View Full Version
Sabtu, 17 Oct 2009

Hikmah Dibalik Musibah

Alhamdulillah Washolaatu Wassalaamu Alaa Rasulillah Wa Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalahu Waba du :

Ikhwati fillah, sudah menjadi ketetapan Allah Taalaa dalam sunah kauniyahNya bahwa siapa saja yang menghendaki kesuksesan dan kejayaan terlebih dahulu harus menempuh ujian dan rintangan sehingga terbukti apakah orang tersebut memang layak untuk mendapatkannya.

Sebagai contoh seorang murid sekolah, apabila ingin lulus dan berhasil maka harus menempuh beberapa test, baik itu ulangan harian, ulangan semester, ujian akhir dsb.

Begitu pula orang yang melamar sebuah pekerjaan, tentunya akan menghadapi beberapa macam test untuk mengetahui apakah dia memang layak menempati posisi dalam pekerjaannya atau tidak.

Inilah sunatullah yang berjalan dimuka bumi yang mahu tidak mahu harus dihadapi oleh setiap orang yang menghendaki kejayaan sehingga seorang penyair arab mengatakan :


تريدين لقيان المعالي رخيصة        ولابد دون الشهد من إبر النحل

Engkau menghendaki ketinggian dengan harga murah ?   
Orang yang ingin mendapatkan madu yang bagus harus rela tersengat jarum lebah.
Penyair yang lain mengatakan :


ترجو النجاة ولم تسلك طريقها        إن السفينة لا تجري على يبس

Engkau mengharapkan keselamatan namun tidak menempuh jalannya ?
Sesungguhnya kapal tidak berjalan didaratan.

Jadi ujian dan rintangan dalam kehidupan tidak bisa terelakkan, baik mukmin maupun musyrik, muslim maupun kafir, shalih maupun thalih, semuanya akan diuji oleh Allah Taalaa.


Apalagi yang mengaku beriman, maka akan senantiasa mendapatkan ujian untuk membuktikan seberapa jujur dakwaan keimanan mereka, ibarat emas semakin banyak disepuh maka akan semakin bagus kualitasnya, hal ini sebagaimana firman Allah Taalaa :


)) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ((

Artinya : 2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? [Al Ankabut : 2]

Ibnu Katsir berkata : dan ayat ini bermakna bahwa Allah Subhanahu wa Taalaa mesti menguji hamba-hambaNya yang beriman, tergantung keimanan yang mereka miliki, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits yang shahih :


 عن سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :" أشد الناس بلاء الأنبياء ، ثم الأمثل فالأمثل ، يبتلى الرجل على حسب ( و في رواية : قدر ) دينه ، فإن كان دينه صلبا اشتد بلاؤه و إن كان في دينه رقة ابتلي على حسب دينه ، فما يبرح البلاء بالعبد حتى يتركه يمشي على الأرض ما عليه خطيئة”

Artinya : dari Saad bin Abi Waqqash radhiallahu anhu bahwa Nabi shallawahu alaihi wasallam bersabda :(( manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, lalu yang semacamnya dan semacamnya, seseorang diuji sesuai kadar keimanannya, apabila teguh dalam keimanannya maka ujiannya bertambah berat, apabila lemah dalam keimanannya maka diuji sesuai kadar keimanannya, ujian terus menerus menimpa seorang hamba sampai meninggalkannya berjalan dimuka bumi dalam keadaan bersih dari kesalahan ))
HR Imam Turmudzi dan dishahihkan Syaikh Albani dalam Silsilah Shahihahnya 1/225.


Dan ayat ini seperti firman Allah Taalaa :


{أم حسبتم أن تتركوا ولما يعلم اللّه الذين جاهدوا منكم ويعلم الصابرين}

Artinya : 142. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. [ Ali Imran : 142 ]
Dan juga dalam firmanNya :


 {أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يأتكم مثل الذين خلوا من قبلكم مستهم البأساء والضراء وزلزلوا حتى يقول الرسول والذين آمنوا معه متى نصر اللّه ألا إن نصر اللّه قريب}

Artinya : 214. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.

