View Full Version
Senin, 15 Feb 2021

Ibuku Sembuh dari Sakit Parahnya, Bagaimana Caraku Bersyukur?

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam.  Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keuarga dan para sahabatnya.

Seorang anak bercerita, ibunya pernah sakit parah sehingga hanya bisa berbaring di tempat tidurnya. Sang anak berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menyembuhkan ibunya. Doanya terijabah. Ibunya sembuh dari sakitnya. Kondisinya sudah cukup baik. Ia bersyukur kepada Allah atas pengabulan doanya. Ia mencari tahu bagaimana cara dirinya bersyukur kepada Allah atas nikmat yang luar biasa ini?

Syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengakui nikmat-nikmat Allah adalah satu nikmat yang besar. Kedudukannya sangat mulia di sisi Allah Ta’ala. Tidak banyak orang yang bisa sampai kepada kondisi ini.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjanjikan kepada hamba-hambanya yang bersyukur dengan balasan dan tambahan nikmat,

وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu..”.” (QS. Ibrahim: 7)

Syukurnya kita kepada Allah, pada dasarnya, adalah niimat dari Allah kepada kita. Kita senantiasa butuh Allah; butuh karunia dan pertolongan-Nya. Semengtara Allah tidak butuh kepada kita dan tidak pula kepada syukur kita. Kita harus sadar bahwa hakikat syukur adalah merasa belum mampu benar-benar bersyukur. Karenanya, senantiasa berusaha mewujudkan kesyukuran sepanjang hayat.

Syukur kita kepada Allah harus melibatkan 3 komponen dalam diri. Pertama, hati. Caranya, dengan mengakui semua nikmat berasal dari Allah sehingga mencintai Allah dan ridha kepada-Nya. Kedua, lisan. Yaitu dengan memuji, menyanjung, menyebut nikmat-nikmat Allah dan menyandarkan semua nikmat kepada-Nya. Ketiga, anggota badan. Caranya, menggunakan nikmat untuk beramal shalih; menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Bukti nyata syukur adalah seseorang memanfaatkan semua nikmat Allah yang ada pada dirinya untuk mentaati Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mencari ridha-Nya. Tidak menggunakan nikmat untuk menyekutukan-Nya dan bermaksiat terhadap-Nya.

Bentuk syukur yang bisa dikerjakan atas kesembuhan ibu tadi, anak tersebut bersedekah kepada orang-orang miskin, membantu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang kekurangan; seperti membantu kaum muslimin yang tertimpa musibah dan bencana.

Sejumah ulama menerangkan, syukur itu berdiri di atas lima kaidah. Pertama, ketundukan orang yang bersyukur kepada Dzat yang disyukurinya; yaitu Allah. Kedua, mencintainya. Ketiga, mengakui nikmat-nikmat-Nya. Keempat, memuji dan menyanjung-Nya. Kelima, tidak menggunakan nikmat pada sesuatu yang Dia benci.

Inilah lima pondasi kesyukuran. Kelimanya harus ada untuk tegaknya kesyukuran. Hilang salah satunya akan runtuh kesyukuran. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version