View Full Version
Selasa, 05 Oct 2021

Tercela, Ilmu Tanpa Amal

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam.  Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Ilmu tidak bisa dipisahkan dari amal. Seperti pohon dengan buahnya. Ilmu adalah pohon, sedangkan amal adalah buahnya. Ada juga yang mengatakan bahwa ilmu adalah ayah sedangkan amal adalah anaknya. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Siapa yang berilmu namun tak beramal ia dicela dengan ilmunya. Demikian pula orang beramal tanpa ilmu maka ia dicela dengan kesesatannya. Karenanya, janganlah orang  ilmu merasa puas sehingga ia amalkan ilmunya. Sebagaimana pula orang beramal, janganlah ia puas dengan amalnya sehingga mendasarkannya kepada ilmu.

Ilmu disebut bermanfaat apabila ilmu tersebut diikuti amal. “Ilmu Nafi’ (ilmu yang manfaat) adalah ilmu yang diikuti amal,” tulis Syaikh Dr. Anis Ahmad Karzun di Adaab Thaalib al-Ilmi: 36.

Hendaknya seorang penuntut ilmu mengetahui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan ibadah kepadanya . Ibadah tidak bisa tegak kecuali dengan ilmu. Untuk kepentingan inilah dia menuntut ilmu. Karenanya, wajib baginya ikhlas dalam menjalani usaha ini. Ia lihat karunia Allah yang besar karena telah memberikan taufiq kepadanya untuk menuntut ilmu sebagai sarana untuk beribadah kepada-Nya; menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

“Kalau bukan karena amal maka tidak dicari ilmu dan kalau bukan karena ilmu maka tidak dituntut beramal,” tutur Al-Khathib al-Baghdadi dalam Iqtidha’ al-‘Ilmi al-‘Amal.

Karenanya, semata berilmu tanpa diikuti amal dicela dalam Al-Qur’an dan Sunnah. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Bani Israil,

فَنَبَذُوهُ وَرَاء ظُهُورِهِمْ

Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka.” (QS. Ali Imran: 187)

Sebagian ulama salaf menyebutkan, makna ayat di atas adalah mereka meninggalkan amal terhadap isi al-Kitab.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mencela orang-orang beriman yang suka berbicara namun tidak mengamalkan apa yang dikatakannya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Al-Shaff: 2-3)

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ  أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)

Allah berfirman tentang ahli kitab,

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Jumu’ah: 5)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini adalah celaan dari Allah terhadap orang-orang Yahudi. Mereka telah diberi Taurat dan menerimanya untuk mengamalkannya. Tapi mereka tidak mengamalkan isinya. Perumpamaan mereka dalam hal itu seperti keledai yang mengangkut tumpukan kitab yang tebal. Maksudnya seperti keledai yang mengangkut kitab-kitab dan tidak dia tidak tahu isi kitab tersebut. Keledai itu membawa fisik kitab, namun tidak tahu isi perintah yang harus dikerjakan. Demikian pula mereka, kaum Yahudi, mereka menerima kitab yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka menghafalkan lafadznya namun tidak memahami dan mengamalkan isinya. Bahkan mereka merubah tafsirnya dan maknanya serta merubah lafadz-lafadznya. Mereka itu lebih buruk daripada keledai. Sebabnya, keledai tidak punya akal untuk memahami. Sedangkan mereka punya akal normal namun tidak dipakai.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengisahkan peristiwa yang beliau temui di malam Isra’ dan Mi’raj. Diperlihatkan kepada beliau sekelompok orang yang menggunting bibir-bibir mereka dengan gunting neraka. Setiap kali robek maka kembali seperti semula. Beliau bertanya kepada Jibril ‘Alaihis Salam, “Siapa mereka itu?”

Jibril menjawab,

خُطَبَاءٌ مِنْ أُمَّتِكَ الَّذِينَ يَقُولُونَ وَلَا يَفْعَلُوْنَ، وَيَقْرَأُونَ كِتَابَ اللهِ وَلَا يَعْمَلُونَ

Mereka adalah pengkhutbah dari umatmu yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan, mereka membaca Kitabullah dan tidak mengamalkannya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari sahabat Anas bin Malik. Ini adalah hadits hasan)

Dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang lain,

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ مَا لَكَ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ فَيَقُولُ بَلَى قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

"Seseorang didatangkan pada hari kiamat kemudian dilemparkan ke neraka hingga ususnya terburai keluar dan berputar-putar dineraka seperti keledai mengitari alat penumbuk gandumnya, kemudian penduduk neraka bertanya: 'Hai fulan! Apa yang menimpamu, bukankah dulu kau memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran? ' Ia menjawab: 'Benar, dulu saya memerintahkan kebaikan tapi saya tidak melakukannya dan saya melarang kemungkaran tapi saya melakukannya'.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Manshur bin Syadzan pernah berkata, “aku diberi tahu bahwa ada sebagian orang yang dilemparkan ke neraka lalu semua penduduk neraka lainnya tersiksa dengan bau busuknya.”