Oleh karenanya Allah Mengatakan sesudahnya :


{ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن اللّه الذين صدقوا وليعلمن الكاذبين}

Artinya : 3. Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Yakni orang-orang yang jujur dalam dakwaan iman mereka dari mereka yang dusta dalam perkataan dan dakwaannya. [ Tafsir Ibnu Katsir ]

Jadi yang terpenting bukanlah kita mengetahui adanya ujian atau musibah yang menimpa kita namun hikmah apa yang tersembunyi dibaliknya ?

Ada satu kaidah yang sangat penting : segala sesuatu yang terjadi adalah karena kehendak Allah, dan segala sesuatu yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan kehendak Allah berkaitan dengan hikmah yang mutlak, dan hikmah yang mutlak tersebut berkaitan dengan kebaikan yang mutlak.

Diantara hikmah yang dapat diambil dari musibah yang menimpa adalah :

1-    Kepedihan dan kesengsaraan yang dirasakan dalam musibah sebagai ujian bagi kesabaran orang mukmin sebagaimana Allah Taalaa berfirman :


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.


156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[101].


157. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

[101] Artinya: Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.

Jadi dalam menghadapi musibah manusia terbagi menjadi dua bagian: sebagian bersabar dan sebagian mengeluh, barangsiapa mengeluh maka dia rugi karena telah mendapat musibah yang tidak mungkin dihindari serta mendapat murka Allah. Sedangkan yang bersabar maka pahala Allah baginya tidak terhingga, serta balasan lain yang menanti orang yang sabar.


2-    Sebesar apapun musibah yang menimpa kita maka kita harus yakin bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat diatas membawakan satu riwayat dari Ummu Salamah radhiallahu anha bahwa ketika beliau ditinggal oleh suami tercinta Abu Salamah lalu setelah mengucapkan istirja beliau berdoa : (( Ya Allah berilah pahala atas musibahku, dan gantilah yang lebih baik darinya )), maka Allah Mengkabulkan doanya dengan Rasulullah shallawahu alaihi wasallam.

3-    Musibah menunjukkan lemahnya manusia, dan fakirnya dia kepada Rabbnya dan tidak ada keberuntungan kecuali dengan menghinakan diri dihadapan Rabbnya.sebagaimana Allah Taalaa berfirman :


يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15)

Artinya : 15. Hai manusia, kamulah yang (faqir)berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.
Dalam ayat lain :


يَا أَيُهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ (73)

Artinya : 73. Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, Maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, Tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan Amat lemah (pulalah) yang disembah.

Syaikh Saadi berkata : Inilah perumpamaan yang diberikan Allah menunjukkan buruknya peribadahan kepada berhala, dan kurangnya akal yang menyembahnya, serta lemahnya penyembah dan yang disembah.( Tafsir As sadi).

4-    Musibah sebagai sebab penebusan dosa dan diangkatnya derajat hamba sebagaimana sabda Rasulullah shallawahu alaihi wasallam :


عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ حَتَّى الشَّوْكَةِ تُصِيبُهُ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً أَوْ حُطَّتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ

Dari Aisyah radhiallahu anha berkata : aku mendengar Rasulullah shallawahu alaihi wasallam bersabda : (tidak ada satu musibahpun yang menimpa seorang mukmin meskipun hanya duri yang menusuknya melainkan Allah menuliskan untuknya satu kebaikan atau dihapuskan dengannya kesalahan ) HR Imam Muslim 2572.

Juga dalam sabda beliau :


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata : Rasulullah shallawahu alaihi wasallam bersabda : (musibah senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya anaknya dan hartanya sampai dia bertemu Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan )
HR Turmudzi (2399)dan beliau berkata hadits hasan shahih.


عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يُعْطَى أَهْلُ الْبَلَاءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُودَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِي الدُّنْيَا بِالْمَقَارِيضِ

 

Dari Jabir berkata : (Rasulullah shallawahu alaihi wasallam bersabda : pada hari kiamat ketika orang yang tertimpa musibah diberi pahala(karena musibahnya) orang yang sehat ingin seandainya kulit mereka ketika didunia dicabut dengan tang ) HR Turmudzi (2404) lihat Silsilah Shahihah no: 2206.

