View Full Version
Rabu, 15 Mar 2023

Nggak Pacaran sih, Tapi...

 

Oleh: Aily Natasya

Pacaran, dosa yang udah sering banget dibahas tapi yang ngelakuin malah makin banyak. Apalagi di zaman sekarang di mana banyak banget yang posting tentang ke-uwu-an orang-orang yang pacaran. Makin banyak deh, yang menerobos. Padahal nggak sedikit yang tahu kalau aktivitas pacaran itu dosa. Mereka tahu kalau pacaran itu dosa, tapi ada aja deh alasannya. Ada yang beralasan takut diembat orang lain tapi belum mau nikah, penasaran, pengen uwu-uwu-an aja, dan ada juga yang alasannya karena sebentar lagi nikah. Bahkan, istilah untuk aktivitas pacaran itu sendiri sudah banyak macamnya. Ada yang pacaran berkedok ta’aruf,  TTM (Teman tapi Mesra), HTS (Hubungan tanpa Status), sampai dengan pacaran islami. Haq dan bathil dicampur-aduk.

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 42).

Banyak yang dengan bangga menggunakan istilah-istilah di atas dan mengatakan bahwa mereka tidak pacaran karena mereka tahu akan larangan di ayat 17:32. Iya, status dan istilahnya bukan ‘pacaran’. Tapi aktivitasnya sama aja, kali. Tetap ketemuan, ngobrol ngalor-ngidul berdua, pulang pergi sekolah bareng, boncengan dan lain-lain. Padahal kan, pacaran itu dilarang karena aktivitasnya yang mendekati zina. Yang baru saja disebutkan itu merupakan aktivitas yang mendekati zina semua.

Sama aja boong

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)

Teman-teman, perlu diingat ya, bahwasannya mendekati zina yang dimaksud di ayat ini tuh ya, aktivitas atau tindakannya. Bukan masalah status. Statusnya sih teman, tapi mesranya minta ampun. Katanya sih ta’aruf, tapi jauh sebelum akad sering banget ketemuan, ngobrol di pojokan berdua, dan saling lempar gombalan. Ada? Banyak. Itu bahkan sudah menjadi fenomena baru di kalangan santri. Apalagi yang mengaku-ngaku pacaran tapi Islami. Modelnya ya, nggak jauh beda. Ngingetin kebaikan, tapi dalam keadaan ‘pacaran’. Ya, sama aja boong itu namanya.

Zina itu banyak macamnya. Yang mau kita bahas di sini adalah Zina Al-Lama. Zina Al-Lama merupakan zina yang umumnya dilakukan dengan menggunakan panca indera, yakni: zina mata, zina hati, zina ucapan, zina tangan, dan zina luar. Zina mata (ain) ialah ketika seseorang memandang lawan jenisnya dengan perasaan senang. Saling pandang di antara cewek dan cowok dengan perasaan senang aja sudah termasuk zina, apalagi jika ada yang sampai berkhalwat, atau sampai berpegangan tangan. Masih mau denial kalau sebenarnya sedang melakukan dosa? Terlepas dari status, pacaran atau tidak, jika aktivitasnya selayaknya orang yang pacaran, padahal belum menikah, ya, tetap dosa. Toh, pacaran itu boleh, asalkan sudah menikah. Yup, melakukan aktivitas pacaran setelah menikah.

Cara paling ampuh yang dimiliki setan adalah menghias keburukan seakan terlihat indah. Menghias kebatilan terlihat sebagai kebenaran. Ketika kita berbuat maksiat namun perasaan kita justru mewajarkan itu, percayalah bahwa kita sudah berhasil diperdaya oleh setan. Dia menghias dosa kita terlihat seperti hal yang wajar dan sah-sah saja. Seperti, “Ah, walau pacaran, tapi, kan, selalu saling mengingatkan dalam kebaikan”, atau seperti, “Nggak pa-pa, dong, kita dekat, asal nggak pacaran, kan?”

“Dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk.” (QS. An-Naml: 2).

Belajar agar tak mudah dikelabui

Jika kita mudah dikelabui entah itu dikelabui oleh setannya sendiri, atau setan yang berwujud manusia, salah satu solusinya adalah belajar ilmu agamanya harus never ending. Karena walaupun memang kita sudah paham terhadap bab itu, tetap saja harus sering diulang terus. Apalagi di saat iman kita sedang turun-turunnya. Kita harus menampar diri kita dengan ilmu yang kita pelajari. Itulah gunanya belajar. Karena belajar ilmu agama itu tidak hanya soal kita belajar karena belum tahu, tapi juga karena belum taat. Itu yang pertama.

Poin kedua, hendaknya kita senantiasa di lingkungan yang baik, yang dapat supporting iman kita yang kerap kali naik turun ini. Dengan adanya teman-teman yang sholeh/ah, insyaa Allah akan banyak yang mengingatkan, akan banyak yang ngerem.

And the last but not least is, jaga pandangan. Entah itu di kehidupan nyata maupun sosial media. Jangan sering menonton konten uwu-uwu-an, apalagi yang pacaran. Biar kita nggak mudah terpengaruh. Melihat konten-konten yang seperti itulah yang membuat kaum remaja ingin cepat punya pasangan, pengen romantis-romantisan, tapi belum siap menikah. Akhirnya, solusi yang diambil adalah pacaran. Naudzubillah. Udah deh gak usah ikut-ikutan. Emang enak ikutan jalan ke neraka sana? Jangan sampe! So, lebih baik berhati-hati ya daripada menyesal kemudian. Wallahu alam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version