelus dada. Sekelompok masyarakat lain berusaha meminimalisir perzinahan dengan mempasang panduk, bongkar paksa tempat mesum, mengusir para pelaku zina yang kedapatan berbuat mesum dll. Namun, apakah tindakan seperti itu cukup mampu menghalau bencana ini? Bagaimana jika itu terjadi di ruang prifat, siapakah yang mampu menjangkaunya?

Kota Bogor dengan mayoritas penduduk beragama Islam, telah menjadi “surga” bagi pelaku seks bebas. Seks bebas seakan sudah menjamur dan menggurita. Semakin hari semakin beragam aktifitas zina, semakin beragam juga pelakunya dan semakin variatif medianya. Serangan “eksposure” seks datang seperti air bah dan menyerang siapa saja tanpa terkecuali. Tepat bila kita katakan bahwa Bogor adalah daerah “darurat bencana seks bebas”.

Padahal Islam telah jelas menegaskan seks bebas atau perzinahan adalah pelanggaran besar. Telah jelas bagaimana Al Quran dan Sunah Rasulullah mencontohkan hukum bagi para pezina, jika dia sudah menikah akan di rajam hingga mati, dan Jika dia belum menikah akan dicambuk 100x. Bahkan Islam mengatur hubungan pria dan wanita serta mengharamkan semua aktifitas yang mendekati zina. Sangsi yang tegas kepada pelaku zina tersebut merupakan penebus bagi pelakunya dan pencegah bagi pelaku zina yang lain. Telah demikian jelas Allah menetapkan hukumnya. Bukan karena Islam kejam. Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tak ingin hamba-Nya terjerumus ke dalam jurang maksiat lebih dalam. Allah menunggu hamba-Nya memohontaubat, membukakan pintu ampunan seluas-luasnya.

Sayangnya, masih banyak masyarakat kita yang permisif dengan perzinahan tersebut. Mereka berdalih selama tidak merugikan saya dan keluarga, atau bukan urusan saya, dan banyak dalih lain mengabaikan masalah penting ini. Padahal, semua faktor yang mengarah kepada perzinahan tidak bisa kita bendung sendirian. Kontrol masyarakat untuk mencegah perilaku ini mutlak diperlukan. Namun, posisi strategis yaitu peran negara dalam mengontrol semua stimulus kepada seks bebas adalah hal terpenting dan mendesak. Akan sangat sulit masyarakat mengontrol kerusakan moral, tanpa regulasi dan hukum dari penguasa.

Seks bebas ibarat virus. Dia dapat terdeteksi, dan membutuhkan penanganan khusus agar tidak menyebar luas. Butuh gerak cepat agar tidak membunuh lebih banyak orang. Jika dibiarkan maka dia akan menyerang siapa saja, anak-anak, remaja, orang tua tanpa pandang bulu.

Umat Islam adalah umat yang khas, yang berbeda dengan umat yang lainnya. Jika dengan shalat saja bisa mencegah perbuatan keji dan munkar. Maka seharusnya perzinahan yang dilakukan oleh seorang muslim bisa dihindarkan. Selain kontrol pribadi dan kontrol masyarakat, kontrol negara menjadi mutlak adanya. Hanyalah Islam yang mengerti kebutuhan hidup manusia baik itu muslim maupun non muslim. Hanya Islam yang mampu mengatur menyalurkan naluri ini dengan cara yang benar.Terapkanlah hukum Allah dalam setiap aspek kehidupan. Kaum muslimin, masyarakat terlebih lagi negara wajib menerapkan aturan Allah dalam setiap aspek kehidupan. Bila  tidak kita lakukan dengan segera, kerusakan sebuah bangsa sudah di depan mata. Wallahualam bi shahwab.

Rina Nurawani

(Guru tinggal di Bogor)


latestnews

View Full Version