5-    Diantara hikmah dari musibah supaya kita tidak condong kepada dunia, seandainya dunia tidak ada musibah tentunya semuanya akan condong kepada dunia dan lebih mencintainya serta melalaikan akhirat, jadi adanya musibah didunia membangunkan kita dari kelalaian supaya kita beramal untuk akhirat yang tidak ada ujian dan musibahnya.

6-    Dalam musibah Allah Taalaa ingin memberi peringatan dan teguran supaya kita yang banyak melalaikan kewajiban atau melanggar larangan untuk segera sadar dan bertaubat serta menyempurnakan kewajiban yang kita lalaikan sebagaimana firman Allah Taalaa :



وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ (42) فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (43) فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (44)

42. Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.

43. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun Menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.

44. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.[ Al Anam:42-44]

Syaikh Saadi rahimahullah berkata : yakni sungguh telah kami utus kepada umat-umat sebelummu lalu mereka mendustakan para Rasul Kami dan mengingkari ayat-ayat kami, maka Kami siksa mereka dengan kefakiran, penyakit, dan musibah sebagai rahmat bagi mereka supaya mereka memohon kepada Allah dengan kerendahan diri ketika ditimpa kesulitan.

7-    Bahwa Ibadah yang dikerjakan diwaktu kesempitan dan fitnah memiliki nilai khusus dan pahala khusus.



عن مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍأن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ.

Dari Maqil bin Yasar bahwa Nabi shallawahu alaihi wasallam bersabda : ( Ibadah diwaktu fitnah seperti hijrah kepadaku ) HR Imam Muslim :2948.

Imam Nawawi rahimahullah berkata: yang dimaksudkan dengan haraj disini adalah fitnah dan bercampurnya urusan manusia, dan sebab banyak keutamaan ibadah diwaktu itu karena manusia dalam keadaan lalai, tidak ada yang bersungguh-sungguh kecuali hanya sebagian kecil manusia saja.

8-    Kenikmatan yang didapat setelah kesakitan, kesulitan, serta musibah lebih bernilai bagi manusia, sehingga manusia sangat menyadari nilai kenikmatan Allah atasnya dalam keadaan sehat walafiat, dan dapat menghargainya dengan sebenar-benarnya.

9-    Diantara hikmahnya supaya kita selalu mengingat kenikmatan yang diberikan Allah Taalaa, karena manusia yang diciptakan dalam keadaan melihat contohnya terkadang melupakan kenikmatan melihat dan tidak menghargainya dengan sebenar-benarnya, lalu jika Allah Taalaa mengujinya dengan kebutaan sementara kemudian kembali lagi penglihatannya baru dia merasakan nilai kenikmatan ini, jadi nikmat yang berterusan kadang-kadang melalaikan manusia sehingga tidak mensyukurinya.

10-    Diantara hikmahnya untuk mengungkap hakikat manusia dan memilih mana yang baik mana yang buruk diantara mereka, mana yang jujur ataupun dusta, mana yang mukmin ataupun munafik sebagaimana Allah Taalaa Menceritakan ketika kaum muslimin mendapatkan kekalahan dalam perang Uhud dalam firmanNya:



{ما كان الله ليذر المؤمنين على ما أنتم عليه حتى يميز الخبيث من الطيب{

Artinya : 179. Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam Keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). [ Ali Imran :179]

11-    Diantara hikmahnya ketika kita mendapatkan kenikmatan janganlah kita terlalu bangga dan senang apalagi menisbatkannya kepada diri sendiri, karena kita berhak atau layak menerimanya, serta menggunakannya secara berlebih-lebihan apalagi kalau sampai melanggar aturan Allah Taalaa. Sedangkan ketika ditimpa musibah kita putus asa dari rahmat Allah Taalaa dan berburuk sangka kepadaNya.
Allah Taalaa berfirman :



}مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْ لَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23){

Artinya : 22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
23. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, [Al Hadid : 22-23]

Dan masih banyak lagi hikmah yang bisa kita dapatkan dari musibah yang menimpa kita yang semuanya merupakan kehendak Allah Taalaa yang mengandung kebaikan hambanya baik didunia dan akhirat.


Wallahu alam bishowab


latestnews

View Full Version