View Full Version
Senin, 22 Apr 2019

Ancaman Berbuat Curang

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam.  Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Berlaku curang itu saudara kembar kebohongan dan dusta. Bohong salah satu pangkal keburukan. Darinya lahir berbagai keburukan-keburukan yang sangat banyak; di antaranya curang. Biasanya, kalau orang banyak bohong maka akan sering berbuat curang.

Ramai di negeri kita isu kecurangan pemilu, terutama dalam pemilihan presiden dan wakilnya. Dalam hal ini, Lembaga penyelenggara pemilu atau Kamosi Pemilihan Umum (KPU) menjadi tertuduh. Demikian pula pihak dari pasangan 01 yang diuntungkan.

Bohong dan curang sifat melekat pada diri orang kafir dan munafikin. Keduanya bukan bagian dari sifat orang-orang beriman. Maka pantaslah jika Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyebutkan bahwa orang-orang yang curang bukan bagian dari umat beliau.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ ، فَلَيْسَ مِنَّا ، وَمَنْ غَشَّنَا ، فَلَيْسَ مِنَّا

Siapa yang meghunuskan pedang kepada kami maka bukan bagian dari kami, dan siapa yang mencurangi kami ia pun bukan bagian dari kami.” (HR. Muslim)

Dalam redaksi lain di Muslim,

مَنْ غَشَّ ، فَلَيْسَ مِنِّي

Siapa yang curang ia bukan bagian dari diriku.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan haramnya berbuat curang dan termasuk dosa besar dalam Islam. Curang terhadap kaum muslimin dan selainnya menyebabkan kerugian bagi korban. Maka curang bukan tabiat, perilaku, dan sifat kaum muslimin. Karena sifat dasar kaum muslimin itu memberi nasihat, berlaku benar, dan jujur kepada sesama. Tidak ada kamus ‘curang’ dalam diri orang yang baik imannya.

Bagi tukang curang diancam tidak akan diakui sebagai umat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Di mana sebagian ulama membawa makna hadits-hadits serupa sesuai dzahirnya agar lebih ditakuti.

Bahwa dalam hadits ini terdapat ancaman keras terhadap perilaku kecurangan. Bahwa ini adalah dosa besar yang bisa menjerumuskan pelakunya ke neraka.  

Imam al-Khathabi rahimahullah, menjelaskan bahwa maknanya ia tidak berada di atas jalan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, tidak mengikuti ajaran beliau, dan tidak berpegang dengan sunnah-sunnahnya. Yakni saat ia berbuat curang kepada saudara seimannya.

Faktor Perbuatan Curang

Perbuatan curang memang biasanya tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor dan pemicu seseorang melakukan perbuatan tersebut. Diantaranya:

  1. Lemahnya iman, sedikitnya rasa takut kepada Allah dan kurangnya kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi dan menyaksikan setiap perbuatannya sekecil apa pun.
  1. Kebodohan sebagian orang tentang haramnya perbuatan curang, khususnya dalam bentuk-bentuk tertentu dan saat perbuatan tersebut sudah menjadi sistem ilegal dalam sebuah lembaga atau organisasi.
  2. Ketiadaan ikhlas (niat karena Allah) dalam melakukan aktifitas, baik dalam menuntut ilmu, berniaga, berkompetisi, memimpin dan lainnya.
  3. Ambisi mengumpulkan pundi-pundi harta kekayaan dengan berbagai macam cara. Yang penting untung besar, walaupun dengan menumpuk dosa-dosa yang kelak menuntut balas. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana seseorang tidak lagi mempedulikan apa yang didapatkannya, dari yang halal atau dari yang haram.” (HR. Bukhari)
  4. Lemahnya pengawasan orang-orang yang berwenang untuk melakukan pengawasan terhadap orang-orang yang berada di bawah tanggungjawabnya.
  5. Tidak adanya kesungguhan. Sebagian orang bermalas-malasan menyelesaikan tugas dan apa yang menjadi kewajibannya, saat semua itu harus ia pertanggungjawabkan, maka ia pun menutupinya dengan perbuatan curang. Seperti seorang murid yang malas belajar, saat datang masa ujian, ia pun berusaha berbuat curang agar bisa lulus ujian.
  6. Berteman dengan orang-orang yang suka berbuat curang dan selalu menuruti ajakan setan untuk berbuat curang.
  7. Lemahnya pendidikan yang ditanamkan sejak kecil di rumah atau di sekolah. Sering kali orang tua atau guru tidak memberi tindakan yang tegas saat anak atau muridnya berbuat curang, atau malah justru memberi contoh dengan melakukan kecurangan dihadapan anak atau murid di sekolah.
  8. Kurang percaya diri. Saat seseorang merasa dirinya tidak mampu bersaing dengan orang lain, maka tidak jarang ia akan melakukan kecurangan untuk menutupi kekurangannya.
  9. Sikap bergantung kepada orang lain dan malas menerima tanggung jawab.
  10. Tidak qanaah dan ridho dengan pemberian Allah.
  11. Tidak adanya sistem hukum yang efektif untuk membuat jera para pelaku kecurangan.
  12. Lalai dari mengingat kematian. Ini adalah faktor penyebab seluruh perbuatan maksiat dan terus-menerus dalam melakukannya.

Penutup

Berbuat curang sangat diharamkan. Termasuk dosa besar yang bisa menjerumuskan pelakunya kepada siksa pedih di neraka. Hasil daru kecurangan adalah keburukan dan kerusakan. Materi yang didapatkan dari menipu dan berbuat curang akan jauh dari keberkahan. Sehingga hati keras, jauh dari hidayah, berat untuk taat, dan cenderung kepada kemaksiatan dan dosa. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version