Kemudian penduduk neraka bertanya kepadanya tentang amal yang membuat mereka semakin tersiksa dengan bau buruk yang bersumber darinya.

Ia menjawab,

إنِّي كُنْتُ عَالِمًا فَلَمْ اَنْتَفِعْ بِعِلْمِي

Sesungguhnya aku dulu adalah orang berilmu namun aku tidak mengamalkan ilmuku.” (HR. Ahmad dalam al-Zuhd, hal. 306)

Sesungguhnya ilmu yang sudah diperoleh seseorang kelak akan ditanya tentangnya. Karena itulah -wahai para penuntut ilmu- hendaknya kalian bertakwa kepada Allah dengan mengamalkan setiap ilmu yang sudah didapatkan.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah mengingatkan kepada kita semua bahwa kelak kita –orang yang telah mengetahui ilmu- akan ditanya di hari kiamat tentang ilmu yang sudah kita dapatkan, “apakah kamu sudah amalkan?”

Diriwayatkan dari Abu Barzah al-Aslamiy Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda,

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاه

“Dua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sehingga ia ditanyai: tentang umurnya, dalam hal apa dia habiskan; tentang ilmunya, dalam hal apa dia amalkan; tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan; dan tentang tubuhnya, dalam hal apa dia manfaatkan.” (HR. Al-Tirmidzi)

Seorang sahabat mulia yang dikenal dengan ketakwaan dan komitmennya terhadap Al-Qur’an dan Sunnah, yaitu Abu Darda’ Radhiyallahu 'Anhu, mengaku bahwa dirinya sangat takut kelak akan ditanya di hari kiamat, “kamu orang yang tahu ilmu atau orang bodoh?” Kemudian aku menjawab, “aku orang yang tahu berilmu, sehingga datanglah semua ayat-ayat perintah dan larangan dalam Kitabullah menanyaiku tentang kewajiban terhadapnya.”
“Ayat perintah datang menanyaiku ‘apakah kamu sudah mengerjakannya?’. Lalu datang pula ayat larangan dan menanyaiku, ‘apakah kamu sudah tinggalkan’, karenanya aku berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat,” tambahnya.

Beliau juga mengatakan,

لَا تَكُونُ عَالِمًا حَتَّى تَكُونَ مُتَعَلِّمًا ، وَلَا تَكُونُ بِالْعِلْمِ عَالِمًا حَتَّى تَكُونَ بِهِ عَامِلًا

Kamu tidak menjadi seorang ‘alim (berilmu) sehingga kamu menjadi pelajar, dan kamu tidak terhitung paham ilmu sehingga kamu amalkan ilmu itu.” (Akhlaq al-‘Ulama, Imam al-Ajuri: 57)

Suatu hari datang seorang remaja kepada Ibunda ‘Aisyah Radhiyallahu 'Anha untuk bertanya tentang ilmu. Lalu Ummul Mukminin mengajarinya satu hadits. Beberapa hari setelahnya remaja itu datang lagi dan bertanya tentang ilmu kepadanya. Kemudian Ibunda ‘Aisyah bertanya, “wahai anakku, apakah kamu sudah amalkan setelah engkau mendengar hadits dariku?”Ia menjawab, “tidak/belum wahai ibunda”. Beliau berkata kepadanya, “Wahai anakku, kenapa engkau memperbanyak hujjah atas kami dan kamu?” (Iqtidha’ al-‘Ilmi al-‘Amal: 60)

Sesungguhnya berkahnya ilmu itu dengan diamalkan. Demikian yang dilakukan generasi awal umat ini, mereka tidak belajar 10 ayat kecuali mereka segera mengamalkan isinya. Tidaklah mereka menambah ayat kecuali benar-benar sudah mengamalkan ayat-ayat sebelumnya. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version