View Full Version
Sabtu, 22 Feb 2020

Panggilan Jiwa Kaum Jurnalis

 
 
Oleh:
Hafis Azhari
Penulis novel "Pikiran Orang Indonesia" dan "Perasaan Orang Banten"

 

SALAH satu film terbaik tentang kehidupan para jurnalis Amerika garapan Steven Spielberg adalah "The Post" (2018). Pemeran utama film tersebut adalah Kay Graham (Meryl Streep), penerbit wanita The Washington Post yang berambisi membuka dokumen rahasia pemerintah “Pentagon Papers”, hingga menimbulkan polemik yang kian meruncing antara hubungan media dan kebijakan-kebijakan pemerintah Amerika Serikat.

Film tersebut dilansir banyak pengamat dan sejarawan Amerika sebagai film paling berani yang pernah digarap Spielberg. Bahkan di kalangan jurnalis semakin bermunculan statemen yang menjuluki film tersebut sebagai perlawanan yang serius antara kalangan budayawan dan jurnalis, dengan kaum politisi dan penguasa Amerika hingga saat ini, Ketika menggarap film The Post, Spielberg rela meninggalkan dua film yang lebih dulu digarapnya sejak tahun 2017 lalu, di antaranya Indiana Jones 5 dan The Kidnapping of Edgardo Mortara.
 
The Post mengungkap secara gamlang bagaimana ketertarikan seorang editor Ben Bradlee (Tom Hanks) yang pada akhirnya memilih bergabung dengan The Washington Post (1971) justru pada saat harian itu mengalami polemik yang makin meruncing dengan pihak pemerintah. Sejarah Amerika yang sangat kontroversial itu berkaitan erat dengan peran pemerintah Amerika dalam penggulingan Presiden Soekarno di Indonesia, yang pernah diluncurkan oleh penerbit Hasta Mitra Jakarta, dalam buku berjudul “Dokumen CIA (Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G30S 1965)”.
 
Dokumen rahasia yang memuat data-data intelijen itu sempat dibuka selama beberapa jam di situs pemerintah Amerika Serikat (2001). Namun kemudian, ditarik kembali karena pertimbangan keamanan dalam hubungan bilateral AS dan Indonesia. Selama tampil dalam beberapa jam tersebut, penerbit Hasta Mitra, Joesoef Isak berhasil mengontak para editor Hasta Mitra untuk turut-serta mendownload kelengkapan naskahnya. Sampai akhirnya, transkrip yang banyak didominasi laporan telegram kedutaan AS di Jakarta kepada State Department (Deplu AS) mengungkap secara gamlang apa isi kepala, bahkan apa isi perut para penguasa Indonesia yang tampil setelah kepemimpinan Presiden Soekarno (pasca 1965).
 
Begitupun makalah Pentagon yang diungkap dalam film The Post, telah berhasil mengungkap peristiwa-peristiwa tragis di medan pertempuran (Vietnam), saat penguasa Amerika seenaknya mengorbankan ribuan militer, termasuk ribuan warga sipil yang dikenakan wajib militer, telah dipelintir sedemikian rupa oleh pernyataan-penyataan politik pemerintah, serta dipublikasikan oleh harian-harian Amerika secara apa adanya.
 
Bagi Kay Graham (Meryl Streep), akal sehatnya sebagai jurnalis senior, sudah melampaui wawasan politik pemerintah yang seringkali sibuk dengan pernyataan-pernyataan politis melulu, dan bukan pernyataan ilmiah. Kay Graham menolak pemikiran yang konvensional semacam itu. Karenanya, film ini mendapat kritikan pedas dari surat kabar-surat kabar lainnya yang merasa tidak dilibatkan, seperti New York Times, hingga majalah sekaliber Time.
 
