View Full Version
Jum'at, 05 Apr 2024

Menikmati Roti Hosti, Meniru Trend War Takjil?

 

Oleh: Aily Natasya

Baru-baru ini, warganet dihebohkan oleh seorang wanita berhijab yang mendatangi gereja demi mendapatkan roti hosti. Wanita tersebut sangat penasaran sampai-sampai nekat memberanikan diri bertanya kepada pihak gereja terkait ketersediaan roti hosti tersebut. Bagi yang belum tahu, roti hosti sendiri merupakan roti yang tak beragi yang dibuat oleh para suster di gereja. Rasanya pun beragam, ada yang asin, manis, namun secara umum terasa hambar. Roti hosti dianggap sebagai tubuh Kristus, sehingga, sebelum dikonsumsi oleh jamaah yang datang ke gereja, roti tersebut harus melalui proses pemberkatan terlebih dahulu agar orang yang memakannya dapat menjadi satu tubuh dengan Kristus.

Mungkin niat awal dari kakak ini adalah meniru tren ‘war takjil’ yakni drama komedi perebutan takjil di antara orang Islam yang sedang melakukan ibadah puasa dengan non-Islam yang tidak berpuasa. Takjil-takjil di pasaran seringkali habis duluan dikarenakan orang-orang non-Islam sudah memborong semuanya sebelum waktu buka puasa.

Namun banyak sekali warganet di berbagai platform media sosial yang tidak setuju dengan tindakan kakak ini lantaran konteks yang berbeda. Mereka menilai bahwa tindakan tersebut tidak sopan dan kelewat batas karena mengganggu proses peribadatan agama lain. Padahal, di luaran sana banyak sekali yang menjual roti hosti yang tidak untuk digunakan sebagai persembahan, tapi kakak ini malah memilih meminta ke orang-orang yang ada di gereja.

Dalam Islam sendiri, memang tidak ada dalil tegas mengenai apakah seorang muslim boleh masuk ke gereja atau tidak. Namun masalahnya adalah kakak ini mengganggu ‘peribadatan agama lain’. Walau mungkin, kakak ini tidak memiliki niatan untuk mengganggu, dan pihak gereja pun tidak merasa terganggu, akan tetapi, alangkah baiknya hal ini tidak dinormalisasikan atas nama menghormati agama lain.

Contoh sederhana, bagaimana jika posisinya kita balik. Jika ada orang non-muslim yang datang ke masjid, untuk berburu takjil gratis dari masjid, apakah itu pantas? Tentu saja, bagi pihak masjid, bisa jadi tidak keberatan. Namun, jika kita melihat dari sudut pandang donatur yang memberikan takjil gratis tersebut ke masjid demi mendapatkan pahala puasa dari orang-orang yang berpuasa, bagaimana? Mungkin donatur tersebut pun akan merasa sah-sah saja. Maka dari itu, yang harus sadar diri di sini siapa? Tentu saja mereka yang bukan menjadi target utamanya.

Begitu pun dengan kejadian kakak yang menginginkan roti hosti dari gereja ini. Harusnya sadar diri juga. Para suster yang membuat roti hosti itu targetnya bukan kita, yang tidak beribadah di gereja, tapi yang ikut ibadah di sana. Walau banyak sekali narasi dari orang-orang Katolik sendiri yang ‘tidak apa-apa’ jika ada orang yang non-Katolik ingin makan roti hosti. Tapi, harusnya bisa berpikir, bahwa hal tersebut kurang etis, dan tidak harus minta ke gereja kalau benar-benar penasaran dengan roti tersebut . Karena nyatanya, roti tersebut banyak dijual di toko-toko online, dan yang pasti, tidak melalui proses pemberkatan seperti yang ada di gereja.

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)

Ayolah, kita itu umat Islam, janganlah memalukan diri sendiri dan agama sendiri. Berpikirlah sebelum bertindak. Lebih bijak dalam bertindak. Hidup damai dan saling berdampingan dengan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan kita itu memang indah. Namun ingat, masing-masing dari kita memiliki batasnya masing-masing. Kita tidak hanya harus saling menjaga kedamaian, tapi juga saling menghormati dan menghargai perbedaan tersebut. Wallahua’lam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version