

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji untuk Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Empat imam besar mazhab fikih Sunni adalah Abu Hanifah, Malik bin Anas, asy-Syafi‘i, dan Ahmad bin Hanbal. Mereka adalah para pendiri mazhab Hanafi, Maliki, Syafi‘i, dan Hanbali.
Mazhab-mazhab ini berlandaskan pada penggalian hukum syariat dari Al-Qur’an dan Sunnah. Sepanjang sejarah, jutaan umat Islam telah mengikuti mereka dalam memahami dan menerapkan syariat, meskipun juga terdapat mazhab-mazhab lain yang penyebarannya lebih terbatas.

Peta ini merupakan kesaksian hidup atas kesinambungan pembangunan fikih dalam umat Islam.
1. Imam Abu Hanifah an-Nu‘man (Mazhab Hanafi; w. 150 H) meletakkan dasar-dasar penalaran dan qiyas pada masa para tabi‘in, serta mengaitkan fikih dengan realitas yang terus berubah.
- Seorang ahli fikih dari Kufah, yang paling awal wafat di antara keempat imam, dan dijuluki “Faqih umat” (ahli fikih umat Islam).
2. Kemudian datang Imam Malik (Mazhab Maliki;w. 179 H) yang menjaga praktik penduduk Madinah, serta memadukan fikih dan hadits pada masa stabilnya periwayatan.
- Imam penduduk Madinah, guru Imam Syafi‘i, serta penulis kitab “Al-Muwaththa’.”
3. Selanjutnya Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i atau Imam Syafi‘i (Mazhab Syafi‘i; w. 204 H) memegang kendali fase berikutnya dengan meletakkan dasar ilmu ushul fikih dan menata hubungan antara nash dan ijtihad.
- Murid Imam Malik dan guru Imam Ahmad, peletak dasar ilmu ushul fikih, serta penulis kitab “Ar-Risalah
4. Lalu sempurnalah bangunan itu bersama Imam Ahmad bin Hanbal (Mazhab Han; w. 241 H), yang memperdalam fikih berbasis atsar dan meneguhkan kedudukan sunnah pada masa penuh ujian.
- Murid Imam Syafi‘i, imam ahli hadis, serta penulis kitab “Al-Musnad.”
Urutan kronologis ini menunjukkan bahwa mazhab-mazhab tidak lahir secara terpisah-pisah, melainkan terbentuk dalam satu jalur keilmuan yang saling berkesinambungan. Setiap imam membangun di atas capaian pendahulunya dan mengabdi kepada syariat dari sudut pandang saling melengkapi, bukan saling bertentangan.
Memahami kesinambungan ini memberikan kepada penuntut ilmu fikih wawasan yang lebih mendalam tentang mazhab, serta membebaskannya dari pembacaan sejarah fikih yang terpotong-potong. [PurWD/voa-islam.com]