Kritikan-kritikan sengit dari berbagai pihak adalah ujian berat bagi Spielberg sang sutradara. Tapi pada prinsipnya, hasil karya cipta sineas tak ubahnya dengan karya sastra yang bisa saja Anda tidak setuju oleh tindakan yang dilakukan satu tokoh, atau boleh jadi Anda kurang puas dengan penampilan setting lokasi yang direkayasa penulis, namun semuanya itu bukanlah mencerminkan keseluruhan isi cerita. Ada pesan moral yang paling utama, dan mencerminkan integritas dalam rangkaian suatu cerita yang dipaparkan. Karena itu, dalam istilah literasi, ada ungkapan bijak bahwa kekeliruan satu huruf akan tenggelam oleh satu kata. Kekeliruan satu kata akan tenggelam oleh peran satu kalimat. Dan kekeliruan satu kalimat pun bisa tenggelam oleh peran satu paragraf dan seterusnya.
 
Salah satu alasan terpenting bagi Spielberg untuk segera menyelesaikan film “The Post” lantaran banyak harian dan majalah Amerika dibanjiri oleh perdebatan publik dalam wacana dan artikel mengenai film “Spotlight” setelah kemenangannya di ajang Academy Award tahun 2016 lalu. Film kontroversial yang disutradarai Tom McCarthy tersebut, menggambarkan keteguhan perjuangan para wartawan “The Boston Globe”, suatu harian lokal yang berhasil membongkar skandal menghebohkan mengenai hasrat biologis seorang pastor, John Geoghan sebagai tertuduh atas kasus pelecehan seksual terhadap 80 anak di bawah umur.
 
Dalam setahun penyelidikannya, tim Spotlight berhasil menyingkap tabir-tabir gelap yang disusun dalam kesatuan mata-rantai data dan fakta akurat, yang selama ini dianggap tabu oleh Vatikan sebagai institusi raksasa, simbol dari organisasi keagamaan dengan hirarki yang sangat ketat.
 
Kreativitas dan sikap independen para jurnalis, juga digambarkan secara jelas dalam film The Post. Nilai-nilai humanitas yang menantang para jurnalis agar tak mudah terjebak kepada mental pragmatisme. Juga tidak serta-merta memihak suatu klik kepentingan partai dan golongan tertentu, merupakan pilihan hidup yang akan menentukan historia, dan akan membentuk perjalanan hidup jurnalis dalam posisinya di medan mahkamah sejarah.
 
Apakah seorang jurnalis akan tetap konsisten menjaga kredibilitasnya di tengah kepungan kepentingan politis yang membuat derajatnya terangkat sebagai manusia bermartabat, ataukah akan menggadaikan hidup laiknya politisi yang terperosok ke dalam kasus suap, korupsi maupun narkoba. Siapa yang menduga bahwa tokoh-tokoh penting dalam perpolitikan kita, di saat ratusan spanduk dan baliho masih menampilkan wajah-wajah sumringah di perempatan jalan-jalan protokol, dalam hitungan jam harus diturunkan secara paksa tanpa adanya agenda politik yang direncanakan kekuasaan manusia?
 
Para jurnalis dalam “The Post” paham betul akan otoritasnya hingga tidak terkecoh memasuki hal-hal yang tidak substantif di luar wilayah riset dan penelitian untuk menyingkap dokumen rahasia Pentagon tersebut. Tentu saja berbagai cobaan dan rintangan yang dihadapi Kay Graham, mengantarkan ia kepada pilihan dilematis sebagai penerbit wanita pertama di negeri adikuasa tersebut.
 
Meski demikian, pihak pemerintah takut untuk bertindak sewenang-wenang dengan mengorbankan Kay, karena mengandung konsekuensi logis pada penyerangan terhadap institusi kewartawanan. Di tengah degradasi moral yang melanda kaum politikus, Kay menyadari bahwa tugas jurnalistik adalah bagian dari amanat Tuhan, yang harus bertanggungjawab menyuarakan pesan-pesan ilahiyah dalam mengungkap fakta dan kebenaran.
 
Di sinilah etos kerja kaum jurnalis dipertaruhkan. Keberanian untuk mengungkap kebenaran demi keadilan merupakan “panggilan jiwa” yang sudah melampaui formalitas agama yang seringkali bicara di wilayah teks harfiyah melulu. Para wartawan “The Post” yang berpijak pada fatwa-fatwa jurnalisme, telah berani menyatakan yang benar sebagai kebenaran, berdasarkan tesis, data dan pernyataan ilmiah, hingga melampaui pernyataan-pernyataan politik yang seringkali dibikin-bikin kaum penguasa.*

latestnews

View Full Version