View Full Version
Sabtu, 22 Feb 2020

Cawagub DKI, Kenapa PKS Memilih Riza Patria Bukan yang Lain?

 

Oleh:

Tony Rosyid

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

 

ADA empat calon yang ditawarkan Gerindra ke PKS: Ahmad Riza Patria, Ferri Joko Yuliantono, Arnes Lukman dan Saefullah. Dua kader partai yaitu Ahmad Riza Patria dan Ferri Joko Yuliantono, satu pengusaha yaitu Arnes Lukman, dan satu lagi pejabat yaitu Saefullah yang saat ini menjabat sebagai sekda DKI.

Katanya jatah PKS, kok diambil lagi oleh Gerindra? Sudahlah, lupakan. Cukup jadi catatan sejarah. Terutama bagi kader dan simpatisan PKS. Kapok bersekutu dengan Prabowo, kata mereka. Sakit banget dua kali dikhianati, keluhnya lagi. Cukup! Politik gak boleh baper.

Dari empat nama itu, PKS Memilih Ahmad Riza Patria. Ini pilihan realistis, sekaligus ideologis. Realistis, karena jika yang maju Riza Patria, PKS masih punya peluang untuk mengalahkannya. Meski berat, peluang itu tetap ada. Dalam politik, seringkali hal tak terduga terjadi.

Jika hitung jumlah suara, Gerindra punya 19. Hampir pasti mendapat dukungan 25 suara dari PDIP. Jumlahnya sudah 44 suara. Untuk menang, angka aman adalah 54 suara dari 106 total suara di DPRD DKI. Hanya butuh10 suara tambahan. Belum lagi delapan suara PSI jika ikut gabung bersama PDIP. Jauh lebih ringan kinerja politiknya jika dibandingkan dengan PKS yang hanya punya 16 suara.

PKS minta pemilihan tertutup. Kok tertutup? Itu berpotensi money politics, kata Taufiq dari Gerindra. Intinya, Gerindra keberatan. Tapi PKS ngotot. Akhirnya diputuskan pemilihan Wagub DKI tertutup. Deal!

Kenapa PKS minta tertutup? Dengan pemilihan tertutup, setiap anggota DPRD lebih bebas memilih, dan ada peluang untuk nyebrang fraksi. Kader Gerindra dan PDIP masih bisa memilih cawagub dari PKS yaitu Nurmansjah Lubis tanpa beban, karena tertutup. Dengan pemilihan tertutup, PKS bisa bergerilya untuk mengambil suara dari partai-partai lain, termasuk dari Gerindra dan PDIP.

Peluang untuk mengambil suara dari PDIP relatif lebih sulit dibanding dari partai yang lain. Kader PDIP biasanya lebih solid. Instruksi, dan terutama ancaman dari DPP, sangat kuat pengaruhnya terhadap kader. DPP PDIP tak segan PAW-kan anggota DPR/DPRD yang tak loyal. Bahkan juga memecatnya. Dan ini jarang terjadi untuk partai-partai yang lain.

Disamping itu, Riza Patria juga gak banyak duit. Jadi, masih bisa diajak berkompetisi secara fair. Coba kompetitornya adalah Arnes Lukman atau Saefullah. Berat! Kompetisi politik di negeri ini hampir selalu dimenangkan dengan kekuatan kapital. Emang Riza Patria gak ada bohirnya? Itu yang publik belum tahu. Yang berkepentingan terhadap Riza Patria, pasti banyak. Ini Jakarta bro! APBD-nya 87,95 triliun. 60 persen perputaran uang Indonesia ada di Jakarta.

Secara ideologis, Riza Patria dianggap lebih dekat dengan umat. Putra Kyai Amidan, sesepuh ulama kharismatik dan salah satu mantan ketua MUI Pusat. Jadi, jika Riza Patria pun yang menang, PKS gak ada beban dengan kader dan konstutuennya. Masih ada alasan bahwa back ground Riza Patria beririsan dengan kader, pemilih dan simpatisan PKS. Dari sini kepentingan ideologis PKS dianggap masih berpeluang untuk diakomodir.

Siapapun yang akan jadi Wagub DKI mesti pertama, bisa kompak dengan – dan melengkapi kinerja–gubernur. Kedua, bekerja untuk warga Jakarta. Bukan sebagai petugas partai, tapi sebagai pelayan rakyat, khususnya warga DKI. Itu saja yang jadi harapan rakyat.*


latestnews

View Full Version